Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Beringin Bolong Pantang Dilintasi Calon Pengantin dan Balian

I Putu Suyatra • Jumat, 10 Januari 2020 | 18:36 WIB
Beringin Bolong Pantang Dilintasi Calon Pengantin dan Balian
Beringin Bolong Pantang Dilintasi Calon Pengantin dan Balian

TABANAN, BALI EXPRESS, Di Desa Buwit, Kecamatan Kediri, Tabanan, Bali, ada juga pohon beringin yang mirip dengan di Bunut Bolong,  Jembrana. Bila hedak melintas di bawah pohon berlubang  ini,  ada syarat khusus  yang tak boleh dilanggar.


Pura Batan Bingin  di Banjar Dinas Kelakahan, Desa Buwit, Kecamatn Kediri, Tabanan, sebagaimana namanya, pura ini mempunyai sebuah pohon beringin besar yang berdiri tegak di sebeah pura. Beringin terlihat unik karena membentuk sebuah lubang yang  menjadi celah jalan untuk warga melintas. Sehingga mirip dengan Pura Bunut Bolong yang ada di Desa Pekutatan,  Jembrana.


Pemangku Pura Batan Bingin, Jro Mangku I Nengah Lalah, 79, mengungkapkan keberadaan pohon beringin awalnya  dua buah.  Satu berada di  luar pura yang membentuk lubang di jalan desa dan satu di dalam pura. Namun, karena semakin besarnya pohon beringin di pura, maka ditunas (ditebang).


“Rupanya yang malinggih itu adalah anak dari yang bersemayam di beringin yang lagi satu.  Ketika kami meminta petunjuk niskala, yang berstana di pohon tersebut  memohon dipindahkan melalui upakara ke pohon beringin yang ada di jalan di luar pura,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) awal pekan kemarin.


Keberadaan pohon beringin ternyata menyimpan banyak misteri. Warga mempercayai bahwa pohon beringin tersebut pantang dilintasi oleh orang tertentu. Mulai dari calon pengantin, mayat dan keluarga yang berduka hingga balian serta orang yang suka membawa jimat. Kepercayaan ini rupanya sudah turun temurun dan ada alasan khusus sehingga diyakini hingga kini.



Pohon beringin yang bentuknya ada lubang di tengahnya itu, bukan gabungan dua pohon. Bagian pohon di selatan dan utara menyatu di atas di ketinggian 10 meteran dari atas tanah. Selain itu, jarak antar bagian selatan dan utara pohon cukup lebar, membuat jalan di bawahnya bisa dilintasi mobil. “Dahulu hanya itu akses jalan satu-satunya warga ketika melintas. Namun, dengan adanya sejumlah pantangan itu, akhirnya dibuat jalan baru di sebelah utara,” ungkap Jro Mangku I Nengah Lalah, sambil menunjuk jalan lain tersebut.



Dikatakannya, kepercayaan tidak boleh melintas bagi calon pengantin dimulai ketika  seorang yang sudah melakukan lamaran atau dilamar sampai  resmi menikah. Rentang waktu selama dari lamaran hingga proses menikah selesai, lanjutnya, kedua mempelai akan dilarang  melintas di bawah pohon beringin. Konon, jika melintas dibawah pohon beringin, maka pernikahan akan tidak harmonis. “Makanya ketika proses menjelang pernikahan akan ada orang yang khusus menjaga dekat pohon, takutnya yang mengantar pengantin tidak tahu pantangan di pohon ini,” ujar I Nengah Warta, 52, anak Jro Mangku I Nengah Lalah kepada koran ini. Beberapa waktu lalu ternyata ada pasangan pengantin yang melintas di bawah pohon. Mempelai yang tidak sengaja melewati lubang tersebut kemudian pingsan ketika sampai di rumah.


“Mempelai perempuan yang berasal dari desa saya yang pingsan, suaminya kan dari luar. Kemudian keluarganya bersama saya ngaturan panauran (persembahan) dengan banten Rayunan Pangulem bebek ke Pura Batan Bingin untuk mencegah hal yang tidak diinginkan,” beber Jro Mangku I Nengah Lalah.



“Waktu itu mungkin karea lelah, penjaga yang menunggu dekat pohon pergi sebentar. Nah, pas ditinggal itu, rombongan pengantin datang sehingga lewat,” imbuhnya.



Warga pun kini selain menyisati dengan melewati jalan alternatif ketika ada upacara pernikahan, juga berjalan kaki di sebelah utara pohon beringin.



Nengah Warta menerangkan, pengantin akan turun dari mobil, kemudian jalan kaki di sebelah utara pohon, sedangkan mobil pengantin lewat di bawah pohon beringin. “Cara itu  bisa dilakukan,  agar lebih cepat dan juga tidak melanggar pantangan,” ungkap Nengah Warta.



Kepercayaan lainnya adalah pantang warga melalui jalan  lubang di bawah pohon beringin ketika proses penguburan maupun Ngaben. Pantangan ini dipercayai  turun temurun. Jro Mangku I Nengah Lalah tidak mengetahui alasan adanya pantangan ini. Kendati demikian, warga tetap mengikuti pantangan tersebut sampai sekarang. “Warga yang mau melayat pun memilih tidak melewati jalan di bawah lubang pohon beringin,” terangnya.



Pantangan lainnya, lanjutnya, Balian (tokoh usadha) pantang melewati, apalagi membawa jimat.
Balian ketika hendak melewati pohon ini  langsung merasa ketakutan dan memilih melewati jalan di sebelah selatan pohon. “Saat saya mengantar seorang balian, dia mengaku kesaktiannya bisa hilang bila melewati jalan lubang pohon beringin,” papar Jro Mangku I Nengah Lalah yang diiyakan Nengah Warta.
“Orang yang bawa jimat kekebalan atau jimat apapun melihat pohon ini langsung merasa takut. Kata mereka kekuatan jimatnya bisa hilang. Bahkan, dari masuk ke jalan ini, baru lihat pohon beringin mereka langsung putar haluan,” timpal I Nengah Warta.



Jika ada prilaku  seperti itu, maka warga sekitar akan paham kalau orang tersebut pasti membawa jimat atau  punya kesaktian khusus.



Tidak hanya bagi warga sekitar atau orang lokal saja. Keberadaan pohon beringin di Pura Batan Bingin, sering membuat turis yang mengaku sebagai penekun spiritual selalu kagum. “Tidak jarang turis datang jauh-jauh ke sini hanya karena ingin melihat dan merasasakan aura pohon beringin ini,” pungkas I Nengah Warta. Tak hanya pohon beringin yang banyak misteri, tapi ada juga pura di kawasan ini yang sangat unik. Baca edisi selanjutnya.

Editor : I Putu Suyatra