BALI EXPRESS, DENPASAR - Prosesi sungkeman sampai saat ini masih dilakukan masyarakat di luar Bali. Ritual model ini dahulu pernah menjadi ritual yang juga dilakukan masyarakat Bali Kuno. Namun sayang, tradisi yang disebut Pada Sevanam ini mulai jarang dilakukan lagi.
Sungkeman di dalam Veda dikenal dengan istilah ‘Pada Sevanam’. Pada artinya kaki, sedangkan Sevanam artinya pelayanan. Dalam Bhagavata Purana, Pada Sevanam dijelaskan sebagai bentuk sembah kepada Tuhan dengan bersujud pada kaki padma beliau. Untuk membangkitkan tradisi tersebut, Yayasan Dviipaantarasamskrtam Indonesia menggelar prosesi Matr Pitr Vandanam. Lalu, prosesi seperti apakah itu?
Vandanam dalam Bahasa Sansekerta berarti bhakti kepada Tuhan dengan jalan melakukan sembah dan bhakti. Dalam Bhagawadgita sloka XVIII.55 dijelaskan, Bhaktya mam abhijanati, yavan yas cha 'smi tatvatah' Tato tattvato mam jnatva
Visate tadanantaram. Artinya, dengan berbhakti kepadaku ia mengetahui siapa dan apa sesungguhnya aku dan dengan mengetahui hakikatku ia mencapai aku dikemudian hari. "Nah, dari sinilah dasar dari landasan Catur Marga yang selama ini kita kenal," jelas Pembina Yayasan Dviipaantarasamskrtam Indonesia, I Made Suyasa, ketika berbincang dengan Bali Express (Jawa Pos Group) pekan lalu.
Dalam acara Matr Pitr Vandanam setiap orang yang datang akan melakukan prosesi sujud kepada orang tua masing - masing. Sebagai tanda penghormatan kepada kedua orangtua. " Tradisi sungkem atau sujud ini sebenarnya dahulu sudah ada di Bali. Namun, saat ini nyaris punah. Hanya satu dua wilayah di Bali yang masih melaksanakan tradisi tersebut," terangnya.
Salah satu wilayah yang masih menerapkan tradisi sungkem adalah Desa Pakraman Pegubugan. Di sana tradisi sujud kepada orangtua dilaksanakan setiap sasih kedasa lewat tradisi Ngusaba Dodol. "Ya salah satu desa yang masih mempertahankan tradisi itu adalah Banjar Pegubugan, Manggis, Karangasem. Setiap Ngusaba Dodol biasanya masyarakat akan berkumpul ke rumah orangtua dan sanggah gede mereka. Lalu akan duduk dan Sungkeman sebagai bentuk hormat kepada orangtua," jelasnya.
Apakah sujud dan menghormati orang tua begitu penting? Salah satu pengajar yoga ini menjelaskan, banyak dasar sastra yang mewajibkan umat Hindu untuk selalu menghargai orangtuanya.
"Salah satu sloka dalam Bhagwadgita juga menerangkan soal pentingnya sujud dan hormat kepada orangtua yang berbunyi Matru Dewa Bawa, Pitru Dewa Bawa, Acharya Dewa Bawa, Atithi Dewa Bawa," jelasnya.
Arti dari sloka tersebut adalah : Ibu merupakan perwujudan Dewa, ayah merupakan perwujudan dewa, guru atau pencerah juga merupakan perwujudan Dewa. Dan, Atithi pun merupakan perwujudan Dewa. Mengapa ke empat unsur itu dikatakan perwujudan Dewa? "Dalam Bhagawadgita dijelaskan ibu yang melahirkan merupakan perwujudan Dewa Brahma sebagai pencipta kita di dunia, ayah adalah perwujudan Sang Wisnu sebagai pemelihara kita dan guru yang membuat kita yang sebelumnya awidya (tidak tahu) menjadi widya (tahu)," terangnya.
Pengertian sujud dan bhakti kepada orangtua juga dijelaskan dalam mitologi kisah Dewa Siwa, Ghanesa dan Dewa Kartika. Dalam kisah itu diceritakan Dewa Siwa mengadakan perlombaan untuk menjadi Dewa utama. Dengan mengikutsertakan Dewa Ganesha dan Dewa Kartika sebagai peserta. " Jadi, aturannya siapa yang bisa mengelilingi dunia sebanyak tiga kali ialah yang berhak dinobatkan sebagai Dewa Utama," terangnya.
Setelah mendengar aturan tersebut Dewa Kartika langsung memutari dunia dengan mengendari Meraknya. Sedangkan Ghanesa hanya diam dan terbengong di tempatnya. "Nah, saat itu Ghanesa berpikir, bagaimana bisa ia menang berlomba mengelilingi dunia. Sedangkan kendaraan yang ia miliki hanyalah seekor tikus? Nah di sana Ghanesa terus berpikir untuk mendapatkan jalannya," jelasnya.
Sampai akhirnya Narayana memberi solusi dengan mengelilingi kedua orangtuanya, maka Ghanesa dikatakan sudah mengelilingi dunia. Benar saja Ghanesa lalu pergi mencari Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Lalu ia melakukan Pradaksina, yaitu mengelilingi kedua ayah dan ibunya secara bersamaan. Dan, Ghanesa pun dinyatakan sebagai pemenang dan hingga saat ini dijuluki sebagai Dewa Utama. Pertanyaannya, mengapa mengelilingi kedua orangtuanya, lantas Ghanesa dinyatakan telah mengelilingi dunia? "Karena ibu adalah simbolis dari bumi pertiwi dan ayah adalah simbolisasi dari langit. Jadi, dengan mengelilingi kedua orangtuanya, maka Ghanesa dinyatakan telah mengelilingi dunia secara bersamaan," terangnya.
Lantas, apa maksud dari cerita tersebut? Pembina yayasan berkepala plontos tersebut menjelaskan, dalam mitologi itu kita diajarkan untuk selalu menghargai orangtua dalam kondisi apapun. Karena dengan berkat mereka apapun harapan dan cita - cita pasti akan terwujud.
"Nah cara menghargai orang tua tak hanya dengan sujud bhakti saja. Bisa dengan membantu pekerjaan mereka, merawat dan selalu ada ketika mereka butuh," jelasnya. Guna menegaskan tradisi tersebut akan digelar acara Matr Pitr Vandanam akan diselenggarakan 22 Desember di Gedung Lala Yoga Shala. "Nah acara ini kita buka untuk umum dan gratis. Syaratnya cuma membawa orangtua saja. Langsung datang ke Lala Yoga Shala di Jalan Raya Celuk, Sukawati, pukul 13.00 Wita," tandasnya.
Editor : I Putu Suyatra