Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Gumang; Tempat Melebur Tiga Ajaran, Mohon Keturunan dan Rezeki

I Putu Suyatra • Selasa, 6 Maret 2018 | 16:15 WIB
Pura Gumang; Tempat Melebur Tiga Ajaran, Mohon Keturunan dan Rezeki
Pura Gumang; Tempat Melebur Tiga Ajaran, Mohon Keturunan dan Rezeki

BALI EXPRESS, TAMPAKSIRING - Pura Gumang di Penempahan, Tampaksiring, Gianyar, Bali, jadi bukti sejarah, bahwa di kawasan ini telah terjadi persamaan penyatuan berbagai  sekte di Bali, yang sebelumnya bentrok satu dengan lainnya.


Pura Catur Paigun atau yang lebih dikenal sebagai Pura Gumang, merupakan sebuah pura kuna yang terletak di Desa Pakraman Penempahan, Manukaya, Tampaksiring, Gianyar. Berada di antara lebatnya hutan dan hijaunya persawahan, membuat situasi di pura ini terasa sangat sepi dan sakral.



Ketika Bali  Express (Jawa Pos Group) berkunjung, akhir pekan lalu, kawasan pura terlihat sunyi tanpa seorangpun pamedek yang terlihat. Maklum saja, saat  berkunjung sedang tak ada kegiatan apapun disana.



Setelah melewati rimbunan pepohonan serta jalan bertanah yang agak gelap, kami tiba di sebuah wantilan besar di jaba pura. Ketika melihat sepintas, Pura Gumang tak jauh berbeda dengan arsitektur pura pada umumnya. Namun uniknya, pura ini memiliki empat buah gapura sebagai akses masuk dan akses keluar bagi pamedek. Menurut Bendesa Pakraman Panempahan, I Made Arya Suardana, Pura Gumang merupakan pura kuna  yang telah ada sejak abad IX masehi. Dalam pura tersebut terdapat sebuah Lingga Yoni, Stupa, dan Trisula. Lingga Yoni tersebut, diyakini merupakan Lingga Yoni terbesar yang pernah ada pada zamannya. Sehingga, artefak yang merupakan warisan budaya ini dijaga keberadaannya.



“Tiga artefak tersebut merupakan simbol adanya tiga kepercayaan yang ketika itu ada, dan melebur menjadi satu.  Kepercayaan yang dimaksud adalah ajaran Siwa, Budha, dan Bali Mula," terang Suardana.



Pura ini, lanjutnya, merupakan miniatur dan realistisnya sebuah ajaran Bhineka Tunggal Ika.



" Ketiga artefak tersebut telah terdaftar sebagai peninggalan sejarah serta cagar budaya,” papar ayah dua orang anak ini.



Empat  gapura yang merupakan akses keluar dan masuk pamedek  disebut Catur Paiguman. “Dalam makna filosofi, empat pintu itu sesungguhnya sebagai simbolisasi persamaan. Apapun perbedaannya, dari manapun asal serta sektenya dapat masuk dari empat arah penjuru angin. Ini cikal bakal dari sebuah paruman,” ujar Suardana.



Pura yang melaksanakan karya Agungnya pada purnama kaenem ini, terkenal akan daya magis dan kesakralannya. Terdapat sebuah batu besar dengan bekas tapak kaki yang terlihat jelas. Batu tersebut juga merupakan artefak penting yang berkaitan dengan asal usul Pura Gumang. Batu besar dengan jejak kaki tersebut berkaitan dengan mitos asal – usul Pura Gumang.


"Dahulu  Mayadenawa berulah di marcepada. Ia melarang orang - orang untuk melakukan yadnya serta persembahan lainnya. Maka para dewa pun murka, dan turun ke bumi. Namun, para dewa tidak diperbolehkan menginjakkan kakinya pada pertiwi. Sehingga di pilihlah wilayah hutan yang terpencil dengan banyak hamparan batu sebagai pijakan. Maka, wilayah tersebut kini dikenal sebagai Pura Gumang,” paparnya. 



Selain lekat akan mitos Mayadenawa, Pura Gumang juga diyakini sebagai tempat memohon  kelancaran mencari rezeki dan memohon kesuburan. Banyak masyarakat sekitar percaya bahwa jika tangkil dan memohon dengan sepenuh hati, maka permintaan tersebut akan dikabulkan.



“Memang beberapa yang telah mencoba, dan diberi anugerah serta paica oleh bhatara yang bersthana di sini. Seperti ingin memiliki anak, rezeki, dan permintaan lainnya. Namun, hal itu kembali lagi kepada kuasa Ida Sanghyang Widhi  dan karma masing – masing orang,” ungkapnya. (tya) 

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #pura #sejarah pura