BALI EXPRESS, DENPASAR - Dalam Ilmu Perbintangan, Tionghoa mengenal beberapa zodiak yang diyakini telah ada sejak zaman Romawi kuna. Namun, tak hanya masyarakat Tionghoa, masyarakat Bali kuna pun mengenal zodiak yang disebut Palintangan, Saptawara, dan Pancawara. Lantas, apa Palintangan, Saptawara, Pancawara, dan pengaruhnya terhadap manusia?
Pelintangan berasal dari kata Lintang yang berarti bintang atau IImu Perbintangan, yang juga disebut zodiak. Saptawara merupakan bintang – bintangnya. Sedangkan Pancawara merupakan dasar landasan tata letaknya.
Palintangan umumnya ditetapkan berdasarkan Pancawara dan Saptawara. Dalam Palintangan Bali, terdapat 35 zodiak yang masing – masing memiliki arti dan pengaruh nasib. Dalam Ilmu Perbintangan Bali kuna, pertemuan antara Pancawara dan Saptawara berpengaruh besar terhadap sifat sifat bawaan kelahiran. Mengapa demikian?
Ahli Astornomi dan Penyusun Kalender Bali, DR Gede Sutarya,pekan kemarin, menjelaskan, Palintangan merupakan suau ramalan mengenai sifat dan watak manusia. Semua jenis Palintangan memberikan keterangan singkat tentang pengaruh Pancawara dan Saptawara, terhadap tabiat baik ataupun tabiat buruk kelahiran manusia. “ Kita harus tahu pengaruhnya, karena dapat menjadi pedoman hidup dalam melangkah ke depan. Juga untuk memperbaiki apa yang buruk dan kurang dalam hidup,” ujar Sutarya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar.
Dikatakan doktor pariwisata ini, Ilmu Perbintangan Bali kuna ini, tertulis lengkap dalam dua lontar, yaitu lontar Wariga Winasa Sari dan Lontar Anda Tatwa. Dalam lontar tersebut dijelaskan, Ilmu Perbintangan Bali kuna mengenal istilah dewasa. Apa itu Dewasa? Sejak zaman dahulu masyarakat Bali khususnya, sangat percaya akan adanya hari, waktu ataupun saat - saat yang baik ataupun buruk untuk melakukan kegiatan apapun. Pengetahuan untuk mengetahui hari baik dan hari buruk ini disebut dewasa ayu. Jika diuraikan dari makna katanya, dewasa berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti pengamatan terhadap cahaya. Dalam bahasa Jawi kuna, dewasa berarti tingkah laku manunggalnya cahaya.
“Dalam lontar Wariga Winasa Sari dan lontar Anda Tatwa, kita banyak mengenal istilah seperti dewasa dan Palintangan. Dalam Ilmu Astorlogi menjelaskan, pada Bhachakra (bola langit), ada aneka benda langit yang bergerak teratur dari satu tempat ke tempat lain dan kembali lagi ke tempat semula (Gocara). Pada detik detik itu terjadi getaran - getaran yang mengeluarkan radio aktif yang berakibat baik atau buruk bagi kehidupan, terutama bagi mental bayi yang baru lahir. Hal itulah yang menjadi dasar aturan dewasa pada Palintangan,”ujarnya.
Palintangan sendiri, erat kaitannya dengan kisah klasik pawayangan Shang Hyang Sandhireka. Disebutkan, Shang Hyang Sandhireka beryoga dan terciptalah Shang Hyang Ekajalarasi. Dalam perjalanannya, Sang Hyang Ekajalarasi juga memutuskan untuk melakukan Tapa Brata sehingga terciptalah Rahu dan Ketu. Jika diuraikan maknanya, kisah klasik tersebut memiliki makna penghormatan. Shang Hyang memiliki arti penghormatan, Shandi memiliki arti rahasia atau gugusan.
Reka merupakan bagian dari sebuah lingkaran yang menggambarkan aliran atau perjalanan cahaya (terang). Sedangkan Yoga memiliki pengertian penyelesaian peredaran matahari dan bulan. Rahu adalah sifat - sifat gelap (jahat), Ketu adalah sifat – sifat kebaikan. Jadi, makna dari pawayangan tersebut adalah aturan dari sebuah lingkaran yang menggambarkan perjalanan cahaya bintang di langit. Menyatu pada areal Nakshatra mengedarkan sifat sifat kegelapan dan sifat sifat terang.
“Gugusan orbit edar dari planet – planet, khususnya Saptawara dan Pancawara memengaruhi dan menentukan baik dan buruk zodiak dan watak manusia. Untuk menetralisasi pengaruh buruk, maka banyak diantara kita disarankan untuk menyimpan logam maupun batu mulia tertentu sesuai dengan palintangannya. Biasanya berbentuk mirah, permata, dan logam lainnya,” ungkapnya.
Dikatakan Sutarya, secara tradisi, ramalan Palintangan memiliki 35 rupa pertemuan gugusan planet Pancawara dengan Saptawara, ramalan 10 laku melukiskan sifat kelahiran yang disebut Pararasan. Dan, ada juga ramalan 7 rupa sifat yang berpengaruh besar terhadap kelahiran manusia. Dalam lontar Wariga Winasa Sari dan lontar Anda Tatwa dijelaskan, 35 ramalan pelintangan itu mencakup dina (hari) kelahiran, yaitu Redite, Soma, Anggara, Buda, Wrehaspati, Sukra, dan Saniscara. Selain hari kelahiran, ramalan palintangan juga mencakup wuku, pararasan, dan Palintangan laku padasan.
Dosen Pascasarjana Institute Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar ini memaparkan, Pararasan merupakan jenis palintangan khusus dari jumlah urip yang berupa perpaduan antara Saptawara dengan Pancawara.