Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Termakan Usia, Beberapa Tapel Sakral di Pura Meduwe Karang Mulai Rapuh

I Putu Suyatra • Rabu, 2 Januari 2019 | 21:04 WIB
Termakan Usia, Beberapa Tapel Sakral di Pura Meduwe Karang Mulai Rapuh
Termakan Usia, Beberapa Tapel Sakral di Pura Meduwe Karang Mulai Rapuh


BALI EXPRESS, SINGARAJA - Secara struktur Pura Maduwe Karang di Desa Kubutambahan, Buleleng, terdiri dari tiga bagian. Yakni nista mandala, madya mandala dan utama mandala. Khusus di bagian utama mandala ada tiga bangunan pelinggih. Diantaranya Pelinggih Ratu Ayu Penaban Sari yang posisinya paling utara, dan manifestasi dari Dewa Wisnu. Selanjutnya di tengah-tengah terdapat pelinggih Padmasana Bhatara Surya. Dan yang paling selatan adalah Pelinggih Ratu Ngurah Penaban Sari yang merupakan manifestasi dari Dewa Brahma.


Karena Pura Meduwe Karang merupakan pura pertanian, maka kedua dewa yang berstana di gedong tersebut merupakan lambang kesuburan. Sehingga, tidak mengerankan masyarakat yang berprofesi sebagai petani kerap memohon kesuburan agar panen berlimpah.


Sebagai Pura Kahyangan Jagat, Pura Maduwe Karang juga punya tradisi sakral. Utamanya tiap kali piodalan ageng dilaksanakan pada Purnama Sasih Kaulu (Januari). Tradisi itu berupa mesolah-nya tapel-tapel yang menjadi inventaris pura ini. Namun kini tapel tersebut sudah rusak dimakan usia. Seperti tapel bojog, hanoman, rangda lanang-istri, serta simbol kumba karna.


“Setiap piodalan semestinya tapel itu mesolah. Tapi sudah rapuh, mau bagaimana lagi. Dipegang saja rusak,” jelas Kelian Adat Desa Pakraman Kubutambahan, Jero Ketut Warkadea.


Selain tapel-tapel yang mesolah, ada juga tradisi mendak yang biasanya dilakukan muda-mudi di sekitar pura. Setiap kali mendak, muda-mudi memainkan gong gambus, gong gede, kempul, dua buah kupek alit, cengceng, serta suling.


Namun belakangan ini suling jarang dimainkan karena sudah rapuh. Disamping itu, muda-mudi juga mulai jarang yang memainkan peralatan musik tradisional tersebut.


“Masih ada yang memainkan. Tapi yang paling sulit dicari yang mau main suling. Susah sekarang cari bajang-bajang yang mau main suling,” imbuhnya.


Jro Warkadea menuturkan, pihak pura kini telah membuat duplikat tapel-tapel yang seharusnya mesolah setiap piodalan. Dengan harapan tradisi dan warisan yang seharusnya dijalankan bisa tetap terus berlangsung, tanpa harus terkendala rapuhnya barang peninggalan leluhur.

Editor : I Putu Suyatra
#pura unik #hindu #pura #sejarah pura