Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Kata Mantan Sulinggih Muda Bangli dan Suaminya Usai Pernikahannya

I Putu Suyatra • Minggu, 19 Agustus 2018 | 16:57 WIB
Ini Kata Mantan Sulinggih Muda Bangli dan Suaminya Usai Pernikahannya
Ini Kata Mantan Sulinggih Muda Bangli dan Suaminya Usai Pernikahannya


BALI EXPRESS, BANGLI - Ida Pandita Mpu Budha Maharesi Alit Parama Daksa resmi kembali menjadi walaka dengan nama asli Ni Komang Widiantari, Jumat (17/8). Prosesi Lukar Gelungan sulinggih perempuan termuda, itu digelar di Griya Agung Buddha Salahin, Susut, Bangli dipimpin nabenya Ida Pandita Mpu Nabe Acharya Prami dari Griya Agung Padang Tegal Ubud.


Prosesi yang dimulai sejak pukul 20.00 malam itu, hanya disaksikan sanak keluarga dan tetangga terdekat. Meski dengan berat hati Sang Nabe akhirnya memimpin sendiri Prosesi Lukar Gelung yang dilaksanakan di tengah hujan deras. Dengan ditemani sang kekasih, Ni Komang Widiantari (Ida Pandita Mpu Budha Maharesi Alit Paarama Daksa) terlihat begitu sumringah menjalani tahap demi tahap ia melepaskan gelar kesulinggihan.


Prosesi diawali dengan pembersihan menggunakan byakala, dan dilanjutkan dengan prosesi pencabutan pusung kesulinggihan. Proses ini merupakan proses pencabutan kesucian Ni Komang Widiantari sebagai seorang Ida Pandita Mpu Budha Maharesi Alit Paarama Daksa secara simbolik.


“Segala kewajiban dan pantangan sebagai seorang sulinggih telah usai secara niskala,” ujar Ketua PHDI Bangli, Nyoman Sukra.


Lalu prosesi dilanjutkan dengan prosesi pencabutan Gelungan atau mahkota kesulinggihan. “Bagi seorang sulinggih mahkota atau gelungan itu seperti gelarnya, jika pusungan itu sebagai simbol menyatunya jiwa dengan sang brahman nah gelungan sebagai simbol kesulinggihannya,” ungkap Sura menjelaskan.


Usai segala atribut kesulinggihannya dilucuti, Sang Nabe juga terlihat memotong rambut Ida Pandita Mpu Budha Maharesi Alit Paarama Daksa. Meski sekilas ia terlihat sedih ketika rambutnya dipangkas oleh sang nabe, namun Ida Pandita Mpu Budha Maharesi Alit Paarama Daksa terlihat melempar senyum mesra kepada kekasihnya yang setia menemani dalam tiap proses itu.


Usai dinyatakan sah menjadi Walaka (orang biasa), prosesi dilanjutkan dengan natab banten pewiwahan yang telah dipersiapkan di Bale Dangin. Upacara puncak yang begitu ditunggu-tunggu Ni Komang Widiantari (Ida Pandita Mpu Budha Maharesi Alit Paarama Daksa) dan Torin Logan Temple Kline membuat mereka terlihat begitu bahagia.


Dengan menggunakan pakaian sederhana, tanpa perhiasan dan tanpa polesan make up, mantan sulinggih dan kekasihnya yang baru saja masuk Hindu tersebut, terlihat bahagia melakukan prosesi natab banten anten.


Ketika ditanya bagaimana perasaannya, Torin, 33, ini hanya tersenyum malu. “Setelah ini kami berencana tinggal di USA, kami ingin mewujudkan mimpi besar kami membuat Asrham bersama. Lokasinya sudah ada, tinggal membangunnya saja,” ungkap Torin.


Menanggapi keputusan istrinya yang melepas gelar kesulinggihan, Torin mengungkapkan sangat menghargai keputusan wanita yang ia cintai itu. “Saya menghargai pengorbanannya, namun tidak menjadi orang suci bukan berarti tidak boleh berbuat dharma bukan? Kami ingin membuktikan, bahwa tanpa gelar pun kami dan kita semua bisa menjalankan ajaran agama Hindu,” ujar Torin.


Begitu pun dengan Ni komang Widiantari, mendapat dukungan penuh dari laki – laki yang dicintainya, ia seakan yakin tentang keputusannya melepas gelar Sulinggih dan memasuki Masa Grehasta. Namun ketika ditanya lebih lanjut mengapa ia bersedia melepas gelar sucinya, Ni komang Widiantari menolak untuk menjelaskan secara rinci apa yang menjadi dasar dari keputusannya.


Ia hanya memohon doa agar pernikahannya dengan Torin Logan Temple Kline bahagia. “Terlepas dari segala kekurangan saya menjadi manusia, saya hanya mohon doanya, semoga ke depannya rumah tangga kami berjalan lancar dan bahagia,” ungkapnya mengakhiri.

Editor : I Putu Suyatra
#sulinggih #bangli #hindu