DENPASAR, BALI EXPRESS - Hari Siwaratri yang jatuh pada purwaning Tilem Kapitu, Kamis, 23 Januari 2020, dianggap sebagai hari perenungan dosa. Umumnya dilaksanakan dengan cara melek dan sembahyang oleh umat Hindu. Lantas, bagaimana menyikapinya di era milenial ini?
Siwaratri jadi momen khusus bagi umat Hindu untuk melakukan instropeksi, memuja Sang Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Siwa. Siwaratri berasal dari bahasa Sansekerta. Siwa berarti baik hati, suka memaafkan, memberi harapan dan membahagiakan. Siwa juga manifestasi Tuhan dalam fungsinya sebagai pamerelina (pelebur).
Sedangkan Ratri berarti malam, yang juga diartikan sebagai kegelapan. Jadi, Siwaratri bermakna sebagai malam pamerelina kegelapan untuk menuju jalan yang lebih terang.
Jadi, Siwaratri bukanlah hari penebusan dosa melainkan perenungan dosa yang selama ini diperbuat. Hukum Karmaphala tetap akan berlaku, akan tetapi dengan menjalankan Brata Siwaratri diharapkan kedepannya, seseorang akan mampu mengendalikan diri sehingga terhidar dari perbuatan dosa.
Dan, pada malam pemujaan Siwa inilah, umat memohon diberi tuntunan agar terhindar dari perbuatan dosa.
Namun, di era milenial ini membuat tidak sedikit umat yang tidak bisa melakukannya maksimal karena harus kerja dan kesibukan lainnya. Selain itu, kecapekan setelah beraktivitas, juga menjadi faktor lain. Kalau sudah seperti itu situasi dan kondisinya, apa yang bisa dilakukan saat Siwaratri? Dekan Fakultas Agama, Seni, dan Budaya UNHI Denpasar, Drs I Putu Sarjana, MSi, mengungkapkan bahwa memaknai Siwaratri harus total melaksanakan upawasa (puasa), jagra (begadang), monobratha (tidak bicara), dan sembahyang selama 36 jam perayaan Siwaratri. Bila hal itu bisa dilakukan dan mampu dilakukan, lanjutnya, tentu sangat baik. Namun, jangan ada keterpaksaan.
Menurutnya, jangan memaksakan diri untuk ikut dan melaksanakan Siwaratri penuh, apalagi ada kewajiban yang juga harus dituntaskan.
“Bekerja dengan profesional karena itu sesungguhnya juga melaksanakan Siwaratri dengan cara yang berbeda dari umumnya, namun maknanya tetap sama,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group ).
Dikatakan Putu Sarjana, sebagai manusia, dari lahir membawa bekal Catur Bekel Numadi yang terdiri atas suka, duka, lara, dan pati. Pria yang sudah dua tahun menjadi dekan ini, memaparkan bahwa umat di zaman modern ini hendaknya memahami Siwaratri secara sekala dan niskala.
“Mengartikan kisah Lubdaka tidak boleh secara dogmatis, namun realistis dengan zaman sekarang,” terangnya.
Secara sekala, lanjutnya, kisah Lubdaka dimaknai sebagai cerita perjuangan hidup manusia. Dimana Lubdaka dalam tujuannya memburu binatang ke hutan, ia membuat persiapan dan membawa peralatan untuk berburu.
Sama halnya dengan manusia sekarang, harus belajar dan bersekolah sebagai bekal di masa depan. Kemudian melakukan perburuan demi menyambung hidup keluarga. Hal ini bisa disamakan dengan orang zaman sekarang yang bekerja demi bisa menghidupi diri maupun keluarganya.
Selanjutnya ketika tidak mendapat buruan, Lubdaka naik dan melakukan jagra sambil memetik daun bila. “Konsep jagra alias begadang ini mengajarkan manusia sekarang agar selalu mawas diri dalam hidupnya. Kisah Lubdaka membuat kita mengartikan bahwa hidup perlu perencanaan dan usaha. Namun, tetap ingat harus disertai doa,” tutur Putu Sarjana.
Tentu saja semuanya tidak akan baik, lanjutnya, bila berdoa dan merenungi hidup atau introspeksi saat Siwaratri yang hanya setahun sekali. Apalagi di hari lainnya juga malas sembahyang.
Pria asal Buleleng ini tak menyangkal di masa sekarang, waktu digerus habis untuk bekerja, bersekolah, dan lainnya, membuat seseorang tidak bisa melaksanakan Siwaratri secara penuh.
"Dengan bekerja secara baik ketika Siwaratri pun sudah bagus," ujarnya.
Dicontohkannya pekerja hotel yang dapat shift malam. "Mereka harus begadang, tidak tidur semalaman. Itu pun sudah melaksanakan jagra. Mereka malah seperti Lubdaka, harus jagra, mawas diri. Sebab, ketika ada tamu meminta bantuan atau masalah lainnya, mereka harus segera sigap,” ungkapnya.
Disarankannya, jangan lupa disertai doa agar seimbang kebutuhan jasmani dan rohani bisa terpenuhi.
"Bisa ikut dan melaksanakan Siwaratri maupun tidak karena harus bekerja, syukuri. Laksanakan semuanya sepenuh hati,” tambah Putu Sarjana. Secara niskala, ketika melaksanakan Siwaratri, lanjutnya, agar spiritnya dijadikan momen untuk motivasi memperbaiki diri secara spiritual.
Dikatakannya, pikirkan kelahiran diri menjadi manusia saat ini begitu utama. Sudah mendapatkan pekerjaan dengan baik, sehingga hidup bahagia secara jasmani, maka selanjutnya berikan tujuan ke tujuan hidup sesungguhnya. "Tujuan hidup yakni moksa dan Tuhan telah memberi banyak pilihan untuk mencapai itu lewat Catur Marga," terangnya.
Mengenai cara melaksanakan Siwaratri, Putu Sarjana menjelaskan bahwa umat diberi pilihan tiga jenis tingkatan Bratha. Utama ada Jagra, Upawasa, dan Monobrataha. Kedua, ada madya dengan melaksanakan jagra dan upawasa, dan ketiga adalah nista, hanya dengan jagra. Pelaksanan Siwaratri mestinya 36 jam, sehingga umat harus memanajemen waktunya dengan baik. “Dimulai dari jam enam pagi sampai jam enam sore keesokan harinya. Makanya diberi pilihan sesuai kemampuan, jangan bohongi diri sendiri,” ungkap Putu Sarjana.
Diakuinya manusia tentu akan mengantuk jika melaksanakan jagra selama 24 jam, dan akhirnya tidak bisa melaksanakan secara total 36 jam jagra. Kondisi seperti itu menurutnya alamiah.
Putu Sarjana mengatakan tidak ada paksaan harus total 36 jam. Namun, harus tetap ingat ketika bangun, sembahyang lagi. Bahkan menjadikan sembahyang Tri Sandya sebagai kebutuhan, bukan kewajiban. “Jangan sampai sudah 24 jam jagra, karena ngantuk lantas tidur. Sorenya ketika bangun, lupa lagi sama sembahyang sore. Itu kurang baik,” ucapnya. Bila mengikuti tata cara melaksanakan Siwaratri, memang ketat.
Sebelum melaksanakan seluruh kegiatan, terlebih dulu melakukan persembahyangan. Kemudian melaksanakan Monabrata atau berdiam diri dan tak berbicara, dilaksanakan pagi hari dan dilakukan selama 12 jam tepatnya dari jam 06.00 – 18.00. Selanjutnya Majagra, yakni tidak tidur selama semalaman. Pelaksanaannya berlangsung dari pagi sampai pagi hari di keesokan harinya yang dilakukan selama 36 jam, dari jam 06.00 – 18.00 hingga keesokan harinya. Semuanya disertai Upawasa atau tidak makan dan tidak minum. Puasa dilakukan selama 24 jam dari jam 06.00 – 06.00. Apabila sudah 12 jam, maka diperbolehkan makan dan minum dengan syarat nasinya putih dengan garam dan minum air putih. Bila semuanya sudah berjalan sesuai kemampuan, diakhiri dengan sembahyang memohon kepada Sang Hyang Siwa supaya diberikan berkah dan ampunan, dan juga dikembalikan menjadi manusia yang suci dan paripurna, juga memohon ditunjukan jalan terang agar terhindar dari perbuatan dosa.
Berikut Puja Mantra Siwaratri yang dilakukan. Mantra Upa Saksi kepada Ciwa Raditya, mantranya : Om Aditya sya Paranjyotir, Rakte taja namostute, Sweta pangkaja madyaste, Bhaskara ya namo namah. Om Hrang Hring Sah Parama Siwa Ditya ya namo namah swaha. Kemudian Mantra Brahma : Om Isanosarwa widyana, Iswara sarwa bhutanam, Brahmadipati Brahman. Siwastu Sada Siwa ya, Om Am Brahma namah.
Selanjutnya Mantra Wisnu :
Om Giri Pati Maha Wiryam, Mahadewa pratista lingam,
Sarwa Dewa pranamyanam, Sarwa Jagat pratistanam. Kemudian Mantra Iswara :
Om Catur Dewi Maha Dewi, Catur asrama Bhatari, Siwa Jagatpati Dewi, Dhurga Masarira Dewi, Om Anugraha amrtta sarwa lara winasanam ya nama swaha.
Lanjut dengan Mantra Ghana : Om Ghana parama tanggoyam, Ghana tatwa para yanamah, Ghana dhiparama pnoti. Sukha Ghana ame stute.
Setelah itu Mantra Giripati : Om Am Am iripati wandi, Lokanatam jagatpati, Danesan Arana karanam, Sarwa Gunam mohodyatam, Om Maha Rudram Maha Sudham, Sarwa roga winasanam.
Terakhir Mantra Hyang Kumara : Om Namah Kumara ya sadhana ya, Siki dwaja ya pratimaya loka
Sad kartika nanda karya ya nityam, namastute tasme dwaja Puditam.
Disarankannya, misalnya tahun ini Siwaratri bisa 24 jam jagra, tahun depan evaluasi diri lagi untuk bisa ditingkatkan. "Apa yang telah dilakukan dievaluasi lagi untuk ditingkatkan lebih baik lagi," ujarnya.
Putu Sarjana berharap saat pelaksanaan Siwaratri, umat tidak bermain ponsel selama beberapa saat. Pemimpin Siwaratri, lanjutnya, bisa mengajak umat untuk melakukan itu, karena sangat penting belajar mengendalikan diri dan fokus pada perenungan.
"Untuk menghilangkan bosan, bisa dilakukan dengan acara dharma tula (tanya jawab tentang keagamaan). Kegiatan tersebut bagus dilaksanakan untuk menambah wawasan umat,” pungkasnya.