DENPASAR, BALI EXPRESS - Berawal hanya sebagai palinggih biasa, akhirnya bisa mendapat pengakuan status sebagai Pura Ratu Gede Anom. Kisah ini pun diceritakan turun temurun, tentang kebaikan beliau yang berstana. Bagaimana kisahnya?
Lokasi Pura Ratu Gede Anom tidak jauh dari Pura Luhur Batan Bingin, Banjar Kelakahan, Desa Buwit, kecamatan Kediri, Tabanan, Bali. Pura ini terletak di sisi jalan dengan tembok warna merah bata, yang membuatnya tampak berbeda dari pagar di area jalan tersebut. Ada dua pemangku di Pura Ratu Gede Anom, dan uniknya dua duanya adalah wanita. Jro Mangku Ni Nyoman Surati, 62, selaku pemangku senior, dan Jro Mangku Ni Made Sunitri, 52, yang 'baru' menjadi pemangku sejak 10 tahun lalu.
Keduanya menjadi pemangku setelah mendapat petunjuk, bahwa mereka berdua dipilih secara niskala oleh Ida Ratu Gede Anom untuk ngayah. “Iya kami dipilih oleh Ida, jadi kami terima untuk ngayah di pura ini,” ujar Jro Mangku Ni Nyoman Surati didampingi Jro Mangku Ni Made Sunitri kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin.
Keduanya kemudian mengajak duduk di sebelah barat pura. Posisi pura rupanya sedikit berbeda dengan pura pada umumnya. Hanya dibatasi sebuah selokan kecil dan posisi pura lebih tinggi dari halaman rumah. Pura ini berlokasi tepat di pekarangan miliki Mangku Ni Made Sunitri, dan sejak awal memang ada di pekarangan rumah keluarganya. “Dari leluhur memang sudah ada di pekarangan rumah. Dahulu palinggihnya ada di jaba Pura Luhur Batan Bingin,” ujar Jro Mangku Ni Nyoman Surati.
Konon pada zaman dahulu, leluhur kedua pemangku tersebut mempunyai ilmu kebathinan. Leluhurnya konon mendapatkan perintah dari Ida Ratu Gede Anom dan meminta untuk berstana di dekat leluhur itu, sebab tidak mau malinggih di Pura Luhur Batan Bingin lagi.
Leluhur Jro Mangku Ni Made Sunitri itu pun kemudian berkenan, namun mengatakan tidak punya tanah luas, jadi palinggih akan dibangun dekat rumah tempat tinggalnya.
Jro Mangku Ni Made Sunitri menjelaskan, dari kisah itu akhirnya Ida Ratu Gede Anom distanakan di sebuah palinggih dekat rumah leluhurnya. Kala itu status disandang hanya sebagai palinggih biasa, bukan sebuah pura. Pangemponnya pun hanya satu kepala keluarga, yakni leluhurnya saja. Pengakuan hingga menjadi sebuah pura pun, ternyata ada kisah uniknya, yang hingga kini tetap dikenang Jro Mangku Ni Nyoman Surati dan Jro Mangku Ni Made Sunitri serta keluarganya.
Cerita bermula, konon leluhur keduanya sudah menetap di Buwit dan Palinggi Ratu Gede Anom pun berdiri di dekat tempat tinggalnya. Tiba-tiba saja ada wabah atau grubug, banyak warga sakit kemudian meninggal beberapa hari kemudiannya. Hal ini terjadi silih berganti tanpa ada yang bisa menghentikan wabah itu. “Panglingsir saya waktu itu yang ngiring di Pura Dalem Desa Buwit mendapat petunjuk, bahwa dengan bantuan Ida Ratu Gede Anom masalah grubug (wabah) bisa ditanggulangi. Entah bagaimana caranya kala itu, akhirnya leluhur saya mampu menanggulagi dengan bantuan Ida Ratu Gede Anom. Grubug hilang dan desa jadi aman,” ujar Jro Mangku Ni Nyoman Surati kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
“Dari hasil kejadian itu, warga tahu jasa besar dari Ida yang berstana di sini. Maka warga desa pun sejak itu menganggap palinggih ini berstatus pura, walaupun hanya ada satu palinggih saja,” timpal Jro Mangku Ni Made Sunitri.
Semenjak petistiwa itu banyak leluhur keduanya turun temurun menjadi seorang ahli usadha dan pemangku. Banyak yang datang berobat dan berjanji untuk datang bersembahyang. Hingga kini banyak pamedek yang tetap tangkil dari beberapa wilayah di Tabanan, seperti dari Bantas hingga Penebel. Keduanya pun tidak tahu alasan dan semenjak kapan mereka yang datang jauh itu, tangkil ke pura untuk sembahyang setiap piodalan pada Purnama Sasih Kapat.
Dalam pemilihan ahli usadha dalam generasi keluarga, diakui Jro Mangku Ni Nyoman Surati, senuanya harus ada dari petunjuk Beliau. Begitupun dengan pemangku yang akan ngayah di pura ini. Keduanya ternyata menjadi pemangku karena sempat sakit. Setelah dicari petunjuk secara niskala, ternyata Ida meminta untuk keduanya ngayah sebagai pemangku. “Sudah dipilih atau dicap, jadi kita laksanakan tugas dari Beliau itu,” terang Jro Mangku Ni Nyoman Surati yang menjadi pemangku sejak tahun 1990-an.
“Kini di generasi saya belum ada dapat jadi ahli usadha, kemungkinan di generasi selanjutnya. Entah bagaimana sistemnya, memang kalau ahli usadha mewarisi dari nenek atau kakek ke cucunya,” tambah perempuan yang kini kesehariannya sibuk mengurusi cucunya di rumah.
Disinggung soal menyatunya area pura, keduanya ternyata sempat membuat kejadian tidak mengenakkan dan ada kesakitan yang dialami keluarganya. Jawaban dari Ida Ratu Gede Anom rupanya sesuai dugaan mereka, karena tercampurnya area pura dengan rumah tanpa sekat. “Kami lahan sedikit ya, jadi buat rumahnya jadi mepet ke sini. Dahulu pun tak ada tembok, setelah dapat mapinunas (mohon petunjuk ) akhirnya kita buat tembok,” ungkap Jro Mangku Ni Nyoman Surati.
Keunikan lainnya, setiap piodalan digelar acara masolah dengan latar cerita Cupak Grantang. Itu dilakukan sejak dahulu karena Ida Ratu Gede Anom ingin melihat umat di Desa Buwit dalam keadaan baik.
Tidak hanya acara masolah. Setiap sasih kaenem, tepatnya ketika Tilem akan diadakan malancaran (keliling) Ida Ratu Gede Anom dengan mengambil rute sampai perempatan desa dekat Kantor Perbekel.
"Dalam setiap penyelenggaraan ini Ida akan melihat umat. Pemaknaan upacara ini ingin menunjukkan bahwa Ida Ratu Gede Anom mengayomi umat di Desa Buwit dan melindungi dari hal negatif," kata Jro Mangku Ni Nyoman Surati.
Ketika malancaran berlangsung, umat di Desa Buwit menghaturkan prani dan Segehan Agung di Sanggah Lebuh masing-masing. Umat pun dengan semangat menunggu kedatangan Ida malancaran yang umumnya dilakukan pada sore hari. Sasih kaenem dipilih karena dikenal sebagai sasih awal pancaroba yang membuat cuaca tidak menentu. Diharapkan dengan Ida malancaran, lanjutnya, tidak ada hal negatif dari efek pancaroba itu.