DENPASAR, BALI EXPRESS - Akibat egoistis sektoral dan kepentingan tertentu, menyebabkan banyak penyimpangan ritual dilakukan. Di lain sisi, tidak memahami akibat dan dampak yang ditimbulkan dari ritual yang kurang tepat.
Ritual yang kurang tepat, diakui Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana, Guru Nabe Jro Budiarsa, justru akan mengacaukan lagi energi alam.
Mengubah astral negatif menjadi astral positif, jika terjadi kesalahan, masalah besar bisa terjadi justru lantaran ulah manusia sendiri.
Di awal upacara memiliki niat baik demi kerahayuan jagat, namun akhirnya malah mengacaukan energi, sehingga mengubah suasana alam menjadi negatif.
Dikatakannya, berdasarkan tatwa Dasa Aksara dan Kanda Empat serta tetenger sapi putih di Bali Barat, cukup memberi sinyal bahwa virus Corona ini akan bisa terjadi di Bali akibat sikap orang Bali yang sangat amat terbuka dengan orang luar dan tak jarang antipati malah dangan semeton sendiri.
"Itulah hukuman alam yang mungkin saja bisa terjadi, dan karena itulah kita harus insyaf agar kesalahan bisa dikurangi, dan semoga hukuman alam tidak terjadi," papar Guru Nabe Jro Budiarsa kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) di Yeh Embang, Tegak Gde, Jembrana, pekan kemarin.
Sifat sangat 'welcome' terhadap kemauan dan aksi budaya luar, lanjutnya, akhirnya muncul berbagai budaya yang membingungkan umat Hindu Bali, sehingga tidak kenal lagi jati dirinya. "Ritual untuk kendali energi lima unsur dan persembahan terhadap Nyama Pat dalam wujud Panca Detya, Panca Dhurga, dan Sapta Dhurga untuk keseimbangan Bhuana Agung maupun Bhuana Alit semakin tidak dikenal," ujarnya.
Akibat sangat terbuka dengan tamu asing demi dapat keuntungan finansial 'receh', lanjutnya, akhirnya tak peduli apapun yang terjadi dan dilakukan di Bali. "Pelanggaran semakin marak dan menjadi terbiasa, bahkan banyak dibuatkan kesan seakan-akan tidak masalah, namun ketika umat sendiri yang salah, maka 'vonis' besar bisa dilakukan," kritiknya.
Dikatakannya, langkah langkah menuju kekacauan Bali cukup nampak, sehingga munculnya mala atau karegedan (kotor) di mana mana. "Konsep Sanghyang Taya dan konsep Sanghyang Licin hampir tidak ada lagi dan tidak dipahami, sehingga tak mampu melepas segala cobaan dan godaan kehidupan umat Hindu Bali karena tidak dipahami oleh umat sendiri, akibat 'keracunan' karena pengaruh asing yang deras," paparnya.
Ditambahkannya, kini Bali kurang memiliki proteksi akan ke-Balian-nya karena nama 'Balian' hilang lenyap. Bahkan, disamakan dengan istilah dukun yang primitif lokalistik, padahal 'Balian' adalah orang yang paham dan mengerti tentang Bali. 'Balian' sesungguhnya bukan dukun, karena dukun adalah pengusada. Namun, 'Balian' kini dikategorikan ilmu dukun dan perdukunan, sehingga tak ada lagi yang menguasai konsep Bali sesungguhnya. Konsep Bali hilang oleh modernisasi zaman. Karena kekacauan energi di Bali, lanjutnya, maka Bali pun berpotensi terjadi virus Corona.
Dikatakannya, tanda sapi putih muncul (lahir) di Bali Barat sebagai ciri dan tanda alam.
Jika dihubungkan dengan filosofi Bali Barat atau sapi putih di Bali Barat itu, lanjutnya, sama dengan istilah Sapuh Jagat Larantaka akan banyak terjadi di dunia Barat atau Negara-negara Barat. Namun demikian, akan tetap masuk pula ke Asia, bahkan ke Bali, meski dalam skala kecil.
"Walaupun kecil dampak serangan virus Corona ini, namun sangat besar dampak pada perekonomian bangsa dan negara, khususnya bagi Bali. Dan, dampak inilah yang akan menjadi penderitaan panjang bagi umat di dunia, khususnya di Bali," terangnya.
Guru Nabe Jro Budiarsa memohon agar jangan 'mengancam-ngancam' dengan berbagai bentuk upacara mengatasnamakan dapat pawus atau pawisik (bisikan gaib niskala), kalau kurang jelas sumbernya dan tidak jelas prosesnya, agar tak menyesatkan dan membingungkan umat, apalagi ada nada mengancam segala.
"Lakukan jika yakin dan jangan lakukan jika tidak yakin. Apabila tidak yakin, cobalah lakukan yang terbaik dari salah satu konsep ritual soal keseimbangan energi. Bali memiliki Bala Bela Bali Niskala yang terdiri dari Butha, Bhatara, dan Dewa. Mari manfaat kan itu agar alam Bali bisa selaras dengan kehidupan kita," paparnya.
Dikatakannya, upacara Laba Wira Kusama Nawa Bela, caru berumbun diolah menjadi 33, telah diterapkan untuk antisipasi. Bahkan telah digelar dalam ritual upacara Cakra Nawa Murti, 29 juli 2019.
"Silakan lakukan bagi yang meyakininya dan paham caranya, karena begitu banyak kekuatan yang harus dikenali dan diolah pada saat mengubah energi negatif menjadi energi positif," pungkasnya. (habis)