Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jadikan Pembuatan Ogoh-ogoh Jalan Memperdalam Agama

I Putu Suyatra • Sabtu, 2 Maret 2019 | 15:14 WIB
Jadikan Pembuatan Ogoh-ogoh Jalan Memperdalam Agama
Jadikan Pembuatan Ogoh-ogoh Jalan Memperdalam Agama


BALI EXPRESS, DENPASAR - Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk meningkatkan kualitas diri.  Khusus terkait keagamaan, apakah pembuatan Ogoh-ogoh yang kini jadi tradisi umat Hindu menjelang Nyepi, termasuk salah satunya?


Sesungguhnya ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas diri. Tak beda jauh dengan meditasi yang  dapat dilakukan dengan beragam cara. Sesuai definisinya, meditasi adalah pemusatan pikiran untuk mencapai satu titik fokus. 


Menurut akademisi Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar I Kadek Satria, generasi muda di banjar-banjar tiap desa, sejatinya sudah melaksanakan meditasi secara tak langsung jelang Tahun Baru Saka atau Hari Raya Nyepi. 


 


Di banjar-banjar mereka dapat memperdalam ilmu agama, mengembangkan kreativitas, sekaligus bermeditasi lewat ogoh-ogoh. Dikatakan Kadek Satria, tiap prosesnya ada momen belajar. Penggarap Ogoh-ogoh terlebih dahulu pasti merancang konsep berdasarkan filosofi yang tertuang dalam filsafat Hindu.


 


"Saat mau membuat Ogoh-ogoh, mereka harus memahami dulu karakter yang dibuat, berdasarkan manifestasi bhuta sebagai sosok menyeramkan, penghancur, dan besar. Dan, itu harus sesuai filsafat Hindu. Maka, kreativitas generasi muda akan berkutat di sana (filsafat). Inilah saya sebut bagian dari pembelajaran agama," ujar Satria kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin di Denpasar.


 


Dosen Filsafat Hindu itu menegaskan, meditasi tak hanya bicara soal aktivitas berdiam diri dalam hening. Meditasi adalah cara manusia meningkatkan konsentrasi terhadap titik fokus. Dari meditasi itu, lanjutnya, diharapkan bermanfaat bagi yang melakukannya. "Ogoh-ogoh adalah buah dari meditasi. Dia bermanfaat untuk alat somia bhuta atau media penyeimbang alam, dan membersihkan alam dari hal yang negatif menjadi positif. Bagaimana anak muda membuat ukiran, menentukan konsep, warna, seni, dan sebagainya. Maka itulah yang dapat dikatakan proses meditasi," ujarnya.


 


Menurut Satria, meditasi dalam Weda dijabarkan dalam tiga konsep. Meditasi berdasarkan anak-anak digambarkan kental dengan nuansa bermain, anak muda untuk melakukan satu tindakan agresif atau perjuangan, sementara bagi dewasa berkaitan dengan cara meningkatkan pola pikir.


Dengan demikian, lanjut Satria, meditasi yang dilakukan anak muda tidak bisa disamakan dengan orang dewasa. Maka, proses berkesenian maupun mengembangkan kreativitas adalah cara anak muda melakukan meditasi. "Ajaran Hindu sangat fleksibel dan luwes," imbuhnya.


Dikatakan Satria, apabila pemuda di banjar sampai begadang membuat Ogoh-ogoh, bukan hal yang salah. Laku tersebut adalah meditasi sesuai cara anak muda. “Yang salah adalah  pembuatan ogoh-ogoh yang dibarengi dengan mabuk-mabukan, hura-hura, dan tindakan bodoh lainnya. Gaya seperti itu adalah pelecehan. Proses menggarap ogoh-ogoh mesti dilandasi pikiran yang jernih," jelasnya.


 


Satria mengakui, pembuatan Ogoh-ogoh sebagai media meditasi tidak tertuang dalam sastra. Apabila ditelisik, lanjut Satria, pembuatan ogoh-ogoh dengan meditasi lainnya sama-sama sebagai media pemusatan pikiran, karena memang ada proses berpikir.


 

Editor : I Putu Suyatra
#ogoh-ogoh #hindu