BALI EXPRESS, GIANYAR - Meski leluhur pada umumnya beragama Hindu dan Budha, namun tidak pernah ditemukan bukti terkait budaya keris berasal dari India atau negara lainnya.
Tidak juga ditemukan bukti adanya kaitan langsung antara senjata tradisional tersebut dengan kedua agama itu. Lantas, darimana keris berasal?
Pemilik Museum Neka, Ubud, Gianyar, Pande Wayan Suteja Neka, mengatakan, keris merupakan warisan budaya adi luhung bangsa yang harus dipertahankan dan dijaga. Pria yang juga kolektor keris ini menambahkan, keris Indonesia telah mendapatkan pengakuan dunia dari UNESCO-PBB pada 25 November 2005 lalu. “Sebagai karya adi luhung bangsa, keris tersebar di hampir seluruh penjuru negeri. Fungsi keris pada awalnya sebagai senjata tajam, namun berubah mengikuti perkembangan zaman,” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Gianyar, pekan lalu.
Pria kelahiran Desa Peliatan, Ubud ini, menambahkan fungsi keris sangat beragam, mulai dari sebagai atribut busana, lambang kedewasaan hingga atribut utusan. Keris juga dapat dipakai sebagai surat perintah ataupun mandat dari atasan kepada bawahan untuk menyelesaikan suatu masalah. Selain itu, lanjutnya, dalam hal-hal tertentu dan mendesak, keris dapat dipakai sebagai pengganti mempelai laki-laki dalam sebuah perkawinan ketika mempelai laki-laki berhalangan hadir.
“Secara visual keris dibedakan dalam dua bentuk, yaitu keris luk dan lurus. Keduanya mensyiratkan lambang-lambang agung yang terkandung di dalamnya," bebernya Pande Suteja Neka. Bentuk keris yang lurus misalnya melambangkan stabilitas, iman, dan juga lambang keesaan dalam agama.
Dia juga tak menyanggah bahwa keris biasanya dihubungkan dengan masalah politik, khususnya mengenai kekuasaan dan tahta kerajaan. Sebagai salah satu senjata, dominasi atas keris lebih mengarah kepada kaum laki-laki. Keris juga sebagai satu simbol eksistensi suatu kerajaan-kerajaan di Nusantara. "Keris juga bermula dari Ilmu Paduwungan yang dimaksudkan untuk memperkokoh kedudukan seorang raja. Bahkan, seorang raja dianggap manusia setengah dewa yang mempunyai kemampuan tidak tertandingi dan harus dipatuhi segala titahnya. Kondisi tersebut memaksa seorang raja harus mempunyai pusaka yang ampuh dan keramat sebagai salah satu unsur legitimasi kekuasaan,” paparnya.
Pande Wayan Suteja Neka menambahkan, bukti arkeologis paling tua yang ditemukan menginformasikan mengenai keberadaan senjata keris terlihat pada batu yang ditemukan di Desa Dakuwu, Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Peninggalan tersebut diperkirakan dibuat pada abad ke-5 masehi. Huruf yang digunakan adalah huruf Pallawa berbahasa Sansekerta.
Dijelaskan pula di dalam prasasti tersebut termuat pahatan-pahatan berabagai benda dan senjata yang dianggap sebagai bagian dari peralatan upacara keagamaan. Benda-benda tersebut diantaranya adala trisula, kapak, sabit, kudi, pisau yang bentuknya mirip dengan keris buatan Nyi Sombro, seorang mpu wanita pada zaman penjajahan.
“Prasasti lain yang juga memberikan gambaran mengenai keris, ditemukan pada lempengan perunggu bertulis yang ditemukan di Karangtengah, berangka tahun 842 Masehi,” imbuhnya.
Keris merupakan salah satu senjata yang sudah lumrah digunakan oleh orang di lingukungan kerajaan, maupun masyarakat biasa saat dahulu hingga sekarang. Selain secara fisik digunakan senjata, juga bermakna sebagai simbol kehidupan, yakni lambang purusa dan pradana (laki-laki dan perempuan).
Pria yang berasal dari trah Pande tersebut, juga menjelaskan keris memupunyai dua arti. "Keris, satu kata berasal dari kekeran yang berarti penghalang-halang dan penolak bala. Sedangkan ris berarti bijaksana, mantap dan tenang,” paparnya.
Keris ada dua bagian, yaitu bilah keris terbuat dari besi dan sarung keris berbahan dari kayu. Bilah keris sebagai lambang dari seorang laki-laki dan sarungnya lambang dari perempuan. Ketika kedaunya itu menyatu dan sangat pas, di sana dikatakan adanya sebuah kehidupan yang harmonis, serasi, dan banyak rezeki. “Ketika keduanya itu bertemu, akan ada sebuah keseimbangan, menyatu dan sangat serasi,” papar Pande Suteja Neka.
Ditambahkannya, keris juga digunakan sebagai kelengkapan sarana ritual yang dikenakan atau dibawa oleh pengantin laki-laki sebagao simbol purusa. Begitu juga dengan dilaksanakannya upacara piodalan, melasti, mendem padagingan, keris dijadikan simbol sakral yang mengayomi maupun menyatukan integritas sosial dan memiliki kharisma spiritual,” tandasnya.