Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pria atau Wanita Wajib Telanjang Saat Melukat di Beji Cempaka, Tangkup

I Putu Suyatra • Minggu, 22 September 2019 | 15:11 WIB
Pria atau Wanita Wajib Telanjang Saat Melukat di Beji Cempaka, Tangkup
Pria atau Wanita Wajib Telanjang Saat Melukat di Beji Cempaka, Tangkup


AMLAPURA, BALI EXPRESS - Era modern seperti saat ini, mandi menjadi hal yang sangat privasi. Namun ada satu Beji di Karangasem, jika ada yang mandi atau melakukan ritual melukat (melakukan pembersihan secara niskala) wajib telanjang bulat, baik itu perempuan ataupun laki – laki.


Sebelumnya perlu dipahami bahwa ini bukanlah bentuk pornografi atau pornoaksi. Ini adalah salah satu dresta atau kebiasaan yang telah ada di masyarakat Banjar Dinas Sangkungan, Desa Tangkup, Sidemen, Karangasem. Tentunya dresta ini hanya berlaku di satu lokasi khusus, yakni sebuah sumber air yang bernama Beji Cempaka. Setiap masyarakat yang mandi di kawasan beji tersebut tidak diperkenankan menggunakan pakaian sama s e k a l i a t a u tanpa benang sehelaipun.


S a l a h seorang warga, I Kadek Mertayoga, beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa kebiasaan tersebut sudah ada turun-temurun. Percaya atau tidak percaya, jika ada yang mandi menggunakan pakaian, walau hanya sehelai saja maka air yang berasal dari dalam tebing tersebut akan berhenti mengalir. “Bisa berhenti mengalir atau dalam bahasa Bali, nyat,” ungkapnya. Oleh karena itu, setiap warga Sangkungan, baik tua maupun muda, perempuan atau pun laki-laki, jika mandi di beji tersebut harus telanjang bulat.


Tidak terlalu percaya dengan hal tersebut, Bali Express penasaran diantar untuk menyambangi lokasi beji tersebut. Lokasinya memang tidak terlalu jauh dari jalan raya, hanya sekitar 300 meter melalui jalan setapak yang berliku melewati sawah dan tegalan. Namun medannya yang curam dengan batuan berlumut menjadi salah satu tantangan warga yang ingin mendatangi lokasi. Bahkan jika tidak berhati-hati bukan tidak mungkin akan terpeleset dan jatuh ke dasar jurang yang dalamnya sekitar 10 meter.


Setelah berjalan sekitar 15 menit, akhirnya Bali Express tiba di lokasi beji. Letaknya memang cukup tersembunyi, karena dikelilingi tebing dan pepohonan yang rimbun. Tampak air yang sangat jernih mengalir dari dalam tebing. Untuk memudahkan mengambil air tersebut warga memasang belahan bambu, sehingga menjadi pancuran. Di sebelahnya terdapat palinggih kecil dengan bekas sesajen berupa tumpukan canang.


Sebenarnya beji tersebut sudah dibuat permanen dengan senderan kecil. Hanya saja, ada bekas longsor yang menimpa aliran air dan menyumbat dua buah pipa paralon yang menjadi pancuran. Oleh sebab itu warga membuat pancuran sementara dari belahan bambu. Di samping itu, karena termakan usia, beberapa bagian senderan yang terbuat dari campuran beton dan batu kali tersebut telah retak dan koyak. Meskipun demikian, air yang mengalir tetap jernih. Ketika diminum, terasa alami dan menyegarkan.


Menariknya di senderan yang tingginya sekitar satu meter tersebut ada tulisan tegas yang intinya menyatakan dilarang mandi menggunakan pakaian. Di bawahnya terdapat tulisan pula yang menyatakan bahwa lokasi tersebut adalah arena penyucian Ida Hyang Parama Kawi atau Tuhan. Terdapat pula angka pembuatan senderan beji tersebut, yakni 8-8-80 atau 8 Agustus 1980. Di sebelah beji mengalir sungai kecil dengan air yang tak kalah sejuk dan jernih. Tampak beberapa ikan berenang bebas yang menandakan bahwa kebersihan kawasan tersebut masih terjaga.


Sesaat kemudian, ada dua orang ibu-ibu yang datang membawa ember dan botol air. Si ibu pun dengan ramah menyapa. Ketika ditanyakan soal mandi yang tidak diperkenankan menggunakan pakaian, si ibu pun membenarkan.


“Benar itu. Kalau ada yang menggunakan baju, bisa nyat,” ungkapnya. Di samping telah terbiasa mandi di tempat tersebut, si ibu pun mengatakan bahwa ia dan keluarganya terbiasa minum air beji. Oleh karena itu, sembari berangkat mandi ia sekalian membawa ember dan botol untuk membawa pulang air tersebut.

Editor : I Putu Suyatra
#tempat melukat #hindu #karangasem