Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Hamil di Luar Nikah, Terapkan Sanksi Adat, Tenganan Paling Berat

I Putu Suyatra • Selasa, 17 April 2018 | 17:50 WIB
Hamil di Luar Nikah, Terapkan Sanksi Adat, Tenganan Paling Berat
Hamil di Luar Nikah, Terapkan Sanksi Adat, Tenganan Paling Berat

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Ada tradisi unik di Sidemen, Karangasem, terkait pasangan remaja hamil di luar nikah. Anak yang lahir kena sanksi khusus adat.


Dosen Flsafat Institute Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, IG. Agung Jaya Suryawan, mengatakan, di Bali masih berlaku awig – awig desa kala patra. Tiap daerah memang memiliki aturan tersendiri. Suryawan  mencontohkan, di Sidemen, jika anak itu terlahir dari hubungan di luar nikah, jika ayahnya berkasta, anak tersebut tidak bisa membawa gelar atau kasta dari keluarga ayahnya. Walaupun nantinya telah dinikahkan resmi.  


“Yang saya tahu sih status anak tersebut secara negara sah anak dari kedua orang tuanya. Dari surat suratnya lengkap, namun secara adat anak tersebut tidak diperkenankan mengikuti trah ayahnya. Anak tersebut dianggap mengikuti trah dari keluarga ibu,” ujarnya.


Suryawan juga memaparkan sanksi adat di Tenganan soal hamil di luar nikah. Sanksi di sini terbilang paling berat karena harus ditanggung seumur hidup. “Di Tenganan ada tradisi Nampah Dandan Beling.  Nah, upacara itu dibuat khusus jika ada warganya yang memiliki anak gadis hamil di luar nikah. Sanksinya berupa denda dengan nominal Rp 1000,- tiap tahun seumur hidup. Dan, dibayarkan oleh orang tua si gadis,” ujarnya.



Tak hanya sanksi denda, ada sanksi sosialnya juga yang diterapkan, yaitu rasa malu yang harus ditanggung keluarga sang gadis. “Rasa malu seumur hidup. Itu sesungguhnya sanksi sosial yang harus ditanggung kedua orang tuanya. Stigma tidak bisa mendidik anak akan melekat seumur hidup pada kedua orang tuanya,” paparnya.  

Editor : I Putu Suyatra