Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Phallus Dewa Gede Celak Kontong;USG Perempuan, Lahirnya Laki-laki

I Putu Suyatra • Minggu, 7 Januari 2018 | 19:50 WIB
Phallus Dewa Gede Celak Kontong;USG Perempuan, Lahirnya Laki-laki
Phallus Dewa Gede Celak Kontong;USG Perempuan, Lahirnya Laki-laki

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Tidak ada prasasti maupun lontar yang merujuk tentang Palinggih Dewa Gede Celak Kontong di Desa Kayu Putih, Kecamatan Banjar, Buleleng. Hanya saja, keberadaan Palinggih Dewa Gede Celak Kontong secara turun temurun begitu diyakini jika phallus yang menyerupai Lingga dan Yoni tersebut dipuja untuk memohon kesuburan dan panen berlimpah.


 


 


Dinas Purbakala Provinsi Bali disebut Jero Mangku Kubayan Mesin, hampir setiap tahun tercatat melakukan pengecekan terhadap keberadaan phallus Dewa Gede Celak Kontong yang diduga ada sejak 4000 tahun silam. Phallus yang memiliki ukuran panjang sekitar 25 cm dan bergaris tengah sekitar 10 cm rutin dicek kondisi fisiknya. Meski berkali-kali diukur, hingga kini hasil pengukuran dan pengecekan tersebut jarang diinformasikan kepada warga.


Maka, sebagai wujud tanggung jawab terhadap peninggalan masa prasejarah tersebut, pihak Purbakala Provinsi Bali ikut melakukan renovasi palinggih Dewa Gede Celak Kontong sekitar Tahun 1995 silam. Pelinggih pun dibuat dengan ukiran khas Bali, yang memiliki ketinggian mencapai 4 meter dan lebar sekitar 2 meter. Di dalamnya dibuat lubang sebagai tempat penyimpanan phallus dan lesung.


“Meski hampir tiap tahun diukur, namun hasil pengukuran terhadap Phallus Dewa Gede Celak Kontong yang dilakukan pihak Purbakala jarang diberitahukan kepada warga di sini. Biasanya hanya diukur saja, kondisinya dicek secara berkala. Kami pun tidak tahu, apakah tetap atau berubah bentuknya. Mereka saja yang tahu. Hanya saja saat mau diukur tersebut kami dari pemangku tetap mendampingi melalui prosesi matur piuning,” ungkap Mangku Kubayan Mesin yang ngayah sejak tahun 2002 tersebut.


Mangku Kubayan menambahkan jika pujawali di Pura Desa dilangsungkan secara bersamaan dengan Phallus Dewa Gede Celak Kontong. Pujawali dilaksanakan setiap enam bulan sekali, tepatnya Rahina Tumpek Landep. Tidak ada pemujaan khusus terhadap Dewa Gede Celak Kontong. Masyarakat tetap melakukan persembahyangan secara umum saat pujawali berlangsung, dengan sarana upakara pada umumnya.


Sedangkan pujawali yang datangnya setiap lima tahun sekali dilaksanakan bertepatan dengan Purnama kedasa, di Pura Desa Kayu Putih. Palinggih Dewa Gede Celak Kontong pun ikut katuran (diupacarai). Masyarakat pun begitu antusias menyaksikan ritual dibasuhnya phallus tersebut dan rela menunggu prosesi lima tahunan hingga jelang pagi hari.


“Setiap lima tahun yang bertepatan rahina Purnama Kedasa ada upacara Ngaci Ngusabha Nini dan Ngusabha Desa. Pada saat itulah Phallus Dewa Gede Celak Kontong dibasuh dan disucikan tepat pukul 12 malam oleh krama subak. Air yang dipakai untuk membasuh Dewa Gede Celak Kontong tersebut disebut Tirta Bebaret. Kemudian Tirta Wangsuhpada atau Tirta Bebaret tersebut dibagikan kepada masyarakat yang berprofesi sebagai petani di subak Desa Kayu Putih dengan memercikkan ke areal persawahan maupun perkebunan agar diberikan kesuburan dan panen yang berlimpah,” ujar Mangku Kubayan.


Disebutkan Mangku Kubayan jika Krama Subak di Desa Kayu Putih memiliki kisah yang menarik terkait keberadaan Dewa Gede Celak Kontong, dalam hal pemujaan untuk memohon kesuburan. Kejadiannya sekitar tahun 1950-an. Saat itu krama subak sedang mengalami gagal panen lantaran sedang dilanda musim kemarau, curah hujan pun nyaris tidak ada. Bahkan dengan jangka waktu yang lama. Sawah mengering, tanah retak, hingga mengakibatkan kelaparan.


Subak pun melakukan berbagai upaya seperti membuatkan upacara dan persembahan sesajen terhadap Dewa Gede Celak Kontong, dengan maksud agar diberikan hujan sehingga mereka bisa bercocok tanam kembali. Namun setelah beberapa kali melakukan pemujaan tersebut, hujan yang dinanti-nanti belum turun juga. Kemarau panjang masih melanda.


Di tengah keputusasaan krama subak, akhinya dikatakan Mangku Kubayan muncullah ide konyol sebagai bentuk keputusasaan. Di sisi lain, krama subak ingin menguji apakah benar Dewa Gede Celak Kontong sakti dengan menunjukkan kekuatannya untuk merubah nasib petani dengan memberikan hujan, sehingga sawah dan kebun mereka kembali bisa menghasilkan.


“Usai dibuatkan banten, kemudian phallus Dewa Gede Celak Kontong dipendak, lalu phallus  tersebut direndam di air empelan (tempat pembagian air subak) semalaman hingga basah. Setelah itu phallus kembali diangkat kemudian dilinggihkan (distanakan) di tempat semula. Ternyata benar saja, phallus Dewa Gede Celak Kontong itu bertuah. Esok harinya hujan terjadi begitu lebat. Saking lebatnya, empelan yang dibuat petani untuk membagi air jebol akibat tak mampu menahan besarnya debit air hujan. Sejak itulah, Dewa Gede Celak Kontong semakin diyakini kekuatannya oleh petani,” terang Mangku Kubayan.


Kebertuahan phallus Dewa Gede Celak Kontong tak berhenti di sana. Dikatakan Jero Mangku Kubayan bila dulu ada kisah seorang warga di Desa Kayu Putih begitu mendambakan untuk memiliki keturunan laki-laki di kehamilan keduanya. Padahal setelah di-USG, ternyata menunjukkan jenis kelamin perempuan.


“Warga tersebut tidak putus asa. Hingga akhirnya ia minta petunjuk seorang paranormal. Oleh paranormal, wanita yang sedang hamil kemudian diarahkan untuk nunas paica dari phallus Dewa Gede Celak Kontong. Ajaibnya saat lahir, bayi tersebut ternyata berjenis kelamin laki-laki sesuai permohonannya. Kejadian itu memang di luar logika, mengingat saat di-USG bayi menunjukkan jenis kelamin laki-laki,” ungkap Mangku Kubayan.


Lantas, mengapa phallus Dewa Gede Celak Kontong begitu identik dengan sosok yang disebut Kubayan? Dikatakan Mangku Kubayan Made Mesin, jika peranan Ki Kubayan adalah sebagai pemimpin ritual atau Pemangku dalam pemujaan kesuburan. Maka hal itu tampaknya juga yang menyebabkan Phallus sebagai lambang Saiwa dan sekaligus lambang Ki Kubayan.


“Hingga kini, sudah ada generasi ke-13 dari Kubayan. Saya salah satunya yang ngayah di sini sejak 2002, memiliki tugas khusus untuk senantiasa melayani umat yang melakukan pemujaan di Pura Desa Kayu Putih, maupun pada Dewa Gede Celak Kontong. Apa pun itu ritualnya, upacaranya diwajibkan untuk tetap berkoordinasi dengan kami yang merupakan trah Kubayan,” ujarnya. (habis)

Editor : I Putu Suyatra
#pura unik #hindu #pura #sejarah pura