Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Gunung Agung, Desa Adat Tuka; Tempat Mencari Taksu Dagang

I Putu Suyatra • Minggu, 27 Oktober 2019 | 14:41 WIB
Pura Gunung Agung, Desa Adat Tuka;  Tempat Mencari Taksu Dagang
Pura Gunung Agung, Desa Adat Tuka; Tempat Mencari Taksu Dagang


DALUNG, DENPASAR - Pura Gunung Agung yang terletak di Desa Adat Tuka, Dalung, Kecamatan Kuta utara ini sangat unik.  Dengan memakai konsep dwi mandala, ternyata pura yang diempon 30 KK ini, merupakan tempat untuk memohon taksu bagi para pedagang. Pura sebagai stana  Ida Ratu Gede Pengeragoan ini dijaga ular duwe.  


Salah satu ciri khas  pura yang ada di Desa Adat Tuka ini adalah, hanya memiliki satu tempat untuk semua palinggih. Tak heran, jika pura ini terlihat seperti pura hyang ibu. Namun sesungguhnya, pura ini diempon oleh warga Desa Adat Tuka.


Hal ini diceritakan pemangku pura tersebut, Jro Mangku I Made Repan, 69, saat ditemui Bali Express Jawa Pos Group) di kediamannya akhir pekan kemarin. Didampingi oleh Mangku Istri Ni Luh Pudak, 67, dia menceritakan bahwa pura ini adalah pura yang diempon oleh warga di Desa Adat Tuka. Sebelumnya pura ini bernama Pura Agung. “Penambahan kata ‘Gunung’ ini saya kurang tahu alasannya, karena sudah sejak lama sekali. Ada sekitar 23 tahun lalu namanya sudah diubah,” ungkapnya.


Sebelumnya, kondisi Pura Gunung Agung tidak terlalu baik. Pun setiap piodalan, hanya menggunakan hasil panen pelaba pura, berupa sawah seluas 16 are. “Waktu itu, pemangku yang mengelola carik. Jadi yang membiayai setiap piodalan, seperti membuat banten dan lainnya, hanya pemangku. Sedangkan para pengempon tidak kena urunan karena kondisi saat itu serba kekurangan,” papar Jro Mangku I Made Repan.


“Sekitar lima tahun lalu, setelah dikelola pengurus, biaya untuk piodalan baru dibagi. Jadi tidak semuanya lagi dibebankan ke pemangku. Mungkin umat ingin mengurangi beban pemangku,” timpal Mangku Istri Ni Luh Pudak.


Terkait kondisi pura, keduanya mengaku bahwa perbaikan dilakukan saat menjelang piodalan. Semenjak 25 tahun lalu, para pangempon melakukan perbaikan sedikit demi sedikit. Selain urunan para pengempon, juga lewat bantuan pemerintah melalui  proposal yang diajukan. “Sebelum itu, saya buat lubang di area pura untuk dicari tanahnya. Kami gunakan untuk memperbaiki bagian palinggih yang rusak,” ujar pria yang menekuni profesi menjadi penjahit ini.


Keduanya mengakui, bahwa sebelumnya tidak mudah melakukan perbaikan pura karena jumlah pangempon hanya 33 Kepala Keluarga (KK). “Jadi untuk penggalangan dana sangat sulit. Tidak seperti sekarang,” tegasnya.


Namun tahun 2013,  proposal yang diajukan pengurus pura mendapat respon positif. Pembangunan pura akhirnya dilaksanakan oleh pengurus. Dalam pemugaran pun akhirnya ada perubahan kondisi palinggih karena terbatasnya dana. “Saat itu kami nunas baos, meminta izin untuk mengubah palinggih meru tumpang lima menjadi meru tumpang tiga,” ucap Jro Mangku I Made Repan.


Ida Ratu Made Pengeragoan yang kala itu tedun, mengizinkan perubahan meru dari tumpang lima jadi tumpang tiga. “Beliau mengerti akan keadaan umat pangempon yang sedikit. Karena sudah mendapat izin, akhirnya kami berani mengubah palinggih di Pura Gunung Agung,” paparnya.


Usai pemugaran, saat hari piodalan, pada Tumpek Wariga, Saniscara Kliwon Wuku Wariga,  akhirnya dilakukan upacara Ngenteg Linggih. “Kami merasa bersyukur atas selesainya pura sehingga tidak perlu lagi seperti sebelumnya harus menggali tanah untuk memperbaiki palinggih yang terbuat dari bata dan batu paras dengan tanah sari,” ujarnya. 


Pura Gunung Agung tidak hanya berfungsi sebagai pura keluarga, tetapi juga dipercaya sebagai tempat mencari taksu. Taksu di pura ini biasanya untuk berdagang. Jro Mangku I Made Repan menjelaskan, biasanya orang yang akan membuka usaha dagang, sebelum memulai usahanya, akan datang membawa pejati. Selanjutnya, pejati itu dihaturkan di Gedong Ida Ratu Made Pengeragoan. “Pejati ditaruh di atas pelangkiran tempat berjualan. Banyak yang sudah membuktikan hasil nunas taksu dagang di pura tersebut,” bebernya.


Secara niskala, Pura Gunung Agung memiliki duwe berupa ular. Selain itu konon, menurut cerita nenek dari Jro Mangku I Made Repan bahwa ia pernah mengalami seperti nyata (dalam mimpi) naik kereta hijau dengan kuda hijau. Kereta itu adalah kendaraan dari Ida Ratu Made Pengeragoan. “Dalam mimpinya, nenek saya melihat Ida Ratu Made Pengeragoan naik kereta. Dia diajak ikut. Namun nenek saya tidak berani memastikan makna mimpi tersebut,” tutur Jro Mangku yang dikaruniai tiga anak ini.


Pura Gunung Agung memiliki dwi mandala.  Di utamaning mandala terdapat palinggih Meru Tumpang Tiga yang sebelumnya tumpang lima. Meru ini merupakan stana Sesuhunan ring Gunung Agung. Di pelinggih tersebut terdapat pratima berupa singa yang ditunggangi pria dan wanita. Kemudian ada Padmasana sebagai pemujaan Ida Sang Hyang Widhi, Gedong Ida Ratu Made Pengeragoan dan terakhir Pelik Sari. Sementrara madya mandalanya berupa area jaba pura langsung di sisi jalan. “Di tempat ini hanya ada Palinggih Ratu Ngurah,” tutupnya.

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #pura #sejarah pura