Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Meski “Tak Suci” Lagi, Torin akan Bantu Istrinya Jalankan Dharma

I Putu Suyatra • Senin, 20 Agustus 2018 | 02:48 WIB
Meski “Tak Suci” Lagi, Torin akan Bantu Istrinya Jalankan Dharma
Meski “Tak Suci” Lagi, Torin akan Bantu Istrinya Jalankan Dharma

BALI EXPRESS, BANGLI - Jalan hidup memang tak bisa ditebak. Itulah yang terjadi pada kehidupan Ni Komang Widiantari, 32. Mantan Sulinggih termuda di Bangli ini akhirnya memutuskan untuk melepas status kesulinggihannya dan menikah dengan laki – laki yang dicintainya. Sang suami pun berjanji membantu istrinya menjalankan dharma meski “tak suci” lagi.


Terlepas  dari keputusannya yang begitu mengejutkan, ternyata Mantan Sulinggih yang memiliki nama Ida Pandita Mpu Budha Maharesi Alit Parama Daksa ini sempat bermimpi memiliki keluarga kecil. Kini, mimpinya tersebut akhirnya terwujud, tepat di hari kemerdekaan ia bersama Torin Logan Temple Kline, 33, melaksanakan pernikahan sederhana yang berlangsung di Griya Agung Buddha Salahin Jumat (17/8) lalu.


Hujan deras tak menjadi penghalang bersatunya kedua insan tersebut dalam ikatan suci pernikahan. Itulah yang tergambar dari senyum sumringah kedua mempelai ketika Bali Express (Jawa Pos Group) berkujung ke kediamannya di Griya Agung Budha Salahin, Banjar Tanggahan Tengah, Desa Demulih, Kecamatan Susut, Bangli.


Ni Komang Widiantari atau yang sebelumnya dikenal dengan Ida Pandita Mpu Budha Maharesi Alit Parama Daksa didiksa ketika berumur 21 tahun. Meskipun ketika itu dirinya masih begitu belia, namun takdir hidup membawanya ke arah yang berbeda. “Saya  mediksa hanya mengikuti sabda  Ida Sang Hyang Widhi. Ini bukan berarti saya yang ingin ataupun memilih. Ketika itu saya hanya mengikuti arus, saat ini pun begitu hanya mengikuti arus saja. Biarkan takdir yang menjadi jalan hidup,” ujarnya.


Hal senada diungkapkan Torin Logan Temple Kline. Pria yang lahir di Colorado Amerika Serikat, ini menjelaskan bahwa wanita yang kini menjadi istrinya tersebut dahulu pernah bercerita memiliki mimpi membangun sebuah keluarga kecil. “Dia bilang mimpinya ingin hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Namun karena ia tahu bahwa itu tidak mungkin, akhirnya ia mengubur dalam-dalam mimpi besarnya dan memilih menjalankan kewajibannya sebagai seorang pendeta,” ujar Torin.


Ketika ditanya bagaimana awal pertemuan mereka hingga akhirnya memutuskan untuk mengikat janji suci pernikahan, laki-laki 33 tahun, ini hanya tersenyum malu. Menurutnya pertemuan mereka justru berawal dari rasa ketertarikannya belajar agama Hindu di Bali.


“Saya kebetulan memiliki ashram, saya juga sudah sering melakukan perjalanan spiritual. Kebetulan saya suka belajar dan bertanya pada guru saya (nabe) yang ada di Ubud, dan di sana saya bertemu sosok wanita suci yang sangat luar biasa. Awalnya saya sangat mengaguminya,” ujarnya.


Ia menerangkan, berawal dari mengagumi dan intensitas pertemuan yang semakin sering membuat benih-benih cinta semakin berkembang. “Awalnya saya hanya mengagumi dia. Di mata saya dia wanita hebat. Tidak mudah untuk berada di posisinya, dengan usia yang masih muda dan dengan tanggung jawab yang besar,” ungkapnya.


Sama-sama intens dalam kegiatan keagamaan membuat mereka semakin sering bertemu. “Di asrham saya yang di Amerika sering mengadakan upacara keagamaan, atas saran guru saya di Ubud, dia Ni Komang Widiantari (Ida Pandita Mpu Budha Maharesi Alit Parama Daksa) saja yang membantu memimpin upacara atau prosesi tersebut. Nah sejak saat itu kami akhirnya sering bertemu pada kegiatan keagamaan,” ungkapnya.


Seiring berjalannya waktu, rasa kagum yang ada di benaknya ternyata tumbuh rasa ketertarikan. “Saya yang awalnya menyadari rasa ketertarikan itu. Ketika saya ungkapkan dia menolak saya dan mengatakan bahwa dia tetap ingin menjadi Sulinggih,” ungkapnya.


Namun, rasa cinta yang dimilikinya akhirnya disambut juga. Terbukti kini wanita 32 tahun tersebut akhirnya menjadi istrinya. “Saya hargai seluruh pengorbanannya. Saya akan tetap membantu dia menjalankan dharma meski ia kini tak lagi menjadi seseorang yang dianggap suci,” ungkapnya.


Ia berharap keputusan mereka tidak menjadi sebuah masalah. “Saya harap semua pihak menghargai keputusan kami. Karena bagaimana pun kami berhak untuk bahagia,” ungkapnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#sulinggih #bangli #hindu