MENGWI, BALI EXPRESS - Pura Taman Sari di Desa Baha, Mengwi, Badung, memiliki pemandangan indah dengan kawasan hijau di area belakang pura. Pada masa pendudukan Jepang, pura ini menjadi sasaran tentara Negeri Matahari Terbit.
Pura Taman Sari terletak sekitar dua ratus meter di barat Pura Dalem Desa Adat Baha. Dari sisi jalan tampak sebuah Patung Ida Pedanda yang menjadi objek pertama terlihat.
Selain itu juga, tidak kalah menariknya ada dua ekor patung anjing di sisi kanan dan kiri area depan pura.
Pura yang kawasannya cukup luas ini menjadi saksi sejarah ketika pendudukan Jepang di Bali. Ketika Jepang berhasil memasuki Bali, mereka membuat gudang penyimpanan senjata, salah satunya adalah di Desa Baha. Lokasi tempat gudang senjata itu dikenal dengan nama Alas (hutan) Baha.
Menurut pemangku Pura Taman Sari, Jro Mangku I Ketut Sapereg, 80, saat Jepang berkuasa mereka membangun semacam tangsi (barak) militer di Desa Baha. Pembuatan tangsi oleh Jepang untuk melindungi gudang senjata mereka.
Jepang juga memikirkan suplai penunjang kehidupan tentara mereka, sehingga akhirnya memilih air dari Pura Taman Sari sebagai sumber air untuk kehidupan sehari-hari mereka. “Jepang menyedot air dari pura ini dan kemudian membangun penampungan airnya di tangsi di Alas Baha sana,” ungkap Jro Mangku I Ketut Sapereg sambil menunjuk ke lokasi bekas Alas Baha.
Jro Mangku I Ketut Sapereg menjelaskan, alasan pemilihan Pura Taman Sari sebagai sumber air bagi tentaranya, karena kelebutan (mata air) di dalam pura sangat besar. Air dari kelebutan pura, bahkan kini bisa untuk mengairi sawah dan tidak pernah kering. Kini bahkan ada empat pipa di sebelah timur pura yang digunakan untuk mengalirkan air dari Pura Taman Sari ke sawah warga.
Tentara Jepang kala itu, lanjut Jro Mangku I Ketut Sapereg, sudah punya teknologi menaikkan air yang bahkan belum dikenal oleh warga kala itu. Posisi Pura Taman Sari yang terletak di jalan tanjakan, mengharuskan para tentara itu menggunakan mesin agar air mudah dibawa ke tangsi.
“Jepang kan sudah maju sekali ya kala itu. Jadi untuk melakukan hal itu tidak sulit. Walaupun digunakan dalam skala besar oleh Jepang, air di Pura Taman Sari tidak pernah kering,” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) saat ditemui di kediamannya, akhir pekan kemarin.
Usai pendudukan Jepang berakhir, Pura Taman Sari kembali ke peruntukannya semula, tidak digunakan seperti sebelumnya saat Jepang masih berkuasa.
Pura yang piodalannya jatuh Anggara Kasih Wuku Tambir ini, juga menjadi lokasi upacara Melasti kala transportasi masih susah. Jro Mangku I Ketut Sapereg memaparkan, jauhnya lokasi pantai dari Desa Baha membuat krama desa kala itu menyelenggarakan Melasti di Pura Taman Sari. “Semenjak kemudahan transportasi akhirnya mulai Melasti di adakan di pantai,” tuturnya.
Sebagai pura dengan air yang melimpah, pemerintah pernah berkeinginan mengelola air tersebut menjadi air minum. Jro Mangku I Ketut Sapereg menjelaskan, dalam persiapan untuk memasarkan air ke konsumen, pemerintah melakukan tes air dari kelebutan. "Tidak disangka, ternyata air berubah menjadi keruh ketika sampai di laboratorium. Padahal, air di pura ini jernih. Diapun tidak mengerti akan hal itu, dan kenapa bisa teradi. Saya hanya memikirkan bahwa ini memang kehendak Ida yang berstana di Pura Taman Sari ,” ujarnya sambil mencakupkan tangan di dahinya.
Selain peristiwa aneh itu, lanjutnya, sakralnya Pura Taman Sari ini adalah debit airnya berkurang separuh saat ada proyek dekat pura tidak mapikeling (mohon izin).
"Warga sempat heran karena debit air berkurang, namun setelah ngaturan mapikeling debit air kembali normal," paparnya.
Jro Mangku I Ketut Sapereg juga menjelaskan bahwa krama desa tidak pernah ada yang berani mandi secara langsung di bawah pancuran pura. Buruh dari luar daerah yang meminta izin mandi di sana, juga tidak diperkenankan. Tidak ada alasan pasti ataupun tidak diketahui akibatnya jika mandi langsung di bawah pancuran itu. “Selama tiang (saya) jadi pemangku 19 tahun ini, bahkan sejak dahulu memang tidak ada yang berani. Kecuali sudah mengalir jauh ke saluran irigasi sawah itu baru berani,” tegasnya.
Pura Taman Sari ini juga kerap didatangi warga yang ingin malukat (mohon pembersihan) maupun nunas tamba (mohon kesembuhan). Biasanya warga yang datang karena sudah nunas baos (dapat petunjuk) dari orang pintar. Mereka diminta mencari tamba di Pura Taman Sari ini. Jika malukat dengan air dari pancuran di jaba, tamba yang dicari warga yang datang itupun adalah tumbuhan yang tumbuh di palinggih. “Ajaib, tiap tumbuhan yang mereka cari untuk boreh (lulur) dari nunas baos, itu selalu ada. saya heran, rata rata petunjuknya seperti itu,” beber pria yang juga menjadi mangku di Pura Prajapati ini.
Ditambahkannya, pura yang memiliki satu palinggih, yakni Palinggih Gedong Kunci sebagai stana Ida Sang Hyang Gayatri ini, memiliki duwe (sosok penjaga gaib) be (ikan) Julid. Selain itu, juga ada Sampi Selem (sapi hitam). Bukti keberadaan Sampi Selem itu adalah anugerah yang didapat oleh leluhurnya, sebagai pemangku sebelumnya. “Dapat paica (anugerah) genta dengan ujungnya kepala sapi. Suaranya akan berbeda sekali, walau seribu genta diayunkan bersamaan, suara genta ini tetap bisa kita ketahui jelas bedanya,” tandas pria yang tinggal di Jalan Ratna, Banjar Pengabetan, Desa Baha ini.
Editor : I Putu Suyatra