BALI EXPRESS, MANGUPURA - Tradisi Aci Tabuh Rah Pengangon atau yang biasa disebut Siat Tipat Bantal kembali diselenggarakan Senin(24/9). Tradisi tahunan yang diselenggarakan Desa Pakraman Kapal ini berlangsung selama 30 menit. Aci Tabuh Rah Pengangon terdiri dari tiga buah kata yaitu Rah yang berarti Tenaga atau energi, Tabuh yang berarti menebarkan, Aci yang berarti persembahan dan Pengangon merupakan nama lain dari Sang Hyang Siwa.
Hal itu yang dipaparkan Bendesa Adat Desa Pekraman Kapal, Ketut Sudarsana. “Prosesi Siat Tipat ini dilaksanakan bertepatan dengan sasih Kartika (kapat) penanggalan molas (purnama kapat). Menurut sastra Kuno disebutkan sasih Kartika merupakan sasih dimana sang Semara dan Ratih turun ke Mercepada untuk memberikan berkat, kesejahteraan dan penghidupan kepada masyarakat. Tradisi ini pun memiliki kaitan dengan mitologi itu,” terang Sudarsana.
Lanjutnya, dari mitologi Semara Ratih munculah simbolisasi purusa dan pradana berupa tipat dan bantal. “Tipat itu simbol kelamin wanita dan bantal adalah simbol alat kelamin laki – laki. Kenapa ketika prosesi dilempar kearah berlawanan? Tujuannya kan agar tipat dan bantal itu bertemu di udara. Dari pertemuan kedua simbol itu maka akan terciptalah kehidupan baru,” jelasnya. Prosesi yang telah ada sejak tahun 1339 ini di ikuti oleh 18 banjar adat.
“Jadi tahun ini kami menyediakan 60 ribu tipat dan bantal yang akan digunakan sebagai sarana prosesi. Tipat itu diberikan subangsih dari tiap kepala keluarga. Tiap rumah menghaturkan 6 biji tipat dan 6 biji bantal. Tipat itu dikumpulkan sehari sebelum pelaksanaan aci,” tegasnya.
Prosesi diawali dengan persembahyangan bersama yang dipimpin Jro Mangku Desa dan Jro Bendesa Pekraman Kapal. Kemudian dilanjutkan dengan persembahan tari baris dan tari rejang renteng. “Setelah tarian pembukaan, ada siat tipat bantal kecil yang dilakukan di jaba pura. Itu hanya simbolisasi agar tamu kehormatan dapat ikut serta merasakan,” terangnya.
Sudarsana menambahkan pada prosesi siat tipat bantal di jaba pura wanita harus berada di sisi selatan atau pada sebelah kiri. Dan laki – laki berada di sebelah kanan. “Kenapa? Karena purusa memang harus berada di sebelah kanan, sedangkan predana harus disebelah kiri. Mereka akan berhadap – hadapan wanita akan melempar tipat dan laki – laki akan melempar bantal, kedua benda itu harus bertemu di udara jadi bukan untuk saling mengenai pihak lawan ya,” jelasnya.
Sudarsana menjelaskan tipat dan bantal sisa dari prosesi biasanya akan dikumpulkan dan digunakan sebagai pupuk. “Secara analogi itu bisa menjadi pupuk, secara niskala tipat dan bantal itu dipercaya akan membawa rezeki jika diletakkan di kebun, ladang ataupun halaman rumah. Maka jangan heran jika masyarakat banyak yang mengumpulkan itu,” jelasnya.
Usai siap tipat di jaba pura, selanjutnya prosesi siat tipat bantal dilakukan di depan Pura Desa Pekraman Kapal. Di sana telah menunggu puluhan masyarakat desa Kapal yang telah siap memegang tipat beserta bantalnya. Pertempuran sengit mewarnai prosesi siat tipat bantal yang dimulai pukul 16.00 sore tersebut. Setiap orang terlihat tertawa lepas ketika berhasil mengenai lawannya. Hal itu juga Nampak di wajah salah satu peserta prosesi, Anom Adi Baskara (18), menurutnya prosesi aci tahun ini dirasa begitu meriah. “Tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun ini tahun ke-9 kalinya saya ikut prosesi Aci, dan tahun ini yang paling meriah. Ada tarian pembuka, dan peserta yang ikut juga lebih banyak,” jelasnya.
Ketika ditanya apakah ia merasa dendam? Adi hanya menggeleng tersenyum. “Tidak ada dendam, kami sama – sama mengerti ini sebagai wujud bhakti bukan ajang musuhan. Dan saya sangat senang tahun ini masih bisa menjadi bagian dalam prosesi,” jelasnya mengakhiri.
Editor : I Putu Suyatra