Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Taman Beji; Terdapat Mata Air yang Diyakini Pelancar Rejeki

I Putu Suyatra • Rabu, 23 Januari 2019 | 13:13 WIB
Pura Taman Beji; Terdapat Mata Air yang Diyakini Pelancar Rejeki
Pura Taman Beji; Terdapat Mata Air yang Diyakini Pelancar Rejeki


BALI EXPRESS, DENPASAR - Umumnya, pura beji terletak di sisi sebuah sungai ataupun campuhan. Namun berbeda dengan Pura Taman Beji Tukad Badung yang justru berdiri tegak di tengah aliran sungai.


Pura yang terletak di sebelah selatan Pasar Kumbasari, Denpasar ini terbilang unik. Selain berdiri di tengah aliran Tukad Badung yang memiliki debit air yang tinggi dan aliran yang deras, namun selama ini pura ini tak pernah benar-benar teredam, walaupun kerap dilanda banjir.


Pura Taman Beji merupakan sebuah pura beji yang berfungsi sebagai tempat melukat, memohon rejeki dan kedigjayaan. Banyak pedagang Pasar Kumbasari maupun pedagang Pasar Badung yang datang untuk memohon rejeki. Dengan lokasi pura yang berada di tengah sungai, maka untuk mencapai Pura Taman Beji Tukad Badung, pemedek harus menyeberang melewati jembatan kecil di sisi parkiran selatan Pasar Kumbasari. 


Pura Taman Beji terbagi menjadi dua mandala, yakni mandala jaba dan mandala utama. Pada mandala utama terdapat sebuah palinggih Padmasana besar lengkap dengan patung Ratu Niang di bagian tengahnya. Selain Padmasana, di mandala utama juga terdapat sebuah bale piasan, sebuah palinggih yang terbuat dari kayu. Sedangkan di bagian mandala luar, terdapat sebuah pohon besar dan beji di sisi kanan.


Jro Mangku Taman Beji, Wayan Tablag menjelaskan, pura tersebut tergolong unik. Sebab pura yang memuja Ratu Niang sebagai tempat berstananya itu, memiliki sebuah mata air yang berada di tengah aliran sungai. “Yang distanakan disini yakni Ratu Niang. Beliau disimbulkan sebagai pemberi rejeki, juga sebagai pelindung di sini,” terangnya.


Namun paska banjir bandang yang terjadi akhir tahun lalu, gapura dan sebagian pelataran mandala luar hancur. “Ini hancur kena banjir akhir tahun kemarin. Sejak saat itu belum ada perbaikan sama sekali. Sudah dilaporkan dan sekarang masih proses rapat,” jelasnya.


Menurutnya, banjir memang selalu terjadi di sana. Mengingat pura tersebut berada di tengah aliran sungai. “Banjir sudah biasa di sini. Setahun paling banyak tiga kali kena banjir. Tapi belakangan intensitas banjirnya semakin sering,” ungkapnya. Yang menarik setiap kali diterjang banjir, air yang meluap tak pernah mencapai area Padmasana dan palinggih Ratu Niang. “Ketika banjir, airnya memang sangat tinggi. Makanya area wisata sungai korea itu pada rusak semua. Namun anehnya pas sampai sini airnya tidak pernah mencapai Padmasana itu, yang kena malah gapura di mandala luar itu. Sampai rubuh (gapura),” jelasnya.


Dia mengakui, cuaca yang tak menentu belakangan ini cukup membuatnya khawatir. Namun begitu, pihaknya tidak bisa berbuat banyak, karena itu sudah kejadian alam. “Kita berdoa saja semoga semuanya baik-baik saja,” harapnya.


Terlebih menurut cerita, setiap pura tersebut bakal diterjang banjir, maka due Ida Bhatara kerap bakal menampakkan diri. “Basanya memang ada peringatan jika akan terjadi bencana,” pungkasnya.  


Tak hanya letaknya yang unik, Pura Taman Beji Badung juga memiliki sebuah beji atau tempat patirtaan yang terletak di sudut kanan mandala terluar. Menariknya, di areal tersebut terdapat sebuah mata air yang biasa digunakan untuk melukat. “Sebelum menjadi pura besar, dulu di sini ada tanah (daratan) dan sebuah palinggih Ratu Niang. Karena debit air semakin besar dan naik, makanya jadi terlihat sengaja dibangun di tengah aliran. Padahal pura ini memang ada dari dulu,” jelas Jro Mangku Taman Beji, Wayan Tablag.


Dia menerangkan, tempat patirtaan itu digunakan sebagai tempat nunas toya (air) atau tirta bagi para pedagang. “Ada beberapa pemedek yang khusus datang untuk nunas toya disana. Selain sebagai pelancar rejeki, toya itu juga digunakan sebagai penglebur mala,” terangnya.


Kedepannya dia berharap pemugaran pura segera bisa dilakukan. “Ya semoga bisa secepatnya, supaya tidak was-was,” pungkasnya.

Editor : I Putu Suyatra
#tempat melukat #hindu #pura #sejarah pura