BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Bagi mereka yang pernah berkunjung ke objek wisata Kertha Gosa, Klungkung, mungkin tak asing dengan keberadaan Pamedal Agung yang berada di sisi barat. Pamedal Agung ini bukan sebatas daya tarik wisata, melainkan juga dikeramatkan. Tak sedikit pamedek secara khusus sembahyang ke sana.
Pamedal Agung merupakan bangunan zaman Kerajaan Klungkung. Pemedal ini dulunya merupakan pintu utama keluar masuk Puri Semarajaya. Dibangun sekitar abad ke-17, bangunan dengan arsitektur khas Klungkung tersebut menghadap ke utara. Bangunannya terbuat dari batu bata dan batu padas. Ditambah pamor bubuk dan gula pasir sebagai perekatnya. Hingga kini, bangunan tersebut tetap berdiri kokoh. Tak sedikit pun ada bagiannya yang rusak atau diganti.
Saat Perang Puputan Klungkung 1908, kolonial Belanda sedikit pun tidak bisa merusak bangunan itu. Berbeda dengan sebagian besar bangunan puri lain yang dihancurkan kala itu. “Saat zaman kerajaan, pintu utama yang di tengah adalah pintu keluar masuk raja. Sedangkan dua pintu di sampingnya adalah pintu rakyat,” ujar panglingsir Gria Pidada Klungkung Ida Bagus Pidada Kaut pada Selasa (18/12) lalu.
Ditemui di kediamannya, dia menuturkan, berdasarkan cerita orang tuanya, Pamedal Agung dibangun dua sangging bersaudara asal Sesetan, Denpasar. Keduanya disebut bernama I Gusti Ungu dan I Gusti Kibul.
Sebelum membangun Pamedal Agung itu, Kibul yang hobi memancing di laut secara tiba-tiba melihat air laut surut, lalu muncul candi yang diyakini Candi Dwarawati. Kala itu dia mancing di wilayah Pantai Sidayu, Desa Takmung, Klungkung. Kemunculan candi tersebut, yang akhirnya menjadi inspirasinya dalam membangun Pamedal Agung. Bangunannya persis seperti candi yang dilihat sang sangging di laut.
Selain itu, posisi pamedal juga dipikirkan betul, yakni menghadap ke utara atau menghadap ke Gunung Agung, sebagai gunung tertinggi di Bali. Setahu dia, puri itu satu-satunya yang menghadap ke utara. “Siapa yang berniat merusak bangunan itu, akan melihat kawasan itu adalah laut. Itu pastu saat pembangunan Pamedal Agung,” ujar budayawan berusia 86 tahun itu.
Dikatakannya, saat Perang Puputan Klungkung, Belanda sebagai penjajah kala itu sebenarnya berniat merusak bangun tersebut. Namun saat berada di atas pamedal, malah melihat kawasan itu adalah lautan. Hingga kini, tidak ada yang berani melakukan rehab. Dikatakannya, sempat ada yang berniat mengecat bangunan itu, namun akhirnya batal karena tidak berani. Pun demikian dengan pintunya juga tidak ada yang berani membuka.
“Katanya setelah Perang Puputan, tidak ada berani membuka. Saya juga tidak tahu kalau misalnya dibuka. Mereka yang datang sebatas sembahyang, mohon keselamatan,” ungkapnya.
Pidada Kaut menyebutkan, mereka yang tangkil ke sana dengan berbagai tujuan dan kepercayaan masing-masing. Misalnya, percaya bahwa Pemedal Agung sebagai tempat mohon kedamaian dalam berumah tangga, serta memohon keselamatan.
Bahkan, tidak sedikit seniman tari yang tangkil ke Pemedal Agung agar metaksu saat pentas. Pidada Kaut yang juga seniman tari itu pun hampir setiap akan pentas menyempatkan diri sembahyang ke sana. Untuk membuktikan, bahwa sembahyang disana bisa membuatnya metaksu, seniman tari topeng ini pernah mencoba tidak sembahyang ke Pemedal Agung jelang pentas. Namun setelah sekitar 10 kali dia mencobanya, dia merasa ada yang beda saat dirinya pentas.
“Seperti makan sayur kurang garam atau makan nasi tanpa minum. Itu adalah kepercayaan. Susah dibuktikan dengan kata-kata,” sambungnya.
Pihaknya berharap Pemkab Klungkung bisa tetap melestarikan warisan leluhur itu. “Setelah Perang Puputan Klungkung lama tidak terawat. Tapi sekarang sudah bagus, sudah dilestarikan. Saya harap itu tetap dijaga,” harapnya.
Editor : I Putu Suyatra