TABANAN, BALI EXPRESS - Pura Luhur Tamba Waras terletak di sebelah selatan Gunung Batukaru, tepatnya di Desa Sangketan, Penebel, Tabanan. Pura ini merupakan salah satu jajar kemiri dari Pura Luhur Batukaru, selain Pura Besikalung, Pura Pucak Sari, dan pura lainnya.
Jika ingin tangkil ke pura ini, maka harus menempuh jarak sekitar 22 km dari kota Tabanan ke arah utara. Pura Tamba Waras diperkirakan berdiri sekitar abad ke 12. Jro Mangku Wayan Nantra, salah seorang pamangku yang ditemui Bali Express mengungkapkan bahwa pura ini memang sudah ada semenjak zaman dahulu. Jro Mangku Nantra sudah ngayah sebagai pamangku semenjak kecil. “Itu karena Ida kayun tiang ngayah, jadi sudah dari sekolah tiang ngayah,” ungkapnya.
Sebenarnya Jro Mangku Wayan Nantra dan enam orang pamangku lainnya piket secara bergiliran setiap harinya. “Tapi kadang jadwal tiang tidak menentu karena menggantikan teman-teman yang sibuk,” ujarnya, Agustus 2016.
Meskipun demikian, ia dengan setia melayani umat. Ia tidak segan mengobrol dengan akrab bersama para pamedek yang tidak dikenalnya. “Prinsip tiang, harus mencari nyama braya di manapun berada,” ungkapnya sembari tertawa kecil.
Menurutnya, selain berkaitan erat dengan Pura Luhur Batukaru, Pura Tamba Waras memiliki sejarah yang mendalam dengan Pura Dalem Solo. Selain itu berkaitan pula dengan Pura Puser Tasik. Oleh karena itu, di pura tersebut terdiri dari banyak palinggih, namun yang utama adalah palinggih Panglingsir Ratu Niang dan Gedong Bhatara Kabeh yang menggunakan wastra poleng.
Menurut beberapa sumber, salah seorang Raja Tabanan, yakni Cokorda Tabanan pada zaman dahulu mengalami sakit keras dan lama tidak mendapat obat. Suatu ketika, dikirmlah utusan untuk mencarikan obat sesuai dengan petunjuk gaib yang diterima. Petunjuk tersebut yakni berupa kepulan asap. Setelah sekian lama berjalan di dalam hutan Batukaru, tiba-tiba utusan tersebut melihat asap mengepul yang berasal dari sebuah kelapa di tanah, di dalam rumpun bambu. Setelah memohon di tempat itu, didapatkanlah obat. Obat tersebut kemudian dihaturkan kepada raja. Secara perlahan sang raja sembuh. Sebagai penghormatan dan pemuliaan, di tempat itu dibangunlah tempat pemujaan yang dinamakan Tamba Waras yang kini menjadi Pura Tamba Waras. Kata Tambawaras atau Tambo Waras berasal dari kata tamba dan waras. Tamba berarti obat, sedangkan waras artinya sehat.
Mengenai piodalan atau pujawali, Jro Mangku Wayan Nantra mengatakan jatuh pada Buda Manis Prangbakat. “Dua bulan setelah pujawali di Pura Batukaru,” ungkapnya. Sedangkan pangamong pura ini dikatakan ada lima banjar adat, yakni Kayu Puring, Munduk Dawa, Munduk Bun, Sangketan, dan Bongli.
Ramuan Obat Dibuat Langsung di Pura
Sesuai namanya, Tamba Waras, pura ini menjadi pusat pembuatan obat. Bahkan ada palinggih khusus untuk membuat obat, yakni berupa perapian bernama Palinggih Hyang Geni dengan sejumlah peralatan seperti wajan dan bahan obat-obatan, di antaranya daun kayu putih yang dipetik langsung di jaba tengah serta beberapa temu-temuan dan minyak.
“Bahannya direbus di sini,” ujar Jro Mangku Wayan Nantra sembari menunjuk perapian berbentuk persegi dengan ukuran setengah meter. Sebagai bahan bakar, perapian tersebut masih menggunakan kayu bakar.
Hal yang unik lainnya adalah perapian tersebut dikatakan oleh Jro Mangku sebagai tempat juga untuk nerang atau memohon agar tidak hujan jika upacara berlangsung. “Dipakai untuk nerang juga. Biasanya jro mangku memohon agar hujan tidak jatuh saat puncak pujawali,” jelasnya.
Jro Mangku asal Banjar Sangketan tersebut mengatakan bahwa banyak orang yang sembuh setelah berobat di Pura Tamba Waras. Mengenai obat, bentuknya berupa minyak untuk diminum dan minyak untuk pijat urut. Mengenai penyakit, tentunya akan disesuaikan ramuannya, namun Jro Mangku mengatakan penyakitnya tidak terbatas. Mulai dari penyakit luar, penyakit dalam, hingga penyakit sekala, dan niskala. Di samping itu, mengenai sarana hanya berupa banten daksina pejati seperti halnya sembahyang di pura lainnya. Di samping datang untuk berobat, dikatakan banyak pejabat dan masyarakat umum yang datang untuk sekedar memohon keselamatan dan kerahayuan.
Jika ingin tangkil ke pura ini, umat tidak perlu khawatir tidak ada yang menyambut karena setiap hari ada yang piket. Hanya saja sebaiknya mencari rahinan seperti Purnama atau Tilem, atau bisa pula pada hari Minggu.
Editor : I Putu Suyatra