BALI EXPRESS, DENPASAR - Upaya pelestarian aksara Bali tak hanya bisa diterapkan dalam bentuk nyurat atau menuliskannya semata. Secara visual, aksara Bali bisa disenyawakan dengan seni rupa. Khususnya dalam format seni kaligrafi.
Karena itu, untuk pertama kalinya, seni kaligrafi Bali atau disebut Baligrafi ini dilombakan di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-41 yang berlangsung tahun ini.
Lomba tersebut berlangsung kemarin, Minggu (30/6), di Gedung Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Pesertanya dari kalangan pelajar SMA/SMK. Perwakilan dari masing-masing kabupaten/kota di Bali.
Aksara Bali mereka susun sedemikian rupa mengikuti pola-pola gambar. Ada yang menyerupai tokoh pewayangan, topeng jauk, hingga ornamen angin. Tidak jauh-jauh dari tema PKB tahun ini, Bayu Premana.
Seperti dikatakan I Made Yasana, salah seorang juri dalam perlombaan tersebut, dalam PKB tahun ini, Baligrafi untuk pertama kalinya dilombakan. Meski begitu, dalam pengamatannya, para pesertanya sudah memiliki bekal pemahaman mengenai Baligrafi itu sendiri.
“Pada dasarnya (peserta) sudah ada bekal dari sekolahnya,” tutur Yasana di sela-sela lomba.
Selaku salah seorang juri, Yasana menyebutkan salah satu unsur penilaian dalam lomba ini adalah unity (kesatuan). Atau, persenyawaan antara susunan kalimat beraksara Bali itu sendiri dengan pola atau simbol visual yang hendak ditampilkan.
“Bagaimana mengkreasikan aksara Bali ke dalam wujud yang hendak ditampilkan. Kemudian makna yang terkandung,” jelasnya.
Sementara itu, salah seorang peserta Baligrafi, Made Ananda Wedanta Kusuma, menyebutkan bahwa dirinya sudah melakukan persiapan sejak sebulan sebelum lomba.
Siswa dari SMA Dwijendra, Denpasar, tersebut menjelaskan, persiapan yang dia lakukan diawali dengan mencari kalimat-kalimat sastra dalam kekawin. Setidaknya, dia perlu lima hari untuk mencari kalimat sastra tersebut.
“Baru setelah itu mencari pola agar visualnya nanti sesuai yang kita inginkan,” tutur Ananda.
Dalam lomba kemarin, dirinya membuat Baligrafi berpola topeng jauk. Kalimat sastra yang dipakainya bersumber dari Kekawin Ramayana yang maknanya mengenai kepemimpinan.
“Tantangan membuat Baligrafi sebetulnya cukup luar biasa. Karena harus menyesuaikan antara aksara dengan bentuk yang ingin dibuat,” ujar siswa yang ikut ekstrakurikuler melukis ini.
Tantangan yang hampir sama juga dirasakan peserta lomba lukisan Prasi. Atau lukisan di atas daun lontar. Kebetulan lomba ini digelar berbarengan. Hanya saja lokasinya di Wantilan ISI Denpasar.
Kadek Agus Aditya Gopala yang sama-sama dari SMA Dwijendra, Denpasar, misalnya. Dalam sebulan terakhir sebelum mengikuti lomba, dirinya mesti berulang kali menggambar wayang.
“Pertama belajarnya di atas kertas sesuai ukuran lontar. Baru setelah itu di atas lontar asli,” sebutnya.
Dalam peralihan media itulah, dia mulai merasakan tantangan membuat lukisan Prasi. Kalau di kertas dia menggunakan pensil. Di atas daun lontar, dia harus menggunakan pemutik (sejenis pisau khas Bali).
Setelah guratannya selesai, baru permukaan daun lontar tersebut dibubuhi serbuk kemiri yang dibakar. Sehingga bekas guratan pemutik di atas lontar itu berubah menjadi outline atau garis-garis hitam yang tipis.
“Sulitnya waktu menggores pakai pemutik. Waktu pertama kali menggambar di atas lontar, tidak lancar. Selain itu ukuran gambarnya kan kecil-kecil,” ungkapnya.
Tapi seiring jalannya waktu, menjelang perlombaan kesulitan yang dihadapinya itu perlahan mulai bisa diatasi. “Kuncinya ada di keluwesan tangan (saat menggurat). Selain itu pemutik harus tajam juga,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra