Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Kisah Pepohonan Menurut Lontar Aji Janantaka

I Putu Suyatra • Sabtu, 28 April 2018 | 23:24 WIB
Ini Kisah Pepohonan Menurut Lontar Aji Janantaka
Ini Kisah Pepohonan Menurut Lontar Aji Janantaka

BALI EXPRESS, DENPASAR - Teks Aji Janantaka mengusahkan, pepohonan adalah jelmaan dari manusia. Mereka juga memiliki jabatan, wangsa dan kasta . Lantas seperti apa kisahnya?


Tersebutlah seorang raja di negeri Janantaka bernama Prabhu Partipa. Beliau memiliki lima patih, yaitu Matwa, Rangga, Tumenggung, Arya, dan Kadeyan. Selain lima para patih, ia juga memiliki pejabat yaitu Punggawa, Manca, Perbekel, Pecalang, Kelihan Banjar, dan Kasinoman. Disebutkan, sang Prabhu, para patih, serta segenap pejabat pemerintahannya itu sedang terserang wabah lepra, yang tidak  mempan diobati dengan dengan pengobatan apapun.


Prabhu Partipa lalu mengutus Patih Matwa untuk menghadap kepada Bhatara Dharma di surga, untuk memohon obat serta kesembuhan. Bhatara Dharma menyarankan agar mereka pindah dari negeri Janantaka ke negeri Wanapringga. Setelah mereka pindah, Bhatara Dharma memberikan panglukatan (pembersihan) untuk menyembuhkan penyakit lepra yang mereka alami. Namun, pembersihan itu sifatnya melebur. Bahkan yang dilebur tak hanya penyakitnya, namun seluruh  kehidupannya akan dilebur. “Dilebur disini, maksudnya mereka semua akan tewas seusai dilakukan penglukatan tersebut. Mengapa? Karena ketika itu, penyakit lepra tidak dapat diobati dengan panglukatan biasa. Maka Bhatara Dharma memberikan solusi dengan penglukatan penglebur itu. Setelah dilebur mereka akan dihidupkan kembali. Namun bukan sebagai manusia, mereka dapat hidup kembali sebagai pohon,” ujar Kepala Bidang Ayurweda UNHI, Ida Bagus Putra Suta, S.AG.


Semua pepohonan yang berasal dari wangsa Prabhu, Patih, Arya, Rangga, Demung, Demang, Tumenggung, pecalang, perbekel, kliyan, kasinoman dan juru arah tersebut tidak boleh digunakan sebagai bahan bangunan tempat suci. Pasalnya, pepohonan dengan wangsa tersebut dianggap kotor, karena pernah terkena penyakit cukil daki (lepra). “Mengapa kita dilarang untuk menggunakan jenis pepohonan tersebut sebagai dasar bangunan? Karena secara niskala dipercaya, jika menggunakan bahan tersebut, tempat suci akan dimasuki mahluk halus bernama Detya, Bhuta Kala, Jin dan Setan. Jadi bukan lagi Tuhan atau sasuhunan kita yang berstana di sana. Para mahluk bawah yang akan berstana disana,” ujarnya.


Lantas pohon apa saja yang masuk dalam katagori pepohonan Cuntaka atau Kotor? Beberapa pepohonan yang tidak digunakan sebagai tiang atau pasak bangunan suci antara lain, kayu dari pohon Bengkulitan, taru brokan (pohon cacat akibat dimakan hama), kayu dari pohon Embud Hati, kayu dari pohon Soca Menengan Sunduk, dan kayu dari pohon Soca Nyuwun Lambang. Mengenai hal ini, para undagilah yang lebih paham. 

Editor : I Putu Suyatra