BALI EXPRESS, DENPASAR - Sebuah lukisan dalam proses pembuatannya memiliki gaya dan teknik masing-masing. Seperti membuat lukisan gaya Batuan yang memiliki enam teknik melukis, sehingga hasilnya jauh berbeda dengan lukisan yang lain.
Ketua himpunan melukis gaya Batuan, I Ketut Sadya saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) Minggu kemarin (8/7), mengungkapkan pelaksanaan demontrasi tersebut bertujuan agar melukis gaya Batuan tidak hilang ditelan zaman. Cara melukis yang lebih rumit, menurutnya menjadi sebuah permasalahan dan ditakuti akan meluntur minat melukis dari generasi muda. "Memang dalam melukis gaya ini berbeda dengan gaya yang lainnya, karena terdapat enam teknik membuat ciri khas sendiri," terangnya di areal Gedung Kriya, Art Center, Denpasar.
Enam teknik tersebut harus diawali dengan menyeket yaitu membuat sketsa lukisan yang akan dibuat. Kedua nyawi, yakni memperjelas sketsa. Ketiga terdapat proses nyigar, yaitu memperkuat warna hitam dan putih dalam lukisan tersebut, keempat membuat motif lukisan yang akan dikolaborasikan di dalamnya. Kelima ada yang disebut dengan ngasir, yakni menonjolkan mana yang akan diperjelas dan diredupkan dalam lukisan. Dan keenam, proses pewarnaan jika memang diperlukan.
Agar tidak punahnya lukisan gaya Batuan, Sadya mengaku mengajak anak-anak sekolah dasar se-Desa Batuan untuk les melukis. Bahkan pesertanya tidak dipungut biaya sepeserpun, lantaran hal tersebut sangat diperhatikan betul oleh pemerintah desa setempat. "Kami dari himpunan dan pemerintah desa juga berkomitmen, agar lukisan gaya Batuan tidak pudar di zaman serba praktis ini. Makanya semua perlengkapan disediakan dari desa," tandas Sadya.
Bukan sampai di sana saja, dirinya juga mengaku pembinaan yang dilakukan sampai ke proses belajar mengajar di SD setempat. Dikarenakan setiap minggu dilakukan dua kali pembinaan, nilai ekstrakulikuler mereka dimasukan kedalam nilai rapot. Sehingga langkah itu dirasa sangat efektif dalam mengatasi penurunan minat generasi muda dalam melukis gaya Batuan.
Sadya juga mengakui bahwa dalam proses pembuatannya memang rumit, karena tidak menonjolkan figur atau penokohan tertentu, tetapi berkarakter padat, dan merata. Sedangkan hasil karya anak didik yang sebelumnya telah dipamerkan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun ini, sebanyak 20 lukisan juga sudah terpampang di Gedung Kriya, Art Center.
Selain anak SD di Desa Batuan, terdapat juga anak yang di luar desa setempat ikut dalam himpunan tersebut. "Karena antusias masyarakat banyak, jadi kita dalam PKB ini dua kali melakukan demonstrasi. Selain peserta dari Batuan sendiri, ada juga dari pengunjung boleh ikut dan terkadang juga ada orang asing turut bergabung," ucap Sadya.
Pada tempat yang sama, salah satu peserta I Kadek Aditya Wiguna mengaku sudah satu tahun ikut dalam himpunan tersebut. Meski rumit, ia menjelaskan dirinya tak putus asa dalam belajar melukis gaya tanah kelahirannya itu sendiri. Karena sebagai pemula, siswa kelas V SD tersebut hanya baru melukis pada buku gambar.
"Sulitnya itu saat nyawi dan menggunakan kuas, berbeda dengan melukis bebas. Karena ini lukisannya padat, jadi ada yang harus diarsir dan dibiarkan putih agar hasilnya menjadi bagus," imbuh Adit.
Editor : I Putu Suyatra