Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Memahami dan Menentukan Posisi Pelangkiran Dapur bagi Umat Hindu di Bali

I Putu Suyatra • Kamis, 5 Maret 2020 | 20:19 WIB
Memahami dan Menentukan Posisi Pelangkiran Dapur
Memahami dan Menentukan Posisi Pelangkiran Dapur

 

DENPASAR, BALI EXPRESS - Berdasarkan konsep Hindu Bali, dapur adalah tempat pengolahan semua bahan makanan, baik untuk kepentingan manusia maupun upakara atau upacara.

Namun, di sisi lain, posisi Pelangkiran sangat penting diperhatikan.

Dapur bagi umat Hindu di Bali harus dibangun di wilayah hilir alias teben, sesuai dengan konsep pembagian wilayah pekarangan, yakni teben, madya, utama.

Bila salah menempatkan, apalagi diisi bangunan tambahan, bisa memberi efek negatif terhadap penghuninya.

Membangun dapur tidak bisa sembarang karena sudah ada ketentuan khusus yang mengatur.

Makanya, membangun berkaitan denga dapur harus dipertimbangkan soal efek sekala dan niskala yang ditimbulkan, termasuk soal posisi Pelangkiran yang dipasang.

Menurut kajian Pasraman Sastra Kencana yang berpusat di Banjar Tegak Gede, Yeh Embang, Jembrana ini, dalam proses pengolahan di dapur  diperlukan tiga unsur, yaitu api, air, dan angin.

Dikatakan pendiri yang juga pinisepuh Pasraman Sastra Kencana, Guru Nabe Jro Budiarsa,  ketiganya merupakan unsur Tri Amerta, panugerahan Sanghyang Tiga yang ada di Kemulan.
Unsur api dan air adalah unsur yang bersebrangan dan berlawanan yang tak dapat dipertemukan. 

"Kedua energi api dan air ini hanya bisa dikendalikan oleh kekuatan Siwa, karena hanya  kekuatan Siwa yang mampu menetralisasi semua sifat-sifat energi alam," paparnya beberapa waktu lalu di Jembrana.

Ditekankan pria yang juga penuntun aliran kepercayaan Wahyu Siwa Mukti ini,
segala perbuatan yang dilakukan di dapur haruslah bersinergi dengan kekuatan Siwa agar manusia bisa melakukan semua aktivitas dengan baik dan aman.

Dari paparan tersebut, lanjutnya, dapat dipetik tatwa filsafat dan filosofi sastra, yaitu Siwa dan kata Perbuatan.

"Dari kedua kata, 'Siwa dan Perbuatan' ini dapat disimpulkan bahwa yang berstana di Pelangkiran dapur adalah Sang Hyang Siwa Karma. Karma dalam hal ini berarti perbuatan. Maka, apapun perbuatan manusia di dapur yang menggunakan tiga unsur Tri Amerta ( api, air, dan angin) harus seizin dan restu dari Dewa Siwa," urainya.

Dijelaskan Nabe Jro Budiarsa,  dari ketiga unsur tersebut, secara filosofi memberikan warna, api warnanya merah adalah perwujudan Dewa Brahma.

Kemudian air warna hitam adalah perwujudan Dewa Wisnu, dan angin warna putih sebagai  perwujudan Dewa Iswara atau Siwa

"Maka secara otomatis membuat Pelangkiran dapur karena berstana Dewa Siwa Karma, harus menghadap ke barat, karena timur adalah putih, selatan adalah merah, dan utara adalah hitam. Jadi,tidak perlu lagi mempersembahkan sesuatu di air, kompor, beras, nasi dan lain sebagainya di dapur, karena cukup satu yang berkuasa atas segala pekerjaan di dapur," bebernya.

Dikatakannya, pada tingkat yang paling sederhana dapat dihaturkan Punjung Rayunan atau bisa juga persembahan yang berisi kopi, air, canang serta Yadnya Sesa menjadi satu tempat nampan.

Pada tingkat yang lebih tinggi, lanjutnya,  dapat menghaturkan Pras Pajati, Ketipat Nasi atau Ketipat Sari, sebagai simbol sarining amerta boga.

Fungsi dan manfaatnya sebagai tempat memohon amerta atau sumber-sumber kehidupan yang dibutuhkan oleh jasmani, panugerahan Sanghyang Tri Amerta.

Tempat memohon penetralisasi dari unsur 'pakan kinum' agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan pada makanan yang dinikmati, dengan harapan segala yang dimakan dan minum memberikan kenikmatan dan kesehatan jasmani dan rohani. (*) 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #dapur #hindu #pelangkiran