BALI EXPRESS, GIANYAR - Era masa jaya Joged Bumbung kian pudar. Padahal, di masa lalu, selalu dipentaskan mulai dari acara sosial hingga upacara keagamaan di Bali. Bahkan, ada sekaa yang kerap tampil di Istana Presiden.
Nasib Joged Bumbung memang kian terpinggirkan, apalagi pamornya pernah dirusak grup Joged Bumbung seronok yang bikin heboh. Nasib serupa juga dialami Sekaya Joged Bumbung Bukit Jangkrik yang ada di Lingkungan Bukit Jangkrik, Kelurahan Samplangan, Gianyar.
Tarian Joged Bumbung diperkirakan bermula dari daerah Bali Utara, Buleleng, yang muncul sejak tahun 1940. Berawal dari sebuah tarian pergaulan yang diciptakan oleh petani untuk menghibur, ketika beristirahat, setelah disibukkan dengan sawah dan urusan hasil panen.
Seiring berjalannya waktu, kemudian semakin diminati oleh masyarakat, dan akhirnya muncul kelompok-kelompok seni seperti saat ini. Joged Bumbung Bukit Jangkrik yang ada di Lingkungan Bukit Jangkrik, Kelurahan Samplangan, Gianyar, salah satu kelompok yang pernah mengalami masa jaya. Sekaa joged yang diberi nama Joged Bumbung Semara Yasa Bukit Jangkrik ini, sejak tahun 1968 hingga 1983, kiprahnya sangat terkenal di Bali. Namun itu cerita masa lalu yang hanya tinggal kenangan. Kini, semuanya seakan raib ditelan masa. Bahkan, kini segala peralatannya hanya jadi penghuni gudang, disimpan di jeroan Pura Pucak Bukit Jangkrik.
“Kalau pentas di wilayah Bali sudah hampir semua kabupaten pernah dijajal pentas. Bahkan, paling sering di Istana Presiden di Tampaksiring. Setiap ada tamu negara dan kegiatan kenegaraan, kita selalu pentas di sana," urai pemangku Pura Bukit Jangkrik, Jero Mangku Wayan Bandem saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin di Gianyar.
Situasinya kini semakin sulit, lanjutnya, karena generasi sekaanya susah ada waktu untuk belajar sehingga vakum hingga kini. Jero Mangku Bandem mengatakan, saat ini peralatan joged tersebut hanya disimpan pada jeroan Pura Pucak Bukit Jangkrik. Pasalnya, semenjak tahun 1983 lalu, anggota sekaa sudah banyak yang menikah dan harus mencari kesibukan lain untuk kebutuhan menghidupi keluarganya. Sehingga diputuskan ditaruh di pura dan disakralkan oleh masyarakat setempat sampai saat ini.
“Semua penari jogednya dari desa setempat waktu itu. Sekarang generasi penarinya memang ada, tetapi hanya menari pura saja saat piodalan tertentu. Itupun mereka perempuan yang baru duduk di bangku SMP hingga SMA saja. Setelah itu, sudah sibuk dengan pendidikan dan pekerjaaan mereka masing-masing. Makanya susah lagi jika untuk pentas keluar seperti dulu,” ungkapnya. Jero Mangku Bandem mengatakan, untuk menjadi penari memang harus melalui ritual khusus.
Syaratnya, lanjutnya, penari jogednya harus mengikuti prosesi mabeakaon dengan gelung joged. Selanjutnya natab mapajati dengan gelung joged atau kerap disebut dengan nyakapin (menikah) dengan joged. Dikatakannya, hal tersebut dilakukan agar taksu joged masuk ke dalam jiwa penari tersebut, dan langsung dipentaskan saat piodalan berlangsung yang waktunya disiapkan oleh prajuru setempat.
“Tidak selalu setiap piodalan di Pura Bukit Jangkrik tarian joged tedun. Karena sekarang kan sudah beragam ada tariannya. Mulai dari rejang dewa, baris gede, hingga rejang renteng. Makanya tidak pasti tedunnya, kadang jogednya masolah kadang juga tidak. Selain generasi yang baru, penari joged yang lingsir-lingsir juga biasanya ngayah,” maunya.
Jero Mangku Bandem memaparkan, Sekaa Joged Bukit Jangkrik merupakan sekaa joged yang pertama kali ada di Bali Selatan dan Bali Timur. Ia mengklaim Desa Bukit Jangkrik dahulunya dikenal dengan Gumi Joged. “Kalau menyinggung Joged Bumbung pasti diketahui Gumi Joged Bukit Jangkrik,” imbuhnya.
Ditanya pantangan penarinya setelah melakukan prosesi masakapan dengan gelung joged, ia mengaku tidak ada pantangannya. Begitu juga dengan karauhan (trance), tidak pernah terjadi saat pangayah penari joged pentas di kalangan pura.
Sampai saat ini, gambelan joged tersebut hanya didiamkan saja pada pangarum pura. Sedangkan gelung jogednya ditaruh dalam ketu, atau kotak yang berukuran sedang berbahan anyaman bambu. “Kalau saat menari ada juga pangibingnya, tetapi tidak seperti pangibing yang ada saat ini, yang kadang gerakannya aneh, bahkan jogednaya pun tak kalah seronoknya," paparnya.
Joged Bumbung di masa lalu, lanjutnya, sangat berbeda dengan joged yang ada di masyarakat kini yang gerakannya tidak senonoh.
" Perlakuan pangibingnya terhadap penarinya juga beda, karena yang disuguhkan adalah keindahan paduan tabuh dan tariannya, bukan hal lainnya," pungkas Jero Mangku Bandem.