BALI EXPRESS, GIANYAR - Ida Pandita Mpu Nabe Purwanata merupakan Ida Pandita Mpu yang tertua di Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) Bali. Namun sayang pada tanggal 30 Maret 2019 pada pukul 03.00 lebar di gedong Gria Pemacekan, Banjar Selat, Desa Siangan, Gianyar. Semasa hidupnya, Ida Pandita Mpu Nabe sempat menyampaikan kepada nanaknya ketika lebar agar diterangi oleh damar wayang.
Hal itu diungkapkan oleh nanak ke-13 Ida Pandita Mpu Nabe yang maparab (bernama) Ida Pandita Mpu Siwa Nata Dharma. Dijelaskan Ida Pandita Nabe telah menderita sakit pada bagian anusnya sejak tiga tahun lalu, yang dikatakan sebagai kanker. Sehingga pada belakangan ini lebih parah dan diketahui adalah kanker ganas.
“Memang pada awal sakit itu Ida Pandita Nabe kalau lebar minta dihidupkan damar wayang. Sehingga kemana-mana para nanak mencari tidak dapat, pada akhirnya dapat di Jero Dalang Cenk Blonk dan dibawakan saat datang ke sini,” terangnya kepada Bali Express, Minggu kemarin (7/4).
Dijelaskan Ida Pandita Nabe lebar di usianya secara biologis berumur 87 tahun, sedangkan di usianya medikasa pada 38 tahun lalu. Semasa awal sakitnya, diungkapkan seluruh badan Ida Pandita Mpu Nabe mulai ringan dan sampai akhirnya sangat kurus sekali saat lebar. Bahkan yang tersisa dikatakan hanya tulang dan kulit saja, anehnya kondisi detik-detik sebelum lebar masih biasa berkomunikasi, makan dan minum seperti biasa.
“Sakitnya itu ada benjolan di atas anus yang dikatakan kanker, nanak-nanak yang ada juga menyarankan agar diberikan obat herbal. Sehingga tidak ada operasi ataupun tindakan medis lainnya,” pungkasnya.
Dalam kesempatan itu, pria yang juga selaku anak kandung dari Ida Pandita Mpu Nabe tersebut mengaku tiga bulan sebelum lebar sudah memiliki firasat. Namun diungkapkan dengan bercerita bahwa sudah ditunggu-tunggu di sebuah alam yang indah, pepohonan hijau dan ada goanya.
Ida Pandita Mpu Nabe Purwanata memiliki empat anak secara biologis, dan 14 nanak dalam kesulinggihan. Bahkan Ida Pandita Nabe sendiri merupakan nanak kedua Sinuhun Mpu Bongkasa (almarhum). Pasalnya saat itu menjadi nanak yang kembar, dengan nanak pertama Ida Pandinta Nabe Pegongan di Taman Punggul, Kecamatan Abiansemal, Badung.
“Sedangkan anak secara biologis, ada empat. Pertama saya sendiri yang sudah didiksa, kedua Ni Made Mudiati (alm) karena sakit yang sama seperti Ida Pandita Mpu Nabe di usianya 44 tahun. Ketiga Jero Mangku Nyoman Mudiatmika, dan terakhir
Ni Ketut Mudiasih. Sedangkan cucunya terdapat delapan,” jelas Ida Pandita Mpu Siwa Nata Dharma.
Dalam kesematan tersebut, dijelaskan Ida Pandita Mpu Nabe sudah madiksa pada tahun 1981 sekitar 38 tahun lalu. Sehingga disebut dengan Pandita tertua di MGPSSR. Disinggung terkait pelaksanaan upacara pelebon rentetannya sudah dilakukan pada tanggal 4 April 2019 prosesi pembersihan ngelelet.
Dilanjutkan pada tanggal 11 April dengan upacara melaspas kajang, tukon, dan lain sebagainya. Proses palebon menuju karang suci pada tanggal 14 April ini. “Untuk proses pembakarannya di karang suci pada areal sawah milik gria juga. Jaraknya sekitar 800 meter dari gria. Nanti akan digusung menggunakan Padmasana yang tingginya sekitar 6 meter dan Lembu Putih untuk sarana pembakarannya,” papar Ida Pandita Mpu Siwa Nata.
Dilanjutkan pada tanggal 17 April prosesi pecaruan Rsi Gana, 19 April Ngasti dan hari yang sama pelaksanaan potong gigi maupun tiga bulanan. Kemudian tanggal 20 April upacara meajar-ajar ke Pura Goa Lawah dan Pura Besakih. Terakhir pada tanggal 21 dengan prosesi upacara Nilapati.
“Nilapati ini merupakan sebua prosesi untuk leluhur yang sudah dibersihkan. Karena nila merupakan sebuah perbuatan yang salah leluhur diperbuat semasa hidupnya, sedangkan pati berarti mematikan yang salah atau jahat. Maknanya adalah memutihkan sehingga bebas dari kesalahan yang sempat diperbuat tersebut agar bisa menuju Swarga Loka,” paparnya.
Sosok Ida Pandita Mpu Nabe semasa hidupnya diungkapkan sangat penyabar, murah senyum, adem, bahkan mencari marahnya sangat susah. Tidak heran saat diketahui lebar oleh panjaknya, sangat merasa kehilangan. Bahkan terakhir dikatakan muput pada saat hari Suci Kuningan beberapa waktu lalu.
“Ida Pandita Mpu Nabe hanya tamatan Sekolah Rakyat (SR), mengawali dengan menjadi pemangku Pura Tegal Wangi Siangan, sampai akhirnya Madiksa Menjadi Ida Pandita Mpu. Karena memang lima keturunan di sini mejadi pemangku di Pura Tegal Wangi itu. Meski lulusan SR jiwanya penyabar, adem, murah senyum. Sampai sampai saat lebar pun sambil senyum,” imbuh Ida Pandita Mpu Siwa Nata Dharma.
Editor : I Putu Suyatra