Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Upacara Ngendag, Ganti Jenazah dengan Pohon Pisang sebelum Diaben

I Putu Suyatra • Rabu, 21 November 2018 | 19:37 WIB
Upacara Ngendag, Ganti Jenazah dengan Pohon Pisang sebelum Diaben
Upacara Ngendag, Ganti Jenazah dengan Pohon Pisang sebelum Diaben


BALI EXPRESS, DENPASAR - Saat Ngaben Massal, terdapat beberapa prosesi yang harus dilakukan terlebih dahulu. Mulai dari upacara Nuwasen, Mlaspas Genah, Ngulapin di Setra,  Ngendag Kuburan, Nyiramang, dan Ngajum Kajang. Dari rentetan prosesi tersebut, upacara Ngendag Kuburan terbilang yang paling unik.


 


Dalam prosesi Ngendag Kuburan, jenazah yang hendak diangkat untuk diambil (angkid), diganti dengan pohon pisang. Jadi, pohon pisang tersebut  dikubur ke dalam liang lahat.


Ida Mpu Yogi Swara dari Griya Uma Jati mengatakan, upacara Ngendag merupakan sarana yang digunakan untuk membangun serta menyampaikan pesan kepada Atman orang tersebut yang masih terikat Suksma Sarira, bahwa akan diadakan prosesi Pangabenan. Prosesi Ngendag umumnya dilakukan pada malam hari, sehari sebelum upacara puncak Pangabenan. 
Menurutnya, prosesi Ngendag  sangat penting karena  berkaitan dengan Atman orang yang akan diaben tersebut,  di mana tubuhnya selama ini dititipkan di pertiwi, masih  terkait dengan Stula Sarira, Suksma Sarira.


Upacara Ngendag, lanjutnya,  harus dilakukan sehari sebelum prosesi puncak Pangabenan. "Waktu yang tepat adalah malam sebelum prosesi puncak upacara Pangabenan.
Sebelum jenazah atau tulangnya diangkat, keluarga harus memohon izin di Setra, dan  menaruh pohon pisang di kuburan sebagai pengganti jenazah yang akan diambil,"ungkap Ida Mpu Yogi kepada Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin.



Upacara Ngendag dilakukan dengan tatacara khusus karena harus dilakukan pada malam hari. Pertama, keluarga besar datang ke Setra membawa banten pajati dan pasucian. Lengkap dengan pasilur (pengganti) bambang (kuburan) berupa ayam hitam dan pohon pisang.
Setelah menghaturkan banten Pangendag yang ditaruh di atas makam atau gundukan kuburan, keluarga  kemudian menepuk gundukan sembari memanggil nama keluarga yang akan diaben. "Menepuk ibaratnya kita sedang membangunkan dia yang telah meninggal. Makanya, ditepuk sembari memanggil namanya,"terangnya.



Selanjutnya keluarga akan menggali kubur  tak terlalu dalam karena prosesnya lebih ke simbolisasi, untuk dilaksanakan mengangkat jazad keesokan harinya," terangnya.
Keesokan paginya, keluarga  yang mengikuti Ngaben Massal akan ke Setra melaksanakan prosesi Ngangkid (mengangkat) tulang belulang. Setelah tulang diangkat, dilakukan upacara Pasilur Bambang. "Upacara Pasilur Bambang  bertujuan untuk memohon izin kepada Bhatra yang malinggih di Pura Prajapati sekaligus menggantikan jenazah atau tulang belulang yang  diambil," ujarnya.



Banten Pasilur Bambang satu bagian dari upacara Pangendag. Dalam banten Pasilur menggunakan ayam hitam yang dilepas di bambang kuburan. "Selain ayam hitam, juga menggunakan pohon pisang yang ditanam di liang lahat, yang fungsinya sebagai pengganti jenazah yang diambil untuk kemudian dilakukan proses Pangabenan," ujarnya.



Tak disanggahnya, masih banyak masyarakat yang tak tahu bagaimana pentingnya upacara Ngendag. "Selama ini masyarakat hanya tahu prosesi ngangkid itu hanya menggali lagi kuburan dan mengambil tulang. Padahal, sebelum Ngangkid tulang ada upacara yang harus kita lakukan," tandasnya.

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #tradisi