BALI EXPRESS, SINGARAJA - Bagi penekun spiritual di Buleleng, rasanya tidak asing dengan keberaan Pura Taman Sari, yang berlokasi di Lingkungan Taman Sari, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Buleleng. Namun siapa sangka, pura yang dijuluki Pura Pancasila ini dan dikenal bares (pemurah, Red) didirikan pedagang asal Tiongkok sekitar dua abad lalu.
Kelian Adat Pura Taman Sari, Drs. Anak Agung Gede Ngurah, M.Si, 65 menjelaskan, Pura Taman Sari yang dikenal saat ini dulunya sebenarnya bernama Pura Gerojogan. Nama Gerojogan diduga berasal dari adanya mata air dengan debit yang cukup deras mengucur di areal pura, yang lokasinya berada di pinggir pantai.
Ditambahkan olehnya, untuk sejarah pendirian Pura Taman Sari sendiri tidak terlepas dari peran seorang pedagang asal Cina. Konon dari penuturan para tetua mereka, sekitar tahun 1801 masehi, sebuah perahu dari Tiongkok berlabuh di sebelah timur Pelabuhan Buleleng.
Diperkirakan tujuan perahu tersebut untuk mencari dan mengambil air. Mengingat di lokasi itu terdapat pohon besar yang diperkirakan memiliki sumber mata air. Benar saja, di tempat itu memang ada mata air dengan debit air yang cukup besar.
Ketika para awak dan penumpang perahu itu turun untuk mengambil air, secara tiba-tiba perahu mereka kandas dan tidak bisa berlayar. Peristiwa itu rupanya membuat semua awak dan penumpang perahu menjadi panik. Mereka akhirnya meminta bantuan kepada masyarakat yang ada di Desa Banyuning.
Namun bantuan tenaga itu tidak mampu membuat perahu mereka berlayar kembali. Bahkan para awak dan penumpang terkatung-katung selama 3 hari. “Banyak yang membantu, tetapi tidak bisa. Kemudian mereka melakukan sambang semadi di Pura Gerojogan di bawah pohon besar. Singkat cerita perahu itu ternyata bisa berlayar kembali ke Cina,” ujar Agung Ngurah.
Berselang sebulan kemudian setelah kejadian itu, konon para pedagang asal Tiongkok kembali lagi ke perairan Buleleng. Saat mereka kembali, para pedagang itu akhirnya menghaturkan sebuah palinggih atau gedong berbentuk stupa. Palinggih itulah yang selanjutnya menjadi cikal bakal stana Ratu Dewa Ayu Sarining Amerta.
“Lambat laun, Palinggih Ratu Dewa Ayu Sarining Amerta kian ramai didatangi pemedek. Karena memang sangat bares (pemurah, red) untuk memohon beragam hal. Baik pekerjaan, jabatan, jodoh, keturunan, hingga kesehatan,” jelasnya.
Lanjut Agung Ngurah, seiring dengan perjalanan waktu, menjelang tahun 1960 salah seorang pengurus Organisasi Persatuan Seni Pecak Silat Bakti Negara yaitu almarhum I Nyoman Kuta pernah bersemedi di pura tersebut selama 11 hari. Dan apa yang menjadi niat dalam pelaksanaan semedi tersebut terkabulkan.
Karena itu sebagai rasa baktinya, maka Pura Grojogan mulai dilakukan pemugaran dengan mempergunakan tenaga dari anggota Bakti Negara. “Setelah dipugar itulah, nama Pura Gerojogan berganti nama menjadi Pura Taman Sari, dan terus mengalami perubahan seperti sekarang, dengan total palinggih ada 33 buah,” bebernya.