BALI EXPRESS, BANGLI - Desa Songan, Bangli yang terletak di sisi utara Danau Batur ini, menyimpan sejuta keunikan. Tak hanya keyakinan serta budayanya yang unik, Desa Songan juga dikenal memiliki jumlah anak – anak kembar terbanyak di Bali. Istimewanya lagi, mereka yang terlahir kembar diwajibkan melakukan ritual Pawintenan untuk menjadi seorang Jro Kembar.
Jro Kembar adalah sebutan masyarakat Desa Songan untuk anak – anak kembar yang telah diwinten atau disucikan serta dibuatkan palinggihan khusus di halaman rumahnya. “Tradisi yag selama ini ada di Desa Songan, Mawinten berlaku bagi mereka yang terpilih dan mendapat petunjuk niskala. Nah, bagi anak kembar itu pengecualian. Mereka yang terlahir kembar wajib juga melakukan prosesi Mawinten untuk menjadi Jro Kembar,” ujar Bendesa Desa Pekraman Songan, Bangli, Jro Temu, ketika ditemui Bali Express ( Jawa Pos Group) di kediamannya, pekan kemarin.
Alasannya, semua anak kembar di Desa Songan dianggap Suci. “Mereka dianggap suci, sama seperti halnya Dewa Dalem atau Dewa Kembar yang terlahir di lingkungan keluarga mereka. Makanya, lebih cepat diwinten akan lebih baik. Memang aturannya ada batasan umur, minimal di usia enam bulan mereka sudah bisa diwinten,” paparnya.
Jro Temu mengatakan, ada beberapa pantangan dan prosesi khusus yang tidak boleh dilanggar anak kembar. “Mereka tidak boleh makan daging sapi serta daging babi. Bagi Jro Kembar, tiap enam bulan sekali ada ritual khusus yang mereka lakukan di Pura Dewa Dalem, mereka harus hadir dan tidak boleh bolos kecuali sedang cuntaka. Kalau cuntaka atau sebel (kotor), mereka tidak diwajibkan hadir, namun tidak boleh bepergian atau keluar dari wilayah desa,” jelasnya.
Selain prosesi khusus, para Jro Kembar juga wajib bersembahyang dan menghaturkan persembahan rutin di palinggihannya. “Tiap hari mereka diwajibkan bersembahyang, mereka juga wajib mabanten dan menghaturkan banten,” ungkapnya.
Bendesa Desa Pakraman Songan ini berharap agar masyaakat selalu berpegang teguh pada adat serta budaya yang selama ini mereka pertahankan. “Ini semua warisan leluhur kita, leluhur pasti sudah memikirkan cara yang terbaik untuk kehidupan kita. Kalau bukan kita yang menjaga lalu siapa lagi," ujarnya. (habis)
Editor : I Putu Suyatra