BALI EXPRESS, DENPASAR - Sekte Bhairawa dikenal sebagai aliran yang menganut ajaran kiri dari Tantra. Sekte ini juga dikenal sebagai kelompok yang mempraktikkan ritual magis terbilang menyeramkan. Bahkan,
menganggap kuburan dianggap tempat yang paling suci?
Banyak misteri dan rahasia yang terkandung dalam Tantra. Namun, yang tidak semua anggota sekte atau kelompok yang mengetahui kebenaran ajaran tersebut. Lantas, apa sesungguhnya ajaran Bhairawa Tantrayana tersebut?
Sekte Bhairawa berasal dari Kerajaan Benggala Timur, India pada abad Ke-6. Dalam perjalanannya, sekte ini menyebar ke wilayah Tibet hingga ke Asia Tenggara. Sekte Bhairawa dikenal sebagai sekte rahasia, dan sekte ini memiliki cara yang berbeda dalam mencapai Moksa. Pada Prasasti Suroaso yang berangka tahun 1297 ini, memaparkan dengan jelas segala aktivitas sekte Bhairawa, khususnya di Nusantara. Dalam prasasti tersebut diceritakan bahwa Raja Adityawarman diangkat sebagai Ksetrajnya. Ksetrajnya memiliki arti ia yang tertinggi atau ia yang telah mencampai kebebasan jiwa tertinggi.
Dalam Prasasti Suroaso dijelaskan, Adityawarman ditasbihkan sebagai Ksetrajnya dengan nama Wicesadharani yang berarti seorang yang memiliki konsentrasi tinggi. Dalam prasasti terdapat gambar yang menjelaskan Adityawarman tengah ditasbihkan sambil bersemayam dengan kesunyian di sebuah tempat duduk berupa tumpukan mayat. Adityawarman digambarkan sambil tertawa sebagai setan dan minum darah.
Mayat – mayat tersebut terlihat seolah menyala – nyala dan menebarkan bau yang sangat busuk. Namun, Raja Adityawarman seakan menikmati dan duduk berlama – lama di atasnya. Konon, yang dirasakan sang raja bukanlah bau busuk, melainkan bau semerbak bunga yang wangi. Inilah salah satu gambaran ekstrem Bhairawa.
Aktivitas Sekte Bhairawa yang dianggap nyeleneh, tak ditampik ahli Tantra asal India, Shri, Sri 1008 Shri Pihapem Phitadiswara, Tantrik Yogi Rhames Ji Maharaja.
Tokoh spiritual dari Allahabad, India Utara ini, membenarkan adanya Sekte Bhairawa. Bahkan, diakuinya masih tetap eksis dan aktif, khususnya di India bagian Timur. “Dalam ajaran Tantra, aliran Bhairawa memang ada. Tak ada ajaran yang salah hanya saja ada beberapa kelompok yang salah mengartikan ajaran tersebut dan berperilaku yang jauh berbeda dari inti ajarannya,” tegas pria yang populer disapa Guru Ji Rhamesh kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) di Ashram Paramadharma, Padanggalak, Sanur, kemarin.
Rhamesh yang kerap berbincang dengan Bahasa Hindi dengan tokoh sipitual asal Ubud, Rasa Acharya Prabhuraja Darmayasa ini, menjelaskan, ajaran Bhairawa Tantrayana memiliki inti ajaran yang disebut Panca Makara atau Puja Malima. Panca Makara merupakan lima ajaran inti yang digunakan sebagai dasar dan acuan dalam mencapai Moksa. “Dasar ajarannya disebut Panca Makara, yaitu lima dasar ajaran tersebut adalah Matsya, Mamsa, Madhya, Mudra, dan Maithuna,” ujar Rasa Acharya Prabhuraja Darmayasa yang baru saja menerima penghargaan dari India sebagai orang yang berjasa dalam mengembangkan kebudayaan Hindi.
Darmayasa menerjemahkan paparan Ramesh, bahwa Matsa dalam bahasa Sansekerta berarti ikan. “Penganut Sekte Bhairawa yang menyimpang biasanya mengartikan harus memakan ikan agar bisa Moksa. Padahal tidak demikian. Ajaran Bhairawa yang sesungguhnya justru tidak menganjurkan seseorang untuk menangkap dan memakan ikan agar dapat mencapai Moksa,” ungkapnya.
Selain Matsya, ada juga Mamsa yang terdapat dalam Panca Makara. “Mamsa artinya daging, dan umumnya mereka yang salah kaprah menganggap Mamsa artinya harus makan daging. Semua daging, bahkan tak jarang beberapa oknum juga nekat memakan daging manusia sebagai pemenuhan unsur mamsa ini. Padahal itu keliru, yang dimaksud bukan harus makan daging, tapi kita sebagai manusia yang memiliki kesadaran mencapai Moksa harus menahan keinginan untuk memakan daging. Sebagai penghormatan kepada Sang Pencipta yang berada pada tubuh tiap makhluk sebagai Sang jiwa,” ungkapnya.
Selain Matsya dan Mamsa ada juga dasar ajaran yang disebut Madhya. Madhya dalam Bahasa Sansekerta berarti minum. “Makna tersiratnya adalah jangan pernah menyentuh minuman, selain yang tercipta murni, seperti air putih, untuk mencapai kesempurnaan jiwa mencapai Moksa. Namun, sebagin penganut Sekte Bhairawa justru menerjemahkannya harus minum, terutama yang beralkohol sebanyak – banyaknya. Anggapan seperti itu justru bertentangan dengan ajaran Bhairawa,” ujar Ramesh yang ahli membuat Raksha Kavacha, semacam pasikepan untuk memproteksi seseorang dari gangguan Black Magic dan sihir.
Selanjutnya, Mudra dalam Panca Makara berarti tarian yang mencapai klimaks. Pengikut Sekte Bhairawa umumnya sangat gemar menari, mereka tidak akan berhenti menari sebelum mencapai klimaks atau kelelahan. Dalam tiap ritual, Sekte Bhairawa memang biasanya diselipi acara menari, karena memang berkaitan dengan ajaran Mudra dalam Panca Makara.
“Secara umum Mudra memiliki banyak arti, ada yang mengartikan sebagai menari hingga lemas, ada juga mengartikan sebagai makanan yang sudah direbus. Nah kebanyakan orang mengira menjalankan Mudra harus menari hingga lemas pada saat prosesi ritual. Padahal bukan begitu, yang benar adalah kita sebagai manusia harus meninggalkan pergaulan yang dianggap tidak baik. Jika kita masuk dalam lingkungan yang tidak baik, kita pun akan menjadi tidak baik,” jelasnya.
Terakhir Ramesh menjelaskan mengenai ajaran Maithuna yang terdapat dalam Panca Makara sebagai dasar Sekte Bhairawa. Menurutnya, Maithuna yang paling besar dampak kesalahpahamannya. Maithuna artinya hubungan seksual. " Banyak yang keliru, menganggap dengan berhubungan seks sebanyak mungkin, akan dapat mencapai Moksa dengan mudah.
Makanya, jangan heran mereka yang menyimpang kerap kali melakukan ritual nyeleneh dengan melakukan hubungan seksual beramai ramai, lalu menganggap cara itu hal yang sesuai dengan ajaran Maithuna. Padahal itu sangat salah. Maithuna adalah pencapaian tersulit dari ajaran Bhairawa, yaitu membangkitkan Cakra Kundalini untuk kemudian membuka kedelapan cakra lainnya sebagai pintu mencapai Moksa," urainya.
Seks terkait terbukanya Cakra Kundalini? " Justru caranya dengan cara tidak melakukan hubungan seksual sembarangan, karena hubungan seksual adalah sifat indriya berupa hawa nafsu,” tegasnya.
Menurutnya, seperti halnya kitab suci, Ajaran Bhairawa ataupun Tantra adalah ajaran yang memiliki makna tersirat bukan tersurat. “Tersirat berarti makna yang dimaksud sesungguhnya tersembunyi dalam tiap katanya. Nah, inilah yang membuat beberapa orang salah menerjemahkan maksud dari ajaran Bhairawa sehingga dikatakan ajaran kiri. Padahal bukan ajarannya yang menyimpang, tapi oknumnya yang menyimpang dari ajaran,” beber
Rasa Acharya Prabhuraja Darmayasa mengutip penjelasan Ramesh yang dibeber dengan Bahasa Hindi ini. Sama seperti ajaran Tantra lainnya, Bhairawa juga mengagungkan Shakti sebagai yang tertinggi. “Pemujaan tertinggi dalam ajaran Bhairawa yaitu kepada Durga atau Dewi Parwati. Karena dalam ajaran Tantra secara umum, Siwa tanpa Shakti adalah mayat tanpa jiwa. Purusa dan Pradana akan melahirkan kehidupan. Purusa tanpa Pradana hanya onggokan daging tanpa jiwa,” jelasnya.
Ramesh menjelaskan, aliran Bhairawa umumnya melakukan ritual di kuburan atau Setra. “Kuburan bagi aliran Bhairawa adalah tempat paling suci, karena tempat tersebut mengajarkan ilmu kekal atau ilmu pasti. Yakni setiap kehidupan pasti akan memiliki akhir, yaitu kematian. Maka jangan heran aliran ini memang sangat identik dengan kuburan,” jelasnya.
Baginya tidak banyak sekte yang benar – benar menjalankan ajaran Bhairawa dengan semestinya. “Mereka yang salah menafsirkan lalu mengatasnamakan diri sebagai Sekte Bhairawa hanyalah pembenaran untuk perbuatan tercela yang mereka lakukan. Semua pembunuhan, ataupun perbuatan dosa tetaplah dosa,” ujarnya.
Ketika ditanya, benarkah dalam ajaran Bhairawa diperbolehkan mengorbankan gadis perawan sebagai media atau yadnya dalam ritual Sekte Bhairawa? Lelaki yang akrab dipanggil Guru Ji ini membantah dengan tegas. “Mungkin saja beberapa orang ada yang melakukan itu, lalu mengklaim itu ajaran dari Sekte Bhairawa, tapi pada ajaran Tantra yang sesungguhnya hal itu adalah kesalahan besar, sebab gadis perawan dianggap dan dipuja sebagai dewi. Karena ia simbolisasi dari kesucian Sang Shakti sebagai ia yang tertinggi,” jelasnya.
Ramesh berharap, masyarakat agar tidak mudah percaya begitu saja, ketika ada orang yang mengaku ahli Tantra ataupun penganut Sekte Bhairawa. “ Ada yang mengaku sebagai seorang Tantrik di India. Ia menganjurkan masyarakat untuk berbuat dosa seperti pesta seks dan perbuatan lainnya. Setelah diselidiki ternyata ia memang punya tujuan untuk memecah masyarakat Hindu dan umat lainnya di India,” tandasnya.