MENGWI, BALI EXPRESS - Pura Luhur Gunung Sari yang lokasinya persis di depan Balai Banjar Gunung Sari, Desa Adat Mengwitani, Badung, bisa jadi dikira pura balai banjar. Namun
ada palinggih plus patung sosok pria berpakaian Tionghoa. Apakah pura ini juga jadi tempat sembahyang umat Tionghoa?
Pura Luhur Gunung Sari adalah pura pemaksan yang diempon dari berbagai desa di Bali. Menurut pemangku Pura Luhur Gunung Sari, Jro Mangku I Nyoman Duaja, 61, pura tempatnya ngayah ini dahulunya konon hanya diempon oleh warga di Mengwitani. Namun, karena dahulu banyak yang nunas tamba (memohon obat), akhirnya banyak orang datang ke pura ini. Mereka datang dari berbagai desa di Bali, berdasarkan petunjuk tokoh supranatural yang menginstruksikan untuk datang ke Pura Luhur Gunung Sari di Mengwitani untuk nunas tamba.
Dikatakannya, banyak yang nunas tamba bisa sembuh dari sakitnya, yang kemudian berjanji menjadi pemaksan. Lambat laun pangempon pura semakin bertambah banyak. Ada yang dari Kediri, Dakdakan di Tabanan, kemudian dari Kapal, Sembung, Kekeran, dan Mengwitani di Badung.
“Dari sanalah pangempon pura sampai mencapai 86 Kepala Keluarga (KK),” ujar Mangku I Nyoman Duaja kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) kemarin.
Diakuinya hal itu hanya terjadi di masa lalu. Ketika dia sudah mulai menjadi pemangku, tidak pernah ada lagi tambahan panyungsung. “Tidak ada, hanya dahulu saja ada penambahan pemaksan dari nunas tamba di pura ini,” terang pria kelahiran 1958 ini.
Lambat laun rupanya ada pemaksan yang berhenti ikut jadi pangempon Pura Luhur Gunung Sari. "Setelah berhenti menjadi pemaksan, tiba-tiba saja anggota keluarga si pemaksan yang berhenti itu meninggal," papar Jro Mangku I Nyoman Duaja.
Lantaran peristiwa tetsebut, lanjutnya, orang bersangkutan kembali jadi pangempon pura. Bahkan sejak kembali jadi pemaksan, usahanya semakin sukses.
Sebagai pura yang sudah lama berdiri, rupanya di area Pura Gunung Sari ada Palinggih Betawi. Palinggih ini memiliki sebuah pratima dengan sosok orang berpakaian Tionghoa. Menanggapi hal itu, Jro Mangku I Nyoman Duaja memgaku awalnya tidak mengetahui begitu jelas alasan keberadaan pratima orang Tionghoa tersebut. Namun, setelah ditelusuri ternyata ada kaitan dengan Pura Luhur Dalem Betawi.
Menurut Mangku Luhur Dalem Betawi, Jro Mangku I Made Karda, 74, ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) dalam kesempatan terpisah, menyatakan bahwa ada keterkaitan dengan penasihat Ratu Manik Galih dari Kerajaan Guan (Tiongkok) bernama Santun. Santun meminta izin kepada Ida Bathara yang malinggih di Pura Luhur Gunung Sari untuk bermeditasi.
“Beliau memberi izin untuk Santun bermeditasi di padukuhan bekas setra Pura Dalem Brerong,” ujar Jro Mangku I Made Karda.
Selang beberapa lama usai meditasi, lanjutnya, beliau meminta izin kepada Ida Bathara di Pura Luhur Gunung Sari untuk tinggal menetap di padukuhan. "Maka sejak diizinkan itu, dibuat pasimpangan di Pura Gunung Sari,” tambah pria lulusan arsitektur ini.
Pasimpangan itu dibuat sebagai sosok Santun sang penasihat. Selain itu,juga dibangun Pura Luhur Dalem Betawi di padukuhannya. Sehingga akhirnya Pura Luhur Gunung Sari mempunyai kaitan dengan Pura Luhur Dalem Betawi.
Ditanya mengenai tentang ada umat dari Tionghoa sembahyang ke Pura Luhur Gunung Sari, Jro Mangku I Nyoman Duaja menerangkan bahwa selama ini tidak pernah ada. “Walau ada palinggih dengan pratima sosok orang Tionghoa, namun tidak ada orang Tionghoa pernah sembahyang ke sini,” beber pria yang dikaruniai dua anak ini.
Sebagai bukti ada kaitan dengan sosok Tionghoa di Pura Luhur Dalem Betawi, Jro Mangku I Nyoman Duaja mengatakan ada peristiwa unik. Ada orang yang mengaku balian (tokoh supranatural) datang ke Pura Luhur Gunung Sari. "Si Balian langsung berdiri di depan Palinggih Betawi. Tiba-tiba saja dia karauhan dengan bahasa China. Dia mencari saya dan saya tidak paham sama sekali ucapannya. Rupanya itu bahasa China (Mandarin),” tuturnya.
“Setelah disadarkan istrinya, si balian hanya berujar agar saya semangat ngayah di pura ini,” imbuhnya.
Selain punya pratima sosok pria Tionghoa, di Gedong Sasuhunan pura rupanya terdapat pratima Wiku Wanita. Saat piodalan yang jatuh pada Buda Umanis Wuku Medangsia, ada acara Masiat-siat (perang-perangan).
Hal itu dilakukan oleh dua orang pria yang mengambil senjata yang sama. “Misalnya umbul-umbul lawan umbul-umbul juga, kalau tombak lawan tombak. Begitu seterusnya, bergiliran sampai semua senjatanya habis. Tidak keras dan serius melaksanakannya, karena itu hanya simbolis,” ungkapnya.
Jro Mangku I Nyoman Duaja mengaku tidak tahu sejak kapan dan alasan apa dilakukannya Masiat-siat itu.
Pura Luhur Gunung Sari memiliki beberapa palinggih, yakni Gedong Sasuhunan, Gedong Betawi, Ratu Trang sebagai tempat memohon cuaca cerah, Padma Taksu, Gedong Ratu Made, Ratu Nyoman Sakti, Padma Tiga, Gedong Busana, Bale Pengiasan, dan Sambyangan. (agus sueca)