BALI EXPRESS, JAKARTA - Keberadaan pura yang cukup besar di wilayah Jakarta menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Bali yang kebetulan berkunjung ke sana. Terlebih jika mereka Umat Hindu yang sudah menetap di kota metropolitan tersebut. Selain suasananya yang agak mirip di daerah pedesaa di Bali, konon bagi mereka yang bersembahyang di sana, doanya akan terkabulkan. Bahkan dikatakan, tak jarang orang Bali karirnya mencuat setelah berdoa di Pura Aditya Jaya, Rawamangun, Jakarta Timur.
Pamangku pura, I Gusti Made Agung Nugraha mengungkapkan, pura tersebut dibangun pada tahun 1972. Saat itu dirinya juga sudah hidup di Jakarta sehingga mengetahui proses sampai dibangunnya pura Aditya Jaya di sana. “Memang puranya nampak seperti biasa saja, namun areal ini tidak jauh beda dengan puran yang ada di Bali. Contohnya ada juga jaba sisi, jaba tengah, bahkan jeroan pura. Selain itu, suasananya juga terasa dekat dengan Bali, karena terdapat pohon perindang berupa beringin di jaba pura. Sedangkan di jeroan pura juga ditata sedemikian rupa,” jelasnya saat dwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), Sabtu lalu (14/4).
Jero Mangku Agung Nugraha lebih lanjut menjelaskan, pamedek yang datang ke sana tidak jarang calon-calon pejabat yang ada di Bali, ataupun yang ada di Jakarta. Dirinya mengungkapkan hal itu terbukti hampir seluruh orang penting saat ini, sebelumnya pernah nunas ica (memohon) di Pura tersebut, agar diberikan jalan lancar, khususnya dalam hal karir.
Mengenai sejarah, dikatakan pura itu tidak lepas dari perjuangan Umat Hindu di DKI Jakarta sebelumnya, yang masuk dalam Suka Duka Hindu Bali. Namun karena berjalannya waktu, diubah menjadi Suka Duka Hindu Dharma sampai saat ini. Perubahan atas saran Dirjen Bimas Hindu dan Budha, IB Mastra waktu itu.
Pun dikatakan, Presiden RI pertama, Ir. Soekarno sangat menerima dengan baik gagasan pembangunan pura untuk Umat Hindu di Jakarta itu. “Sebelumnya, Bung Karno juga sempat menawarkan lahan untuk dijadikan pura di areal Lapangan Banteng, namun sayang sekali batal. Selanjutnya sempat juga di areal Ancol. Karena kondisinya sekarang dengan yang dulu berbeda, diberikanlah tempat di Jalan Rawamangun Muka nomor 10, Jakarta Timur,” jelas pria asli Pemogan, Denpasar tersebut.
Lanjut Jero Mangku Nugraha, Pura Aditya Jaya tersebut memang dibangun dalam tujuh tahapan. Pertama, tahun 1972 dan tahap akhir dilakukan tahun 1997 silam. Maka, wilayah pura dapat dikatakan cukup luas. Terlebih di sana terdapat juga bangunan yang bernuansa khas Bali. Bahkan suasana pura juga persis taman yang terlindung dari panas teriknya sinar matahari. Hal itu dikarenakan lebatnya pepohonan di areal pura.
Di lokasi juga terdapat beberapa bangunan yang memang sengaja dibangun dari ornamen yang bernuansa Bali. Sehari-hari, umat Hindu pada umumnya diarahkan masuk ke pura dari arah pintu sebelah timur. Namun pada hari raya tertentu, seperti hari suci Galungan, Kuningan, termasuk hari suci Purnama dan Tilem, melalui pintu gerbang yang lebih lebar. Hal itu disebabkan jumlah pamedek cukup banyak. Di samping itu, pintu utama juga sangat strategis. Pasalnya, berhadapan langsung dengan Jalan Tol Cawang – Tanjung Priok, sehingga memudahkan pengendara masuk ke jaba sisi pura.
Dikatakan pula oleh Jro Mangku, di pura tersebut dilaksanakan upacara besar enam kali setahun. Momen tersebut menjadi kesempatan umat untuk sembahyang. “Selain itu, pamedek setelah melakukan persembahyangan juga dapat menikmati makanan khas Bali yang ada di jaba sisi timur pura. Tepatnya di tempat seperti kantin yang memang disediakan untuk pemedek untuk berbelanja ataupun beristirahat,” jelasnya.
Pada utama mandala, terdapat tiga bangunan inti yaitu Padmasana Agung, Palinggih, dan Papelik. Ketiganya itu, kata Mangku Nugraha sebagai bersthananya para Dewa di sana. Tampilan Padmasana cukup menarik karena dikelilingi kolam. Jika hendak sembahyang, lanjutnya, umat tidak diharuskan agar membawa sebuah banten. Jangankan pejati, canang atau bunga pun bisa dibawa sebagai sarana persembahyangan.
Lanjutnya, di Pura Aditya Jaya ada sebuah arca yang menarik perhatian yaitu arca Dewi Saraswati. Arca tersebut sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan. Letaknya di dalam areal utama mandala pura, tepatnya di belakang candi lebih kecil yang ada di sayap kanan pura tersebut.
Maka dari itu, Mangku Nugraha juga menjelaskan tak jarang ada para mahasiswa dan para pelajar yang akan mengikuti ujian ataupun seleksi pasti sering meditasi di sana. Sebab, konon rarencangan pura yang ada di sana ia mengaku sangat bares (ringan tangan) dalam membantu pamedek yang datang untuk berdoa. “Namun, itu semua kembali lagi ke diri masing-masing,” tegasnya.
Selain mahasiswa, warga umum juga banyak ke pura tersebut untuk melakukan meditasi pada sore ataupun malam hari. Semua itu karena suasanya cocok untuk merenung dalam keadaan apapun. Entah dalam kondisi baik, ataupun sedang dilanda permasalahan. Sehingga Mangku Nugraha setiap hari stand by di pura. “Percaya tidak percaya saja sih, kalau rarencangan Ida Sasuhunan di sini sangat ringan tangan. Tapi jika memang benar-benar khusuk dalam sembahyang, apapun doa kita akan terkabulkan. Tentunya diimbangi dengan usaha dan kerja keras,” imbuhnya.
Editor : I Putu Suyatra