BALI EXPRESS, TABANAN - Tumpek Uye atau Tumpek Kandang yang jatuh setiap Saniscara Kliwon Uye, merupakan hari ‘otonan’ untuk hewan. Pada hari itu juga digunakan sebagai tonggak melestarikan semua jenis hewan. Di Daya Tarik Wisata (DTW) Alas Kedaton, kera yang jumlahnya ribuah diberikan persembahan berbagai macam buah-buahan dalam sebuah gebogan besar.
Di Alas Kedaton di Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan,bertepatan Saniscara Kliwon Uye, digelar Tradisi Ngerebeg sebagai ungkapan puji syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan memohon agar seluruh hewan senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan.
Sekretaris Adat Desa Adat Kukuh, I Gusti Ngurah Rai Puja Yasa mengatakan, perayaan Tumpek Kandang bagi umat Hindu merupakan sebuah wujud puji syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah melindungi dan mengayomi segala hewan yang ada di bumi ini. Dan, khususnya di DTW Alas Kedaton, pada Tumpek Kandang ini umat memohon agar Ida Sang Hyang Widhi Wasa memberikan perlindungan terhadap ribuan kera yang ada di kawasan Alas Kedaton. “ Kami menghaturkan pajegan buah sebagai ungkapan puji syukur. Pajegan buah sengaja dibuat besar agar nantinya bisa dinikmati seluruh kera yang ada,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin.
Pajegan Buah setinggi 2,5 meter itu terdiri dari berbagai macam buah, di antaranya tomat, salak, rambutan, pisang, jagung, dan jambu biji. Termasuk juga sayuran seperti kacang panjang. Total ada 250 kilogram buah yang diberikan. Setelah dihaturkan di Pura Dalem Kahyangan Kedaton, pajegan buah tersebut diarak keliling DTW Alas Kedaton sebanyak tiga kali, kemudian terakhir akan diberikan kepada kera. Kera pun berebut mengambil buah yang menjadi pemandangan menarik bagi wisatawan yang berkunjung. “Buah yang kita gunakan ini adalah buah lokal seluruhnya,’ imbuhnya.
Buah yang digunakan, menurutnya tidak ada kekhususan, alias segala macam buah bisa digunakan. Namun, pihaknya memang ingin menggunakan buah lokal.
Awalnya, kata mantan Manajer Operasional DTW Alas Kedaton ini, Ngerebeg Pajegan Buah digelar karena ada perilaku kera yang nakal dan sering masuk ke kebun atau rumah warga bahkan merusak. Agar perilaku kera yang nakal ini bisa berkurang dan semakin jinak, DTW Alas Kedaton pun berjanji akan menghaturkan pajegan buah dengan ukuran besar. “Jadi istilahnya ini juga pemberian ‘upah’ kepada para kera agar tidak nakal dan semakin jinak,” lanjut Puja Yasa.
Dan terbukti, sejak Ngerebeg dilakukan tingkah polah kera yang nakal mulai berkurang, meskipun masih ada yang senang masuk ke rumah warga. Ngerebeg dengan Pajegan Buah besar ini pun baru dimulai sekitar lima tahun yang lalu, sebelumnya pada Tumpek Kandang yang dilakukan hanya menghaturkan sesajen berupa tumpeng dan pajegan buah berukuran sedang dan ngotonin kera di Bale Tandeg Pura Dalem Kahyangan Kedaton.