Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kanda Pat, Misteri yang Tak Pernah Habis Diungkap

I Putu Suyatra • Rabu, 28 Februari 2018 | 19:07 WIB
Kanda Pat, Misteri yang Tak Pernah Habis Diungkap
Kanda Pat, Misteri yang Tak Pernah Habis Diungkap

BALI EXPRESS, TABANAN - Belajar Kanda  Pat butuh proses panjang. Pasalnya, untuk menekuni tutur luih  ini harus merampungkan belasan tingkat pelajaran yang penuh misteri.


Ketua Cabang Kanda Pat Pasraman Seruling Dewata, Ngurah Bagus, mengatakan, pada dasarnya Kanda Pat merupakan tutur atau pengetahuan mengenai empat saudara yang dimiliki manusia. Di mana nama-nama saudara empat itu akan berubah-ubah sesuai tingkatannya.


“Adan wujudnya sebagai darah, lamas, air ketuban, lalu berikutnya naik sampai jadi sang suratma, sang jogormanik, sebagai pertanggungjawaban di sekala,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin.



Ia menambahkan, secara keilmuan Kanda Pat ada dua, yakni Kanda Pat Durga dan Kanda Pat Siwa. Untuk Kanda Pat Durga terdiri dari 18 pelajaran, dan Kanda Pat Siwa terdiri dari 55 pelajaran. “Kanda Pat Durga intinya teori tentang Kanda Pat, sedangkan Kanda Pat Siwa adalah tata cara mempraktekkan teori tersebut,” imbuhnya.



Sampai saat ini, lanjutnya, di Pasraman Seruling Dewata tingkatan tertinggi baru sampai Kanda Pat Durga, belum memasuki Kanda Pat Siwa dan baru ada 10 orang termasuk dirinya. Salah satunya yang telah dipelajari adalah Dharma Brata, yaitu berbagai bentuk sikap ketika mengucapkan mantram-mantram saat menyebutkan Kanda Pat Durga, di antaranya Ngalong yaitu sikap kaki di atas dan kepala di bawah.



Kanda Pat Durga sendiri dari 18 Kanda Pat, yakni Kanda Pat Madu Kama, Kanda Pat Bhuta, Kanda Pat Rare, Kanda Pat Sari, Kanda Pat Nyama, Kanda Pat Manusa Prakerti, Kanda Pat Madu Muka, Kanda Pat Pengaradan, Kanda Pat Krakah, Kanda Pat Presanak, Kanda Pat Pemurtian, Kanda Pat Keputusan, Kanda Pat Pasuk Wetu, Kanda Pat Subiksa, Kanda Pat Sukma, Kanda Pat Moksa, Kanda Pat Dewa, dan Kanda Pat Tanpa Sastra.



Menurutnya, untuk dapat mempelajari Kanda Pat ini, tentu pertama harus mendapatkan restu dari Sesepuh Pasraman Seruling Dewata. Karena Kanda Pat yang lengkap turun atas perintah Sesepuh Generasi Kedua kepada 21 orang Yoginya. “Sehingga ilmu yang diturunkan harus mendapatkan restu dari Sesepuh Pasraman Seruling Dewata, serta mendapatkan penganugerahan dari Dewa Siwa, Dewi Durga dan Sang Hyang Aji Saraswati,” sambungnya.



Mengenai Kanda Pat yang dapat mengatasi ilmu pelet, perselingkungan, hingga pangeleakan, menurut Ngurah Bagus, pada Kanda Pat Madukama ada  tiga meditasi yang dianggap tidak membahayakan, yakni Pangasih Jagad, Panunggalan Semara, dan Pamutus Semara. Meditasi Pengasih Jagad bertujuan untuk menguatkan dan meningkatkan  kekuatan cinta kasih dalam diri manusia, menekankan pada hal bersifat positif dan menghancurkan hal yang bersikap negatif.



Kemudian Meditasi Panunggalan Semara bertujuan untuk menguatkan ikatan cinta kasih pasangan suami-istri atau calon pasangan suami-istri agar tidak bisa diputuskan oleh berbagai kekuatan negatif. “Jadi,  pelet Jawa, Bali, Sasak itu akan hancur, karena berbagai macam godaan itu akan dimusnahkan,” paparnya.



Sedangkan meditasi Pamutus Semara untuk memutuskan asmara sumbang atau terlarang, seperti berhubungan badan dengan orang yang atu garis keturunan (Gamia Gumana), suka dengan sesama jenis (Sira Apadu Muka dan Sira Magalit), suka dengan orang mati (Kamaning Layon). Kemudian suka berhubungan dengan tumbuhan (Kamaning Taru Wumuwuh), suka selingkuh (Nyolong Semara), suka berhubungan badan dengan istri orang (Arabining Wong Arabi), suka berhubungan atau mengganggu dengan suami atau istri orang serta anak bajang dan truna (Kakung Jaruh dan Wadon Jaruh). Selanjutnya suka berhubungan dengan pemaksaan, pedofilia (Kama Kumara), anal seks (Kama Kunangkangin Silit), hingga salah timpal atau suka berhubungan badan dengan binatang.


 “Selain memutus hubungan terlarang itu, meditasi ini juga bisa membersihkan atau Prayascitaning Gumi  di tempat terjadinya hubungan terlarang itu.," terangnya.  Apabila hubungan terlarang itu terjadi, lanjutnya, maka akan menyebabkan leteh atau sebel satu Desa Pakraman, maka meditasi ini bisa sekaligus membersihkan.



Dan, apabila Kanda Pat dikaitkan dengan jalan mencapai Moksa, lanjutnya,  ada Kanda Pat Moksa yang terdiri dari Meditasi Patengering Pati, Meditasi Sila Garjitaning Tinungguning Pati, dan Meditasi Dewa Raga. Meditasi Patengering Pati digunakan untuk mengetahui kapan hari kematian seseorang, sehingga orang terebut bisa menyiapkan kematiannya. Kemudian Meditasi Sila Garjitaning Tinungguning Pati digunakan untuk menyambut kematian secara baik, salah satunya dengan menggunakan sarana Kundalini. “Kemudian ada meditasi Dewa Raga , yaitu menempatkan dewa-dewa dalam tubuh kita sehingga terlihat cemerlang, sehingga para dewa akan hormat karena dilihat rombongan pada dewa, dan tidak akan dibawa ke neraka,” imbuhnya.



Ngurah Bagus menambahkan, saat ini ia pun tengah menyusun disertasi mengenai kaitan antara Kanda Pat dengan Pura Kanda Pat Sari. Ia menuturkan, pada zaman dulu ada tiga sekte yang berhasil menguasai ilmu pangeleakan. Di Jawa ada sekte Dirah, di mana mereka yang belajar dalam kondisi depresi, yaitu para istri yang ditinggal oleh suaminya ingin mati, lalu berlari ke kuburan. “Dan, di kuburan diberikan anugerah oleh Dewi Durga, sehingga menguasai 49 ilmu,” papar Ngurah Bagus.



Sedangkan di Bali ada Sekte Durga dan Sekte Birawa yang saking saktinya mereka akan menadah manusia setiap lima hari sekali, tepatnya pada Kliwon sehingga sangat meresahkan masyarakat. Sampai akhirnya sisya Perguruan Seruling Dewata menghadap Sesepuh dan melaporkan hal tersebut, sehingga ditugaskanlah 21 orang Yoginya untuk bertapa. “Setelah mereka bertapa, diturunkanlah 18 Kanda Pat Durga dan 55 Kanda Pat Siwa. 18 Yogi mendapatkan 18 Kanda Pat Durga dan  tiga orang Yogi mendapatkan 55 Kanda Pat Siwa. Dan, ke 21 Yogi ini langsung mendapatkan gelar Ki,” tegasnya.



Setelah mendapatkan anugerah tersebut, diperkirakan para Yogi berkumpul di dekat Pura Kanda Pat Sari ini untuk mengusir kekuatan sekte yang meresahkan masyarakat tersebut. Dan, ternyata pada Kanda Pat ke 13, yakni Kanda Pat Pasuk Wetu pada meditasi Kluwung Angin memang ada untuk menghancurkan dan menghindari diri dari hal-hal negatif, mulai dari penyakit kiriman seperti santet, desti, teluh, berbagai pepasangan, guna-guna, papendeman, rerajahan dan lainya.


“Dan, saat saya tanya pemilik mengenai sejarah keberadaan pura, katanya dulu pada suatu malam terdengar suara klotak-kletek dan saat pagi sudah ada pura. Dan, setelah saya tanya Sesepuh, katanya itu adalah Kanda Pat Butha Siu seperti halnya yang dilakukan Bandung Bondowoso,” tambahnya.



Diakuinya, sejatinya Kanda Pat memang pingit, namun bukan berarti tidak bisa dipelajari. Menurutnya, pingit dalam artian harus diturunkan oleh guru yang memang memiliki garis keturunan mengenai Kanda Pat ini. Serta tidak boleh belajar tanpa guru. “Sedangkan saya beruntung bertemu dengan Sesepuh Pasraman Seruling Dewata untuk belajar Kanda Pat ini. Intinya jangan sampai dipelajari sembarangan, karena ditakutkan disalahgunakan,” imbuhnya.



Seperti misalnya pada Kanda Pat Madu Kama, ada 33 bentuk meditasi, namun yang aman hanya tiga, sisanya dapat membahayakan tatanan kehidupan bermasyarakat. Apabila ini dipelajari secara sembarangan, lanjutnya, maka ditakutkan akan disalahgunakan. "Maka dari itu, perlu bimbingan dari guru. Kalau tidak maka kita akan tersesat.," bebernya.




Sementara itu, Sesepuh Generasi IX Pasraman Seruling Dewata, Ki Nantra Dewata mengatakan, yang membuat ajaran ini ditinggalkan masyarakat adalah karena ajaran ini diidentikkan dengan ajaran sesat dan ilmu pangeleakan. “Bahkan, orang yang belajar Kanda Pat dikatakan bisa gila dan pendek umur. Padahal, apabila ajaran ini dipelajari dengan baik dan tidak disalah gunakan, maka ajaran Kanda Pat ini dapat dipahami dengan baik pula,” tandasnya. 

Editor : I Putu Suyatra