Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Makna Kajeng Kliwon Uwudan Bertemu Buda Kliwon Gumbreg

I Putu Suyatra • Jumat, 28 Juni 2019 | 16:46 WIB
Ini Makna Kajeng Kliwon Uwudan Bertemu Buda Kliwon Gumbreg
Ini Makna Kajeng Kliwon Uwudan Bertemu Buda Kliwon Gumbreg


BALI EXPRESS, GIANYAR - Rahina Kajeng Kliwon sering dikaitkan dengan hal-hal yang berbau niskala. Bahkan, terkesan menyeramkan karena diyakini memancarkan aura magis yang sangat kuat dari alam semesta dan bersinergi dengan kekuatan niskala yang ada dalam tubuh manusia.


 


Bila ditelaah dasar sastranya, rahina Kajeng Kliwon merupakan pertemuan Tri Wara,  yaitu Kajeng dan Panca Wara Kliwon. "Rahina  ini sering dimanfaatkan untuk menghidupkan kekuatan dalam diri, baik itu Kanda Pat, Kekuatan Cakra maupun lainnya," papar salah seorang penekun spiritual, Jro Mangku Dalang I Nyoman Badra, saat ditemui Bali Express ( Jawa Pos Group) kemarin di rumahnya di Banjar Pengosekan, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Gianyar.



Ayah satu putri ini pun menjelaskan, jika Kajeng Kliwon dapat digolongkan menjadi  tiga (3), yakni Kajeng Kliwon Uwudan adalah Kajeng Kliwon setelah bulan Purnama. Kemudian Kajeng Kliwon Enyitan, yaitu Kajeng Kliwon setelah Tilem, dan yang ketika adalah Kajeng Kliwon Pamelastali yang datang setiap enam bulan sekali. Sama halnya dengan rahina Purnama dan Tilem, Kajeng Kliwon juga diperingati setiap 15 hari sekali.



Sebagai seorang penekun spiritual, yang selalu terlibat dengan penyembuhan penyakit niskala, seperti bebai, pepasangan, cetik, Jro Mangku Dalang Badra menerangkan  Kajeng Kliwon dipercaya sebagai hari turunnya para rencangan Ida Bhatara, seperti Bhutakala untuk mengganggu kehidupan manusia yang melanggar aturan di dunia niskala. Misalnya, bepergian tengai tepet (tepat 12 siang), bepergian tengah lemeng ( tepat 12 malam), serta orang yang tidak suka menjalankan dharma dengan baik dan benar.  "Pada umumnya saat Kajeng Kliwon, hendaknya menghaturkan sesaji untuk  menetralisasi kekuatan negatif yang tidak diinginkan” imbuhnya.



Lebih lanjut dijelaskannya,  Kajeng Kliwon di Bali sering juga dikaitkan dengan ilmu pangiwa. Seiring dengan bangkitnya Buthakala pada saat Kajeng Kliwon, maka hari itu akan dimanfaatkan penekunnya untuk membangkitkan ilmu pangliakan. Pada hari itu pula orang yang punya sasabukan, pangeger, panglaris yang terkait dengan pangiwa juga akan dihaturkan sesaji. "Sesaji itu beraneka ragam jenisnya, misalnya Pajati dilengkapi pawongan Rangda Sungsang, Pawongan Brumbun, Kepelan putih kuning dan lain sebagainya," sambungnya.



Dan, pada hari Rabu tanggal 19 Juni 2019 lalu, umat Hindu telah menjalani rahina Kajeng Kliwon Uwudan yang datang setelah Purnama bertemu dengan Buda Kliwon Gumbreg.  Buda Kliwon Gumbreg dirayakan setiap enam bulan sekali yang merupakan pertemuan antara Saptawara Buda, Pancawara Kliwon, dan Wuku Gumbreg. Hari itu pun sangat bernuansa sakral dan keramat bagi umat Hindu.



“Dalam Lontar Sundarigama tersirat bahwa hari keramat itu merupakan beryoganya Bhatara Siwa.  Pada saat ini umat seyogyanya mengadakan panyucian dengan ngaturan sesaji, dan melaksanakan panglukatan Dasa Mala Leteh.   Dasa Mala merupakan Sepuluh Kotoran yang melekat pada bathin umat manusia, yang merupakan musuh yang sangat dekat tempatnya, yaitu di hati. Dasa Mala yang semacam penyakit jiwa, yang mendatangkan dosa dan melapapetaka dalam kehidupan manusia. Misalnya kemalasan, sering putus asa, loba, sering berkata kasar, suka mengolok-ngolok, sering berbohong, mata keranjang, suka menipu,  sering menyakiti, dan memelihara iri hati," tambahnya.



Pada saat Kajeng Kliwon Uwudan, pada umumnya wajib menghaturkan blabaran atau segehan serta tipat dampulan pada masing-masing palinggih di rumah. Seperti di palinggih Taksu, Ratu Ngurah dan di Panunggun karang, sumur, di pamedalan, bale payadnyan serta palinggih lainnya. Tujuannya adalah untuk memohon keselamatan dan berkelimpahan rezeki dari Ida Bhatara yang berstana di palinggih tersebut.



Sedangkan banten Segehan/Blabaran dihaturkan di bawah, ditujukan kepada penghuni alam bawah, baik manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan maupun para gumatat-gumitit, para Bhutakala yang kasat mata. Segehan yang biasanya digunakan saat Kajeng Kliwon adalah  Segehan Cacah. Segehan ini dilengkapi nasi putih yang dibuat sedemikian rupa, dilengkap irisan bawang merah dan jahe, kemudian diberi sedikit garam.



Sedangkan Segehan Panca Warna, merupakan segehan yang tatacaranya sama persis yang terdapat dalam Segehan Cacah, namun warna nasinya lima macam dan ditanding ( dibentuk) dengan lima tempat yang berbeda. Segehan tersebut dihaturkan di tiga tempat, di halaman Sanggah atau Merajan, atau di depan Palinggih Pangaruman, dan ini ditujukan pada Sang Bhuta Bhucari. Kemudian di halaman rumah atau pekarangan rumah tempat tinggal,  ditujukan kepada Sang Kala Bhucari. Kemudian yang terakhir adalah dihaturkan di depan pintu gerbang pekarangan rumah atau di luar pintu rumah yang terluar,  ditujukan kepada Sang Durgha Bhucari.



Selain itu, pada Buda Kliwon Gumbreg juga diyakini sebagai hari pasucian Hyang Nirmala Jati.  Banten yang dihaturkan akan sesuai dengan Desa Kala Patra di masing-masing daerah. Pada umumnya sesajen yang dihaturkan berupa dampulan dilengkapai canang, bunga wangi wangian. 


 


“Kalau kita sedikit lirik dari primbon kelahiran, orang yang kelahiran Buda Kliwon, akan mempunyai kekuatan kasih yang tinggi. Artinya, disukai banyak orang, rezekinya berkelimpahan serta berbakat menjadi penulis, ahli filsafat, orator, namun sayangnya sering terperdaya karena pujian. Watak dari kelahiran Buda Kliwon Gumbreg, selalu menerima, agak pendiam, baik hati, suka menolong, namun terkadang agak sembrono," tandas pengusuda di Gedong Suci Usadha Agung tersebut.

Editor : I Putu Suyatra
#hindu