Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Melanlan dan Kisah Yuyu Besi

I Putu Suyatra • Jumat, 5 Oktober 2018 | 18:07 WIB
Tradisi Melanlan dan Kisah Yuyu Besi
Tradisi Melanlan dan Kisah Yuyu Besi


BALI EXPRESS, BANGLI - Pura Kehen di Bangli memiliki prosesi upacara besar yang dilakukan setiap tiga tahun sekali. Ada sebuah ritual unik yang hanya dilakukan pada saat Karya Agung Bhatara Turun Kabeh, yaitu tradisi Melanlan. Apa uniknya, bagaimana soal Yuyu Besi dan Lindung Besi?


 


Pada saat upacara besar berlangsung di Pura Kehen, Bangli, secara bergiliran desa –desa panyungsung akan menghaturkan tarian sakral yang disebut Pekenak, yaitu berupa Baris Dapdap, Baris Perasi, dan Baris Gowak.


 


Bahkan, persembahan tersebut dilengkapi juga dengan tarian sakral lainnya, seperti Tari Nuek Kebo dan Tari Rejang. Secara simbolis, Tari Rejang ditarikan oleh gadis – gadis yang masih perawan dan akan menghaturkan Sesaji Pekenak agar Ida Bhatara yang tedun merasa senang.
Dalam Sesaji Pekenak tersebut  para gadis perawan akan menghaturkan Canang Tubungan (Sesaji Tubungan) sebagai wujud rasa hormat kepada Tuhan.


Canang Tubungan berisi beberapa bentuk upakara, seperti Canang Penubung atau Canangsari, Nasi Sulanggi atau Pangkonan yang ditambahkan dengan Jaja Ketan, Sate makaput, dan pasepan atau perapian. Jro Mangku Gede Penyarikan Pura Kehen, I Nengah Mustika mengatakan, yang unik adalah proses pembuatan dari Jaja Ketan dalam nasi Sulanggi, karena harus   dibuat oleh wanita perawan (belum datang bulan) dan laki – laki perjaka (belum akil balik) atau wanita yang telah memasuki masa menopause.


Menurut Mustika, wanita yang belum datang bulan dan masih perawan dianggap belum memiliki sifat keduniawian. " Wanita yang belum datang bulan dan masih perawan, laki –laki yang belum akil balik dan wanita yang sudah menopause tidak terikat oleh hasrat duniawi. Artinya, mereka masih suci dan tidak memiliki nafsu,” terangnya.  Syarat tersebut, lanjutnya, terkait dengan persembahan yang dihaturkan harus suci. Pura Kehen memang terlihat beda. Di dalam pelataran pura terdapat beberapa palinggih dan tempat pemujaan yang  khas dan unik. Tercatat ada 43 buah pemujaan yang  merupakan palinggihan Ida Bhatara yang disungsung di beberapa pura besar di Bali, diantaranya  Pura Panaajon, Pura Gunung Agung, Pura Panglipuran Bangli, dan Pura Pancering Jagat Desa Trunyan.


Di sisi Timur Mandala Utama ning Utama Pura Kehen, terdapat sebuah palinggih Ratu Bagus Trunyan. "Dalam sebuah lontar yang ditemukan di Pura Pancering Jagat Trunyan, tertulis hubungan timbal balik antara Pura Kehen dengan Pura Ratu Gede Pancering Jagat di Trunyan. Lontar yang disadur ulang oleh seorang peneliti di tahun 1924 itu, menjelaskan kisah Yuyu Bessi dan Lindung Besi ketika Bangli dan Gianyar mengalami masa Paceklik,"  papar Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kabupaten Bangli, Ketut Wahya ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin. Ia menjelaskan dalam lontar diceritakan, bahwa dahulu air Danau Batur mengalir ke seluruh Bangli hingga wilayah Gianyar. Namun,  air yang mengalir dari Danau Batur tiba – tiba terhenti tanpa sebab yang jelas. Raja Bangli yang ketika itu berkuasa, Sri Adhikunti Ketana akhirnya membuat  Yuyu ( Kepiting ) Besi dan  Lindung ( Belut ) Besi.



Ketika Raja Bangli sibuk mempersiapkan Yuyu Besi dan Lindung Besi, lanjut Wahya, turunlah sabda Ida Hyang Tanda (Bhatara di Pura Kehen) agar kedua benda tersebut ditenggelamkan ke dasar Danau Batur. Dalam sabda tersebut juga dititahkan ketika kedua benda tersebut berhasil mengalirkan kembali air ke wilayah Bangli dan Gianyar, hendaknya kedua benda itu diangkat kembali dan distanakan. “Kepiting besi dan lindung besi itu bukan sekadar sebuah alat berbentuk Yuyu ataupun Lindung. Kedua alat itu diberi kekuatan khusus agar dapat membuat jalan air dan air bisa kembali mengalir sepanjang wilayah Bangli dan Gianyar,” bebernya.


Dari kisah inilah akhirnya Hyang Da Tonta Ratu, Bagus Yuyu Besi dan Lindung Besi akhirnya disucikan dan dikeramatkan oleh krama Desa Trunyan. "Dahulu ketika akan distanakan, Hyang Da Tonta Ratu , Bagus Yuyu Besi, dan Lindung Besi  harus datang ke Pura Kehen sebagai simbol permohonan izin. Nah ini cikal bakal mengapa setiap ada yang akan membangun sebuah palinggih atau merenovasi pura di Trunyan harus matur piuning di Pura Kehen dulu, karena di sini adalah wit atau asalnya,” terangnya.


Tak hanya ketika akan membangun sebuah palinggih, Hyang Da Tonta Ratu, Ida Bhatara Bagus Yuyu Besi, dan Lindung Besi juga ikut dalam setiap prosesi besar di Pura Kehen. “Ketika prosesi Panca Wali Krama dan Ngusaba Dewa yang akan digelar 24 Oktober, seluruh Ida Bhatara di Pura Pancering Jagat Trunyan juga akan ikut dalam Usaba Dewa.  Secara sastra dikatakan Bhatara disana adalah menantu dari Ida Bhatara yang ada di Pura Kehen,” jelasnya.
Ketut Wahya menuturkan, ada cerita rakyat tentang siapa itu Ratu Bagus Yuyu Besi  dan Lindung Besi. Konon tersebutlah Ratu Bangli yang mempunyai putri yang diberi nama Hyang Daha. Ia tinggal di Pasraman Taman Sari.


Dikisahkan pula bahwa Raja Trunyan mempuyai seorang putra yang bergelar Ratu Bagus. Setelah sama – sama dewasa, Ratu Bagus jatuh cinta dengan dengan Hyang Daha, dan keduanya menjalin kasih kemudian menikah dan menetap di Bangli. Pada saat air Danau batur kering, Raja Bangli membuat Kepiting dan Lindung Besi. Setelah diberi kekuatan oleh Hyang Pemayun di Kehen, diutuslah menantu dan putrinya untuk menenggelamkan pusaka tersebut ke dasar Danau Batur. Setelah beberapa lama, air danau kembali mengalir dengan normal, pusaka tersebut diangkat kembali dan dikramatkan dan disungsung oleh seluruh masyarakat Trunyan.


Selain Palinggih Ratu Bagus Trunyan, ada pula Palinggih Ratu Ayu Maspahit yang terdapat di bagian Timur. Ratu Maspahit merupakan Ida Bhatara Sungsungan yang malinggih di Pura Penglipuran Bangli. Yang unik, Palinggih Ratu Maspahit  berupa gedong beratap bambu. Hal tersebut konon dilatarbelakangi kenyataan bahwa Desa Penglipuran Bangli merupakan penghasil Bambu terbesar di Kabupaten Bangli. Hubungan antara Pura Kehen dengan Pura Penglipuran memang terjalin erat. Hal itu dibuktikan dengan kenyataan setiap upacara di Pura Kehen, maka Desa Penglipuran akan ikut ngiringan Ida Bhatara Penglipuran dan ditempatkan di Bale Lantang  Pura Kehen. “Tak hanya Ida Ratu Maspahit yang melancaran ke Pura Kehen ketika prosesi besar, sebaliknya  Ida Bhatara Pura Kehen juga melancaran ke Penglipuran ketika di sana melakukan prosesi besar,” pungkas Ketut Wahya. (habis)

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #bangli #hindu #tradisi unik