BALI EXPRESS, TAMPAKSIRING - Banyak misteri terdapat di Pura Pucak Manik Ukir yang berada di sebuah bukit di Desa Bukit, Tampaksiring, Gianyar. Mulai dari soal obat, kulkul hingga suara genta.
Dalam satu areal bukit di Desa Bukit, Tampaksiring, Gianyar, ada tiga pura, yakni Pura Taman Sari, Pura Pucak Legauh, dan Pura Pucak Manik Ukir. Pemangku Pura Pucak Manik Ukir, Jero Mangku I Ketut Sujendra mengatakan, nama Pucak Manik Ukir berawal dari tempatnya yang berada di sebuah puncak terletak di Desa Bukit.
"Manik adalah inti, sedangkan Ukir adalah gunung. Sehingga pura tersebut merupakan inti dari sebuah gunung yang ada di Desa Bukit," terang pria 35 tahun ini kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya, Desa Bukit, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, pekan kemarin.
Jika terjadi kapiambeng (musibah) di persawahan dan tegalan, lanjutnya, warga pasti nunas ica (mohon keselamatan) dengan cara menghaturkan banten, dilanjutkan dengan nunas tirta untuk menghilangkan segala macam mala yang menyerang. “Biasanya dilaksanakan sekalian dengan pelaksanaan biyu kukung di sawah. Krama desa akan datang ke pura untuk magpag toya atau tirta,” papar Jero Mangku Sujendra.
Pura Pucak Manik Ukir terdiri atas tiga mandala. Sama seperti pura pada umumnya, namun yang membedakan di areal bukit tersebut terdapat beberapa pura yang diamong oleh pamaksan. Pada jaba sisi pura terdapat wantilan yang teretak di bawah pura. Sedangkan pada jaba tengah terdapat Pura Dalem Gelgel, Pura Penataran Dalem Pamayun, kemudian di atasnya baru Pura Pucak Manik Ukir.
Pura Penataran dan Pura Pucak Manik Ukir diamong oleh 78 kepala keluarga yang ada di Desa Bukit. Sedangkan Pura Dalem Gelgel, merupakan pura dadya yang diamong oleh 40 krama saja. Dikatakannya, dalam prosesi pujawali pada Buda Manis Medangsia tidak boleh dipuput oleh Sulinggih, harus dipuput oleh jero mangku sendiri, karena di pura tersebut sudah terdapat Brahmana Niskala.
Maksudnya, sudah ada seorang Brahmana yang secara niskala muput semua jenis upacara melalui pemangku. Terlebih genta dan sarana sulinggih lainnya sudah lengkap ada di sana.
“Semua itu dipercayai oleh masyarakat karena warga sering mendengar suara genta saat isian. Suara genta ketika dicari maka akan tertuju pada Pura Pucak Manik Ukir, tepatnya di palinggih Brahama Tan Hana. Suara genta tersebut juga tanda sasuhunan yang ada di sana tedun,” paparnya.
Kejadian tersebut sering ia alami sejak kecil hingga sampai duduk di bangku SMA. Jero Mangku Sujendra mengaku sering mendengar dengan nyata suara genta itu.
"Semua itu sampai sekarang masih terjadi, terutama saat rerahinan. Bahkan warga setempat sangat hafal ketika sudah pukul 12.00, pasti suara genta berbunyi dari arah bukit," bebernya.
Menurut Jero Mangku Sujendra, semua sasuhunan yang ada di Pura Pucak Bukit Ukir memberikan isyarat kepada panjaknya.
“Kemungkinan suara genta itu tedun supaya panjaknya di sini tidak semena-mena beraktivitas ke sana. Karena perbukitan sangat dijaga kesucian dan kesakralannya ,” urainya.
Editor : I Putu Suyatra