BALI EXPRESS, DENPASAR - Ketika istri tengah mengandung, tentu suami ingin melakukan yang terbaik bagi calon buah hati dan juga sang istri. Ada begitu banyak mitos terkait pantangan, atas apa yang tidak boleh dilakukan ayah maupun ibu sang cabang bayi. Seperti mitos atas pantangan sang ayah yang tidak boleh bercukur atau memotong rambut, disaat istrinya tengah mengandung.
Menurut Lontar Eka Pertama dan Lontar Ngemban Wang Beling dijelaskan, ada beberapa pantangan yang wajib dipenuhi oleh ayah ketika istrinya tengah mengandung. Pantangan tersebut seperti tidak boleh bercukur rambut, tidak membangun rumah, tidak merakit peralatan kayu, hingga tidak menggulung mayat. Lalu ada juga pantangan untuk tidak menikahi wanita lain (memadu), serta menengok kematian yang diakibatkan salah pati. Hal itu juga dijelaskan Wakil Ketua PHDI Provinsi Bali Pinandita Drs. I Ketut Pasek Swastika beberapa waktu lalu.
Menurutnya, pantangan yang tertulis di Lontar Eka Pertama bukan hanya sekedar pantangan. Tapi memiliki makna yang cukup logis. “Sebenarnya ada maksud baik dari pantangan-pantangan itu. Contohnya tidak boleh memotong rambut, bukan berarti kalau dipotong lantas sang cabang bayi cacat. Bukan itu maksudnya,” terang Swastika.
Karena seperti keterangan, pantangan tidak memotong rambut pada dasarnya memiliki arti pemusatan energi positif kepada pertumbuhan sang cabang bayi. “Maksudnya begini. Ketika hamil wanita biasanya akan terlihat berbeda dibanding penampilannya ketika muda. Jika sang ayah terlihat rapi, maka istri akan berfikir negatif dan berpengaruh pada si bayi. Tapi tidak harus juga tidak memotong rambut ya. Jika memang dirasa mengganggu, memotong rambut sebenarnya tetap diperbolehkan kok,” paparnya.
Menurutnya, semua pantangan tersebut merupakan disiplin atau brata yang harus dilaksanakan pihak bapak selama istrinya sedang mengandung. Selain tak boleh memangkas rambut, ada juga larangan tidak boleh memasang pagar, membuat telaga, menggulung mayat.
“Itu pantangan untuk si ayah. Untuk si ibu juga ada pantangannya. Seperti tidak boleh menyaksikan pernikahan, menengok orang meninggal, menyembah orang meninggal, dan menjual binatang peliharaan,” terangnya.
Dia menegaskan, yang terpenting dari semua pantangan tersebut, yakni pola fikir yang dilatih selalu menjadi positif. “Semua pantangan itu ibaratnya latihan bagi fikiran. Bersifat proteksi agar tanpa disadari pikiran menghasilkan energi lain yang positif,” jelasnya.
Dia melanjutkan, dalam lontar berjudul Ngemban Wang Beling tertera beberapa pantangan, yaitu tidak boleh bercukur, tidak boleh tanam durus, tidak boleh memancing, dan lainnya. “Mitos selama ini kan kalau bapaknya potong rambut pas istri mengandung katanya nanti rambut si anak tumbuh tipis. Padahal tidak demikian. Yang dimaksud tidak boleh bercukur adalah kemungkinan bersolek untuk mencari WIL (wanita idaman lain),” jelasnya.
Dia mengaku ketika istrinya hamil, dia juga sempat memangkas rapi rambutnya. “Tiang (saya) bercukur juga tempo hari. Astungkara anak semua berambut tebal (standar),” ceritanya.
Sedangkan pantangan tidak boleh tanam durus, seperti ucapannya memiliki maksud untuk tidak berselingkuh. Yakni berhubungan badan dengan yang bukan pasangan selain istri tercinta. Sedangkan pantangan tidak boleh memancing, memiliki makna, kail maksudnya agar tidak melakukan himsa karma.
“Kalau mancing katanya si anak akan terlahir berbibir sumbing. Padahal tidak begitu. Intinya semua pantangan ini kembali lagi ke personal. Jika dirasa baik bisa diterapkan. Tapi jika tidak memungkinkan, ya lebih baik jangan dipaksakan juga,” tandasnya.
Editor : I Putu Suyatra