Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Minggu Pantang Tebang Bambu, Ini Penjelasan Pinandita Pasek Swastika

I Putu Suyatra • Selasa, 28 Mei 2019 | 20:50 WIB
Minggu Pantang Tebang Bambu, Ini Penjelasan Pinandita Pasek Swastika
Minggu Pantang Tebang Bambu, Ini Penjelasan Pinandita Pasek Swastika

BALI EXPRESS, DENPASAR - Sejumlah petuah dibeber tetua kita dahulu, agar tidak melakukan kegiatan yang pantang dilakukan. Mulai dari arah tidur sehari-hari, membuat bangunan maupun peralatan lainnya. Salah satunya ada pantangan agar tidak mencari dan menebang pohon bambu pada hari Minggu. Konon, jika dilanggar bambu tersebut tidak akan bisa tumbuh kembali.


Wakil Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, Pinandita I Ketut Pasek Swastika menjelaskan, penyebab dari adanya  pantangan dari leluhur agar tidak menebang pohon bambu pada hari minggu, ada maksud dan tujuannya. Dan, pantangan tersebut hingga kini masih diyakini dan dipatuhi masyarakat.


“Menebang pohon bambu pada hari Minggu, sebaiknya kalau bisa jangan dilakukan. Bukan hari Minggu saja sebenarnya, melainkan pada hari yang disebut dengan Pasah. Kebetulan Minggu itu Pasah makanya dilarang, dan  itu pun sesuai dengan dresta masing-masing. Sebab, pohon bambu akan tidak bisa tumbuh kembali,” jelas Pinandita I Ketut Pasek Swastika kepada Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin.



Ditambahkannya,  selain Pasah diperkenankan untuk menebang bambu, seperti halnya saat Beteng.  Pria asal Baluk, Jembrana ini  menjelaskan secara logika, pantangan tersebut bukan semerta-merta tidak boleh mencari bambu saat Minggu, melainkan ketika bambu terlalu sering dibabat perlahan akan punah.



Pasalnya, akar bambu sangat kuat menyangga tanah yang ada di daerah perbukitan hingga tebing. Jika itu habis maka berdampak pada longsor. Bahkan, sampai banjir bandang ketika musim penghujan. Dengan demikian, lanjutnya, pantangan itu disebutkan langkah dari mempertahankan tumbuhan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.


 


“Kenapa tidak boleh? Itu merupakan sebuah aturan yang dibuat oleh leluhur kita terdahulu,  supaya tidak terlalu sering  menebang bambu yang berujung pada kepunahan. Mengingat bambu merupakan salah satu yang digunakan sebagai uperengga dalam sebuah upacara yadnya di Bali,” terangnya.


Bambu dibutuhkan mulai dari membuat klatkat, sanggah cucuk, tetimpug, kulkul caru, asagan tempat banten, rangka tetaring, hingga  penjor.  Dijelaskannya, melihat sangat berpengaruhnya penggunaan bambu di sebuah upacara yadnya, diharapkan juga sebagai umat agar selalu melestarikan bambu. Salah satunya dengan tidakk menebang pada saat Pasah tersebut.
“Saat ini kita sudah merasakan bambu sangat sulit dicari, buktinya kebanyakan asagan (bangunan pengeluh) di pura-pura kini menggunakan besi. Kerangka tetaring juga menggunakan besi,  jangan-jangan nanti penjor pun akan beralih dari besi,” ujarnya.



Dalam kesempatan tersebut, Pinandita Pasek Swastika mengungkapkan terdapat beberapa jenis bambu. Dari berbagai jenis itu juga memiliki fungsinya masing-masing. Baik dalam penggunaan uparengga maupun penggunaan untuk  kepentingan manusia.  Salah satunya pembuatan atap rumah, hingga peralatan seperti tali dan semat.



Ia mencontohkan  tiying (bambu) tali biasanya digunakan sebagai tali untuk mengikat. Pada umumnya  beberapa tahun lalu tali yang terbuat dari bambu masih dipergunakan. Namun, saat ini hanya pada pembuatan uparengga saja, mulai untuk mengikat ulam banten, hingga mengikat kontruksi bade atau wadah.



Kemudian disebutkan ada tiying tali batu yang biasanya digunakan untuk usuk pada rumah. Tiying semat digunakan sebagai semat, dan tiying petung juga kerap digunakan sebagai kerangka rumah. “Jenis dan warnanya juga  bermacam-macam, seperti yang kuning disebut dengan tiying ampel gading, biasanya digunakan sebagai rantai untuk orang meninggal,  untuk sunari, dan tempat nunas tirta,” pungkasnya.



Ia menambahkan, di bebeapa daerah di Bali ada yang menyakralkan sebuah bambu. Lantaran bambu diyakini sebagai pelindung warga dari mara bahaya, mulai dari serangan penjajah hingga sebagai penyangga tebing tempat  tinggal. Mengingat, para pejuang  merebut kemerdekaan negara ini hanya mengandalkan bambu runcing, sehingga bambu dianggap sakral. “ Mari kita lestarikan bambu dengan menanam dan memelihara bambu,  agar bisa kita gunakan sebagai uparengga dalam pelaksanaan upacara yadnya. Apalagi, uparangga saat upacara tidak boleh digantikan dengan benda lain, selain bambu,” imbuhnya.



Selain dipergunakan uparengga, bambu juga kerap dijadikan bangunan. Salah satunya sebagai atap rumah. Pinandita  Pasek Swastika menjelaskan, umur bambu yang digunakan bangunan bisa bertahan hingga ratusan tahun. Namun, dengan ketentuan terkait hari baik dan cara memotongnya tepat.



“Kalau memang benar saat mencari dan memotong menggunakan hari baik, umur bambu yang digunakan akan lama bertahan. Bahkan sampai 150 tahun lebih. Karena menggunakan hari baik tidak akan dicari rayap dan masalah lainnya sehingga akan bertahan lama,” tukasnya.
Selain itu, dia juga mengungkapkan dalam pengunaan bambu juga terdapat mantranya dalam penyelesaiaan pembuatan bangunan. “Itu ada mantranya, yakni  tertuang dalam 'puja bambu pinaka puja  pamlaspas'. Namun, sekarang jarang yang menggunakan bambu untuk bangunan karena sudah digantikan dengan baja ringan,” paparnya.



Disinggung soal bambu  yang bagus digunakan bangunan, ia mengatakan yang sudah berwarna sedikit kuning.  “Kalau bambunya sudah masuwat kuning dan dipukul suaranya menggema, berarti sudah bisa ditebang dan digunakan,” tandas Pasek Swastika.

Editor : I Putu Suyatra
#upacara #hindu