Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Termasuk Kesenian Langka, Wayang Kulit Babad Pentas di Arena PKB

I Putu Suyatra • Jumat, 29 Juni 2018 | 03:02 WIB
Termasuk Kesenian Langka, Wayang Kulit Babad Pentas di Arena PKB
Termasuk Kesenian Langka, Wayang Kulit Babad Pentas di Arena PKB

BALI EXPRESS, DENPASAR - Mendengar pementasan wayang kulit, sepintas seseorang pasti akan membayangkan seorang dalang memainkan wayang di kelirnya. Seperti pementasan Wayang Kulit Babad oleh Pepadi Kota Denpasar di Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40. Dalam alur ceritanya, mengupas perjalanan seorang Brahama Keling di Pura Besakih yang saat ini menjadi Topeng Sidakarya.


 


Pembina garapan sekaligus Ketua Pepadi Denpasar, I Made Kembar saat diwawancarai, mengaku cerita yang dibawakan saat itu adalah perjalanan Brahmana Keling yang awalnya menuju daerah Bali. “Pementasan wayang ini khusus menampilkan untuk babad, yakni berjudul Dalem Sidakarya,” tandasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di sela-sela pementasan, Rabu dua hari lalu (27/6).


 


Dalam kesempatan itu, Kembar mengatakan seorang dalang babad saat ini sangat langka di Bali. Sedangkan persiapan dalam pentas di PKB, dalang dan sekaa tabuhnya sudah dimulai sejak empat bulan lalu. Ia juga memaparkan kesulitan yang ditemuinya adalah mencari dalang yang menjiwai dalam penokohan itu, kemudian wayang tersebut jarang diketahui oleh masyarakat. Terlebih wayangnya itu berbeda pada penokohan dan harus membuat terlebih dahulu dalam persiapannya.


 


Maka dalam pementasannya Kembar menjelaskan harus memaknai karakter wayang babad itu terlebih dulu. “Harapannya dalam pementasan wayang babad ini, agar masyarakat mengetahui apa yang terdapat dalam cerita, yaitu Dalem Sidakarya. Sehingga generasi penerus tidak bingung, terlebih jika ada yang mencari kawitannya sendiri,” tandasnya.


 


Dalam cerita sesuai sipnopsisnya, perjalanan Brahmana Keling menuju wilayah Bali. Karena ingin bertemu dengan saudaranya yakni Dalem Waturenggong, setibanya di Bali ia menuju Istana Ida Dalem yang berada di Gelgel. Namun dalam keadaan sepi. Karena semua abdi kerajaan dan Ida Dalem Waturenggong berada di Besakih menyiapkan segala kelengkapan upacara yang cukup besar di sana.


 


Sehingga ia langsung menuju Pura Besakih, di sana ia diusir karena berpenampilan kumel dan tidak diketahui memiliki hubungan keluarga dengan Ida Dalem. Terlebih para Mantri juga ikut mengusirnya agar segera meninggalkan Pura Besakih. Di sana Brahmana Keling mengutuk pelaksanaan upacara yang berlangsung, dan ia sendiri menuju arah barat daya pura.


 


Di sana kutukan Brahmana Keling berhasil, sehingga terjadinya wabah menyebar, upacara tidak berjalan lancar, bahkan pepohonan dan tanah menjadi kering. Terlebih masyarakat juga terserang penyakit. Setelah Dalem Waturenggong menerima pawisik bahwa beliau berdosa telah mengusir Brahmana Keling yang ternyata saudaranya sendiri.


 


Setelah lama dicari oleh para abdi kerajaan, Brahmana Keling ditemukan pada pasramannya yang bernama Bandana Negara. Di sana mereka bertemu dan mohon maaf, selanjutnya menceritakan tujuan kedatangan Brahamana Keling. Dia kembali ke Besakih dan menetralisir kembali  keadaan.


 


Maka saat itu, Dalem Waturenggong bersedia mengakui Brahmana keling sebagai saudaranya. Sehingga upacara besar yang disebut Eka Dasa Ludra dapat dilaksanakan kembali bersamaan dengan upacara nangluk mrana, lantaran Bali pernah mengalami kekeringan. Atas jasa Brahmana Keling dalam menyukseskan upacara tersebut, maka semenjak itu pula ia bergelar Dalem Sidakarya. 

Editor : I Putu Suyatra
#pkb