Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tempat Mohon Keajaiban Panglukatan Siwa Gangga

I Putu Suyatra • Rabu, 6 Maret 2019 | 22:07 WIB
Tempat Mohon Keajaiban Panglukatan Siwa Gangga
Tempat Mohon Keajaiban Panglukatan Siwa Gangga



BALI EXPRESS, NEGARA - Pura Tirtha Lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi merupakan salah satu dari  sembilan pura di kawasan Pura Rambutsiwi  di Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Jembrana.
Apa saja istimewanya dan muasal tempat suci ini dibangun?


 


Manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) yang distanakan atau dipuja di Pura Tirtha Lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi adalah Dewa Siwa Gangga, sebagai Dewa dari segala sumber Air Suci (Tirtha) dan Dewa Bharuna sebagai Dewa penguasa lautan.
Saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin, Pemangku  Pura Tirtha Lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi, Jro Mangku Suardana menuturkan, sesuai tersurat dalam kutipan sastra tua, Dwijendra Tattwa yang digunakan sebagai salah satu Purana dari Pura Dangkahyangan Rambutsiwi, dimana kala itu warga sekitar  mengetahui informasi tentang keberadaan Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh yang memiliki kemampuan sepiritual sangat tinggi, berada di kawasan yang kini bernama Pura Dangkahyangan Rambutsiwi.



Informasi tersebut membuat warga datang menghadap Sang Pendeta untuk memohon bimbingan spiritual. Ada pula yang memohon kesembuhan, anugerah kesejahteraan, dan kepentingan lainnya. Lantaran banyak warga yang datang,


Sang Pendeta menunda keberangkatannya  melaksanakan perjalanan suci (napak tilas) untuk menjelajahi alam Bali sekira abad ke-14 atas seizin Dalem (Raja). “Konon Sang Pendeta kala itu memberikan bimbingan kepada seluruh warga yang datang dan memohon untuk memperdalam tuntunan agama,” urainya.



Warga meminta bimbingan, terutama ajaran bhakti kepada Ida Sang Hyang Parama Kawi (pencipta alam semesta), kepada Dewa-Dewi atau Bhatara-Bhatari sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Parama Kawi. Selain itu, juga minta tuntunan bhakti kepada Leluhur, termasuk memberikan tuntunan ajaran kerohanian, dan Hakikat Lingga Aksara. Tak hanya soal agama, soal pertanian, perkebunan, peternakan, pertukangan, juga diminta  agar memperoleh kedamaian, keselamatan serta kesejahteraan hidup lahir maupun bhatin. Bahkan, ada juga warga yang memohon tuntunan mengharmonisasi unsur-unsur gaib (tak kasat mata) agar kekuatannya tidak menjadi jahat, tetapi dapat melindungi hidup manusia.



Setelah seluruh warga tercerahkan, lanjut Jro Mangku Suardana,  pagi hari seusai melaksanakan sembahyang (Surya Sewana), Sang Pendeta kemudian memercikkan Tirtha yang diambil dari sumber air yang mengalir dari salah satu goa yang ada di kawasan tersebut. “Sumber air tersebut hingga sekarang tidak pernah mengering walau musim kemarau sekalipun, yang kini dikenal dengan Pura Tirtha,” terangnya.



Legenda inilah, sambung Jro Mangku Suardana, yang mendasari hingga sekarang di pura ini diyakini sebagai tempat bertapa (payogaan) dari Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh.
Air yang bersumber dari dalam goa yang ada di Pura Tirtha Lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi ini, memang terus mengalir tanpa pernah mengering, walau musim kemarau berkepanjangan.



Bahkan, hingga kini juga dipercayai sebagai tempat memohon air suci (Tirtha) yang digunakan dalam berbagai keperluan kehidupan spiritual. Setiap saat, terutama rahinan (hari suci) atau ketika pujawali (piodalan) yang jatuh enam bulan sekali, tepatnya Rabu Umanis wuku Perangbakat, seluruh umat Hindu, bahkan dari luar Bali pedek tangkil (datang) untuk bersembahyang serta memohon anugerah juga mukjizat (keajaiban) dari Tirtha Siwa Gangga ini.


 


“Tirtha ini bisa digunakan sebagai Tirtha untuk panglukatan (membersihkan fisik dan non fisik),  pasupati,  memohon kesembuhan, keturunan, peleburan desti hingga panyibeh,” jelasnya.
Jro Mangku Suardana menjelaskan, Palemahan Pura Tirtha Lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi, terbagi atas tiga halaman (tri mandala), yakni halaman utama yang disebut Utama Mandala yang berada dalam goa yang lokasinya tepat di bawah Pura Luhur Dangkahyangan Rambutsiwi.



Alur goa seperti sebuah perempatan (Catus Pata) yang masing-masing alurnya laksana tanpa batas karena hingga saat ini tidak ada seorangpun yang mengetahui ujung atau akhir dari masing-masing alur goa ini. Namun, secara alam Niskala (gaibnya), umat meyakini bahwa alur goa  mengarah ke Timur Laut berujung ke Pura Besakih di Gunung Agung. Itu sebabnya keberadaan Pura Luhur Dangkahyangan Rambutsiwi juga dipercayai sebagai pangayatan ke Pura Besakih. Sedangkan alur goa yang mengarah ke Barat Laut, diyakini berujung ke Pura Melanting di Pulaki, sehingga di Pura Dangkahyangan Rambutsiwi juga ada pangayatan Pura Melanting. Kemudian, alur goa yang mengarah ke Tenggara diyakini berujung ke Pura Dalem Ped di Nusa Penida, sehingga di Pura Dangkahyangan Rambutsiwi ada pangayatan Pura Dalem Ped. Sementara alur goa yang mengarah ke Barat Daya sebagai ke pintu keluar goa yang mengarah ke Laut (Segara), diyakini umat sebagai pangayatan ke setiap pura yang ada di luar Pulau Bali, seperti Pura Blambangan, Pura Alas Purwa, Pura Semeru Agung, dan lainnya.  “Diyakini sebagai pangayatan Pura Besakih, Pura Melanting, dan juga Pura Dalem Ped,” ujarnya.



Selanjutnya ada halaman Tengah yang disebut Madya Mandala. Pada halaman ini terdapat beberapa palinggih dan arca, diantaranya sebuah Palinggih Piasan yang difungsikan sebagai stana Pralingga dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam berbagai manifestasi. Dua buah palinggih tersebut,  satu buah Padmasana sebagai stana pemujaan Ida Bhatara dalam manifestasi tertinggi, Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dan sebuah Padmasari sebagai stana Dewa Siwa Gangga.



Selanjutnya ada dua buah arca, yakni arca Ida Pedanda Wawu Rawuh dan  Ida Pedanda Istri Sri Patni Kaniten (Sakti dari Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh). Arca tersebut didirikan untuk mengingatkan jasa-jasa suci beliau sebagai cikal bakal penyempurnaan Pura Dangkahyangan Rambutsiwi. “Ada juga arca Naga Cobra berkepala tiga sebagai simbol kesatuan semesta,” terangnya.



Jro Mangku Suardana menambahkan,  kesatuan semesta ini sesungguhnya terbagi atas tiga tingkatan alam yang disebut Tri Loka, yakni alam Bhur Loka adalah alam para Bhutakala, alam Bwah Loka adalah alam manusia, hewan serta tumbuhan (Bumi), dan alam Swah Loka merupakan alam para Dewa sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Wdhi Wasa. Selain itu, arca Naga Cobra berkepala tiga ini, juga merupakan simbol Naga Basuki digunakan menjadi alas arca Dewa Siwa Gangga Murti yang merupakan simbol Dewa sebagai sumber segala air suci saat beryoga dan memberikan anugerah. Sepasang Lingga Yoni juga terdapat di Madya Mandala pura ini,  yang merupakan simbol Dewa Siwa dan Dewi Sakti sebagai lambang cikal bakal kehidupan bersumber dari Rwa Bhineda (Perdhana-Purusha atau Kiwa-Tengen) yang merupakan kekuatan keseimbangan berlakunya hukum alam. Tidak hanya itu, sebuah taman Mahatirtha sebagai tempat keluarnya Air Suci (Tirtha) yang nerupakan anugerah dari Dewa Siwa Gangga Murti untuk dipergunakan berbagai keperluan spiritual dan kehidupan. Di taman ini diyakini secara niskala dijaga dua ekor macan, yakni Macan petak (putih) dan Macan gading (oranye), sehingga di tempat ini juga dibangun dua buah arca Macan, yakni macan Petak dan macan Gading.
Berikutnya adalah halaman luar yang disebut Pratama Mandala.  Di areal ini terdapat sebuah palinggih berupa Padma sebagai pangayatan ke Daleming Segara (laut) atau Dewa Bharuna dan Bale Pasandekan.



Salah seorang pamedek, Ni Komang Sugiantari (35) asal Jembrana yang ditemui di lokasi pura, mengaku keluarganya dahulu pernah sakit. "Saat itu mertua perempuan saya menderita sakit seperti lumpuh dan anak saya ada benjolan di bagian kaki. Saya sudah berupaya mengobati secara medis maupun non medis,  namun tidak kunjung sembuh. Astungkara sekarang sudah pulih kembali atas kekekuasaan Hyang Widhi setelah memohon dan malukat di Pura Tirtha Lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi," jelasnya. Saat rahinan banyak pamedek, bahkan wisatawan mancanegara yang menyukai spritual, banyak  bersembahyang serta menghaturkan suksma (ucapan terima kasih) karena doa mereka terkabulkan, setelah memohon anugerah berbagai hal atas kemulyaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui Pura Dangkahyangan Rambutsiwi.

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #pura #sejarah pura