Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ritual Daratan di Selumbung, Puluhan Warga Kerauhan

I Putu Suyatra • Rabu, 16 Oktober 2019 | 03:29 WIB
Ritual Daratan di Selumbung, Puluhan Warga Kerauhan
Ritual Daratan di Selumbung, Puluhan Warga Kerauhan


AMLAPURA, BALI EXPRESS – Rangkaian Upacara Ngusaba Puseh, di Pura Puseh Desa Adat Selumbung, Kecamatan Manggis, Karangasem, telah berlangsung selama enam hari sejak Rabu (9/10) lalu. Dari beberapa rentetan upacara, ritual Daratan atau biasa disebut ritual Narat, paling menjadi sorotan. Baik oleh warga setempat maupun warga luar Karangasem yang mengetahuinya melalui media sosial.


 


Saat puncak Ngusaba Puseh, Selasa (15/10) sore, warga Desa Selumbung beramai-ramai datang ke Pura Puseh untuk mengitu rangkaian prosesi upacara. Suasana mencekam pun dimulai. Beberapa di antara krama yang menyaksikan jalannya ritual mulai kerauhan. 


 


"Huaakk..." begitu teriakan salah seorang warga sedang duduk bersila di jaba tengah atau madya mandala pura. Pria tersebut berlari sambil memejamkan mata, dengan raut wajah seperti kesakitan sambil berteriak histeris. Ratusan pasang mata pun larut dengan rasa penasarannya.


 


Pria yang kerauhan tersebut lantas membuka baju dan mengambil sebilah keris. Mulailah dia menusuk-nusuk keris ke seluruh bagian tubuhnya. Tanpa disadari, lengan pria itu tergores. Tapi sama sekali tidak merasakan sakit. Beberapa orang juga serempak mengalami kerauahan. 


 


Semuanya berlari menuju sebuah balai tempat sarana upacara distanakan. Terdapat joli, semacam pikulan terbuat dari daun brasok kering nan dihiasi kain suci. Warga mempercayai joli amat dikeramatkan. Warga yang kerauhan memikul joli sambil berteriak. Beberapa di antaranya menari-nari.


 


Tidak hanya pria, beberapa wanita juga mengalami hal serupa. Mereka menari sambil membawa canang, dupa, dan sebagainya. Pemangku juga nampak memanjatkan doa serta menghturkan sesaji, seraya para pengayah (abdi) menjalankan ritual. "Ritual Daratan ini memang sakral," imbuh warga Selumbung, Made Kerti.


 


Pantauan media ini, prosesi tidak hanya terjadi di area tengah pura, tapi juga di jaba hingga di jalanan desa. Ini terlihat saat rombongan warga yang mengikuti prosesi masuryak (sebelum Narat) di depan Pura Desa setempat, beranjak menuju Pura Puseh. 


 


Mereka yang kerauhan memang dikehendaki oleh para dewa yang berstana di Pura, atau atas kehendak Tuhan. Sehingga mereka yang ngurek keris tidak kesakitan. Tradisi ini memang sudah berlangsung secara turun-turun. Maka tidak mengherankan lagi kalau semua kalangan di desa tersebut menyaksikan ritual Narat penuh suka cita.


 


Hentakan suara gamelan kian menyemarakkan suasana. Makin petang, suasana magis semakin kuat. Warga yang masih ngurek terus berteriak. Bahkan teriakan terjadi silih berganti. Orang yang kerauhan juga silih berganti.


 


Ngusaba Puseh di Desa Selumbung dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Bahkan dalam satu kali ngusaba, dilaksanakan dua kali ritual Daratan. Ada sekitar 700 kepala keluarga dari 5 banjar yang ada di Selumbung. Mereka wajib menyaksikan prosesi Daratan ini. Bahkan masing-masing banjar menjadi pengempon setiap Ngusaba berlangsung tiap tahun. 

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #hindu #tradisi hindu #karangasem #kerauhan #tradisi unik #ritual unik