MENGWI, BALI EXPRESS - Gambelan Saron yang unik dan beda dengan gambelan pada umumnya ini, ada di Jawa dan Bali. Khusus untuk di Bali ditemukan di Desa Tumbak Bayuh. Lantas, apa bedanya Gambelan Saron dibandingkan gambelan lainnya?
Desa Tumbak Bayuh, Mengwi, Badung menyimpan salah satu alat musik tradisional yang dinamai gambelan Saron. Gambelan tua ini menggunakan laras pelog berupa tujuh tangga nada, dibuat dari logam perunggu dengan wadah seperti kotak yang berfungsi sebagai resonatornya (peredam suara).
Pemilik gambelan Saron, I Ketut Suendra, 54, mengatakan, tidak mengatahui secara pasti muasal gamelan Saron yang kini jadi warisan dari keluarga pendahulunya. Bahkan, saat kakeknya ditanya dahulu oleh ayahnya, juga tidak dapat memastikan sejarah gamelan Saron hingga berada di keluarganya. “Gambelan Saron ini sudah lama sekali ya, sudah turun temurun,” terang pria yang akrab dipanggil Pak Sukma ini kepada Bali Express ( Jawa Pos Group ) akhir pekan kemarin.
Dijelaskannya, satu set gambelan Saron ada satu buah Saron dibagi jadi dua alat, yakni berupa alat musik dari bambu dan dua buah gangsa jongkok. "Gambelan Saron identik digunakan untuk upacara Dewa Yadnya. Satu set isi empat alat ini dipakai kalau upacara Dewa Yadnya untuk di merajan. Kalau di pura besar pakai tiga set sekaligus,” ungkapnya.
Selain itu, lanjutnya, gambelan Saron bisa juga untuk upacara Mamukur, karena sudah mau dilinggihkan pitaranya.
Pria yang belajar magambel Saron ketika usia 27 tahun ini, mengatakan gambelan Saron yang dimiliki hingga kini belum pernah diganti, kecuali bambunya dibuat baru karena sudah tua. Bambu yang digunakan untuk gambelan Saron ini pun dari jenis khusus, yakni bambu petung yang sudah tua.
Sebagai pemain sekaligus pengrajin gambelan, Pak Sukma mengaku untuk membuat satu set gambelan Saron membutuhkan waktu sampai dua bulanan. “Kalau gangsa jongkok ini pakai perunggu dan lebih tebal dari gambelan biasanya,” ucapnya.
Teknik memainkan gambelan Saron ini bisa dijelaskan dari gambelan yang mempunyai tujuh laras pelog. Ketika memainkannya, tangan tidak perlu memegang plat perunggu gambelan untuk meredam suaranya, seperti gambelan pada umumnya.
Pak Sukma menjelaskan, dengan tujuh nada, maka suara yang dihasilkan gangsa jongkok di gambelan Saron menjadi berbeda. “Biasanya kan bunyi nada gambelan itu dong, deng, dung, dang, ding, nah kalau di gambelan Saron bunyinya ding, dong, deng, deung, dung, dang, daeng,” ujar Pak Sukma sambil memainkan gangsa jongkoknya.
Tanduk kerbau dijadikan panggul (pemukul) pada gangsa jongkok gambelan Saron. "Bila pakai kayu pemukulnya tidak akan bunyi. Kalau untuk Saron dari bambunya pakai kayu lenggung dan diisi karet di ujungnya agar tidak mudah pecah,” beber pria yang sering pentas bersama Sekaa Gambang lan Saron Mekar Sari ini.
Dikatakannya, cara memainkannya ketika upacara Dewa Yadnya, penabuh yang memainkan Saron akan memimpin pertama memandu. “Nanti ada paginem atau pembukaan Dewa Yadnya, kemudian ada pangawak dan kawitan yang terakhir,” terang Pak Sukma.
Dalam upacara Dewa Yadnya, lanjutnya, gambelan Saron ini menggunakan gending yang diatur berurutan dari awal upacara sampai akhir. Adapun urutannya mulai dari Pangundang, Tunjung Manis, Asep Menyan, Lempuyang Gunung, Meramasa, Intar Intaran, Bremara, Panyaag, dan terakhir Panyineb. “Memainkan gambelannya pun lambat, dan untuk gambelan Saron bisa menggunakan dua tangan sekaligus memainkannya. Berbeda sekali dengan gambelan yang biasa kita kenal,” ujarnya.
Ketika ditanya saat awal mempelajari, dia mengaku hanya membutuhkan waktu seminggu saja. Kini anak-anaknya pun mulai mempelajari, agar ada regenerasi pemain gambelan Saron tetap ada. Bersama
Sekaa Gambang Lan Saron Mekar Sari, ia bersama keluarganya kerap pentas.
"Sebelum memainkan gambelan Saron selalu berdoa meminta restu pada Jero Gede Taksu Saron. Kalau latihan saya siapkan satu set gambelan lain, sehingga gambelan Saron yang saya warisi dari leluhur hanya digunakan untuk upacara Dewa Yadnya saja,” pungkasnya.