Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pro Kontra Kurban Suci Sapi untuk Ritual Hindu (1)

I Putu Suyatra • Senin, 24 September 2018 | 16:44 WIB
Pro Kontra Kurban Suci Sapi untuk Ritual Hindu (1)
Pro Kontra Kurban Suci Sapi untuk Ritual Hindu (1)


BALI EXPRESS, DENPASAR - Sapi bagi umat Hindu, salah satu hewan yang disucikan. Di sisi lain, hewan ini juga menjadi bagian ritual untuk dipersembahkan. Tradisi ini dinilai sekelompok orang bertentangan dengan nilai-nilai Dharma. Lantas, bagaimana sejatinya yang mesti terjadi?


Perlindungan terhadap hewan, terutama sapi adalah perwujudan ajaran Ahimsa di dalam Hindu Dharma. Pustaka suci Hindu mengajarkan prinsip 'Ahimsa Paramo Dharmah' yang berarti Ahimsa ( tidak membunuh) adalah Dharma tertinggi. Dengan alasan itu pula, sekelompok orang berpendapat bahwa penyembelihan sapi untuk alasan apa pun, termasuk di dalam ritus-upacara maupun untuk dikonsumsi, sangat bertentangan dengan nilai-nilai Dharma.


Bagaimana peneliti budaya I Ketut Sandika S.Pd.,M.Pd. yang juga secara langsung bersentuhan dengan ritus ritus keagamaan menanggapinya? Dosen Ilmu Yoga dan Kesehatan IHDN Denpasar ini, berupaya bijak menyikapi dan netral dalam hal ini, terkait dengan adanya sikap berlawanan (kontra), yang menghendaki pelarangan pembunuhan sapi, baik sebagai Caru (ritual) dan dalam bentuk apa pun.  Bahkan, ritual menggunakan kurban hewan disinyalir berefek bemcana terhadap alam.


Kajian sekelompok orang ini, menggelitik pria asal Klungkung ini,  untuk membeber tentang ritus penggunaan sapi atau kerbau dalam praktik beragama Hindu di Bali. "Saya hanya menyampaikan sepanjang pengetahuan saya tentang ritual tersebut, dan dari apa yang saya alami serta bersentuhan langsung dengan ritus-ritus upacara yang demikian," urai pria yang baru saja meluncurkan buku Siwa Tattwa ini,  kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar, akhir pekan kemarin.


Menurut  pria yang juga dosen IKIP PGRI Bali ini, jika media asing menulis bahwa penggunaan hewan dalam ritual di Bali pegunungan sangat mengagumkan sebagai sebuah ritual kosmos yang sarat dengan nilai, justru dirinya merasakan lebih daripada itu.


"Pengorbanan hewan sapi atau kerbau pada saat ritus Yadnya tertentu, tidak saja mengagumkan dan sarat nilai, tetapi ada getaran spirit yang tidak saya dapat jelaskan dengan kata-kata, bahwa hewan  begitu gembira untuk dikurbankan, sebab dengan cara demikian adalah bhakti dan pengorbanan sesungguhnya," urainya.


Peneliti budaya, dosen, dan penulis I Ketut Sandika S.Pd.,M.Pd mengatakan, penggunaan sapi atau kerbau adalah lumrah digunakan sebagai sarana persembahan, dan itu pun dilakukan pada tingkatan upacara tertentu dan khusus. "Sapi atau kerbau  tidak disembelih secara massal. Bahkan, kata sembelih pun tidak tepat menggambarkannya, sebab 'mereka' tidak merasa disembelih, tetapi dikurbankan dalam ruang sakral, dan bukan untuk memuaskan rasa lapar," terang Sandika.


Kemudian dalam pengurbanan itu pun, lanjut penulis buku Tantra ini, ada prosesi yang ringid dan sakral bercampur mistik dan estetik, sehingga tidak tampak adanya pembunuhan massal sebagaimana sapi atau kerbau disembelih dengan cara yang keji. "Sapi atau kerbau disucikan terlebih dahulu, dihias dan dimandikan dengan air suci, dan sebutannya bukan lagi sapi atau kerbau, tetapi Jero Gede yang bermakna pada kemuliaan kurban suci yang disakralkan," terangnya.


Tidak saja sapi atau kerbau yang disucikan, lanjut Sandika, tetapi juga sarana lainnya yang digunakan untuk mengurbankan sapi, dan yang mengurbankan itupun adalah orang-orang yang dianggap mampu dalam pengkhususan yang sakral.Kemudian setelah diprosesi sedemikian rupa, sapi dikurbankan dan mantra khusus dirafalkan untuk 'Nyupat' atau mengangkat status sang roh dari sapi dengan harapan kelahiran berikutnya ia menjadi orang suci (lebih baik).


Lantas, darimana diketahui bahwa roh hewan tersucikan?


"Pertanyaan yang tidak mendasar sesungguhnya. Sama dengan menanyakan, kenapa perempuan itu cantik dan laki-laki itu tampan. Tetapi, semua pertanyaan apapun bisa dijawab ketika kita mengunakan 'rasa'," ujar Sandika.


Ditegaskannya, beragama Hindu di Bali adalah beragama 'rasa', dan apa pun praktiknya pasti menggunakan rasa itu. "Pelaku ritual tersebut tidak akan pernah memikirkan bahwa hewan akan menderita dikurbankan, tetapi sebaliknya ada kegembiraan dalam diri sang hewan. Bahkan, saya pernah mendengar cerita tetua saya, pada saat upacara Eka Dasa Rudra di Besakih menggunakan semua jenis hewan, dan kebanyakan mereka datang sendiri ke pura 'menawarkan' diri untuk dijadikan persembahan. Bahkan, kata tetua saya, burung Merak terbang dan hinggap di pura mendekati sang Yajamana untuk dirinya dikurbankan demi seimbangnya bumi," urainya.


Dikatakan Sandika, sejatinya hewan dikurbankan dalam ritual adalah simbolisasi dari Samkertih atau proses penghalusan siklus energi dari Bhuta ke Hita. Dalam prosesnya itu, hewan dikurbankan sebagai simbol peleburan, dan setelah sapi atau kerbau dipotong dirangkai kembali. Kepala sapi ditempatkan ke arah gunung dan ekor ke arah lautan. Kemudian dagingnya diolah digunakan sarana upacara dan kulitnya dijadikan alas upakara, sarana persembahan yang lazim disebut Bayang-Bayang. Semua itu adalah pertanda magis dan mistik dari konsep 'rasa' dimana kepala sapi atau kerbau menghadap Utara melambangkan gunung sebagai Linggachala dimana Siwa akan dicapai oleh mereka yang berada diantara dua tanduk sapi atau kerbau. Dua tanduk melambangkan dualitas. Jadi menuju Siwa hendaknya seseorang dapat berada diantara dualitas, bukan melakukan penghakiman dengan berada pada putih menolak hitam.


Ekor diletakkan mengikuti arah Selatan (laut), simbolisasi penyucian dan pemurnian segala kekotoran diri dan jagat. "Jadi, seseorang tidak mesti selalu melihat Siwa sebagai kesucian (dewani atau divine energy), tetapi Ia juga adalah bhuta (dark energy). Untuk menghubungkan antara dua karakteristik energi tersebut, lanjutnya, maka diletakkan kulit sapi atau kerbau sebagai alas upakara, perlengkapan yadnya  sebagai simbolisasi Hita (harmoni). Setelah prosesi selesai, kepala, kulit dan daging sapi atau kerbau ditanam ke pertiwi sebagai simbol perjumpaan spirit Bapa Akasa dengan Ibu Pertiwi. Diharapkan dengan itu, kesuburan dan keseimbangan jagat akan terjaga dengan baik.


"Lantas, dimanakah ada penyembelihan massal itu, dan berdampak pada bencana dari alam. Justru kepercayaan setempat, tidak dikurbankannya sapi atau kerbau pada saat upacara tertentu akan menimbulkan epidemi dan itu sudah dibuktikan berulang kali," ,bebernya.


Dan, banyak lagi sesungguhnya prosesi dari ritual itu yang tidak diketahui, sehingga banyak beranggapan prosesi itu sebagai penyembelihan massal. "Saya pun tidak mendukung penyembelihan massal, sebab akan merusak ekosistem dan siklus kehidupan. Tidak ada pemikiran, bahkan secuil pun dari mereka untuk menyembelih hewan apa pun secara massal," papar Sandika. Adakah kajian khusus yang lain? Baca tulisan berikutnya. (bersambung)

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #tradisi #tradisi unik