DENPASAR, BALI EXPRESS - Wabah Korona (Covid 19) tak pelak membuat ekonomi warga makin terpuruk. Namun, dari sisi kehidupan beragama, banyak yang bisa dipetik umat Hindu dari kasus ini.
Pandemi virus Korona memberi dampak signifikan,bahkan mengubah segala sendi kehidupan. Hal itu dibuktikan khususnya bagi masyarakat beragama Hindu. Pelaksanaan upacara yang biasanya besar dan mengeluarkan dana lumayan banyak, saat wabah Korona masih bisa berjalan normal, jauh lebih irit dan simpel karena menyesuaikan dengan situasi dan mondisi.
Wabah virus Korona ini seakan membuat umat introspeksi diri, khususnya di Bali. Kenapa demikian? Sebelumnya, banyak pandangan bahwa beragama Hindu di Bali sangatlah berat. Setiap prosesi upacara mengeluarkan uang yang cukup banyak.
"Sesungguhnya beragama Hindu sangatlah simple dan fleksibel. Sedangkan prosesi upacara besar atau kecil itu, tergantung niat dan kemampuan masing-masing orang yang melakukan upacara," papar Wakil Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Pinandita Drs I Ketut Pasek Swastika kepada Bali Express ( Jawa Pos Group ) akhir pekan kemarin.
Dikatakannya, Hindu menyesuaikan dengan adat dan budaya, dimana Hindu itu berada dan berkembang. Hanya saja, umat yang terkadang belum paham akan hal tersebut. "Ketidakpahaman pelaksanaan dalam berupakara karena belum matangnya niat, kemampuan, tempat, waktu, jenis, dan dasar sastranya masing – masing umat," terang
Pinandita Drs I Ketut Pasek Swastika.
Orang yang belum paham bergama Hindu tersebut, lanjutnya, terlalu cepat mengambil kesimpulan jika bergama Hindu dipersulit dan banyak biaya. "Padahal, yang mempersulit itu adalah diri kita sendiri, bukan mengkambing -hitamkan agama. Karena kita ber-Yadnya berdasar atas kemauan, bukan atas kemampuan," terangnya.
Diakuinya, tudingan sulit beragama Hindu itu, karena disebabkan belum memahami pelaksanaan berupakara itu berdasarkan atas konsep yang ada. "Konsepnya Iksa-sakti-desa-kala-patra-tattwa. Yakni berdasar atas niat, kemampuan, tempat, waktu, wujud, jenis, tingkatan, dan dasar sastranya,” papar pria asli Jembrana tersebut.
Kini saat pandemik virus Korona, seakan umat Hindu di Bali melaksanakan upakara sangatlah ringan, tidak ruwet, dan lebih irit tinimbang sebelum ada Korona. Banyak umat Hindu menggelar upacara pernikahan, piodalan di beberapa pura, yang biasanya menghabiskan dana yang tidak sedikit, kini dipangkas tanpa menghilangkan tujuan dan makna upacara itu sendiri.
Pasek Swastika mengatakan, proses upacara selama wabah Korona ini, bukanlah penyederhanaan melaksanakan upacara, karena rasa bhakti kehadapan Tuhan Yang Maha Esa itu tidak akan hilang, hanya saja adanya pembatasan yang dilakukan dalam prosesi upacara tersebut. Artinya, karena situasi dan kondisi, umat Hindu bisa dan mampu, serta mau memilih tingkatan upakara dan pelaksanaannya.
“Karena adanya pembatasan dan keterbatasan itulah, akhirnya umat ambil sikap dalam beryadnya. Daripada tidak melaksanakan, lebih baik ambil yang simple, namun tidak lepas dari tujuan dan makna pelaksanaan uapacara itu," urainya.
Dicontohkannya, karena adanya pembatasan ruang dan waktu, serta pelaksana plus ada kepercayaan tidak berani ngencak piodalan (meniadakan), maka dipilihlah prosesinya tingkatan yang alit atau lebih kecil dari biasanya.
“Dalam Hindu tidak ada istilah penyederhanaan dalam upakara. Yang ada hanyalah pilihan, yaitu Alit, Madya, dan Uttama," paparnya.
Dalam prakteknya, umat bisa memilih sesuai dengan kemampuan, bukan dengan kemauannya. Terlebih lagi ada intervensi dan terintervensi. "Semua sebenarnya kembali kepada kemampuan yang beryadnya itu sendiri. Memilih itu sudah pasti lihat situasi dan kondisi,” tegasnya.
Adanya wabah Korona, lanjutnya, adalah pembelajaran yang seharusnya diambil oleh umat Hindu .
Ia mengatakan, seharusnya umat manusia untuk mulat sarira atau introspeksi diri. Mengingat dalam hidup ini, baik sekala dan niskala dalam beragama, serta memperlakukan alam dengan isinya. “Kita diwajibkan untuk mulat sarira atau introspeksi diri. Sesuai dengan 'Tri Semaya Atita Wartamana Nagata'. Kemarin adalah kenangan dan sudah sejauh mana kita dalam hidup ini, baik skala dan niskala dalam beragama serta memperlakukan alam dengan isinya. Sekarang kita berpikir dan mengenang semua yang telah kita perbuat, dan besok adalah harapan serta bagaimana kita dalam hidup ini, terutama dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa, bernegara,” tuturnya.
Pasek Swastika mengatakan, yang baik dipertahankan, bahkan ditingkatkan, terutama terkait Sradha Bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Kawitan ke atas. "Ke samping kita wajib lebih pererat rasa kebersamaan dan kekeluargaan, dan ke bawah memperlakukan alam. Semuanya itu dalam wujud Panca Yadnya,” imbuhnya.
Pilihan prosesi upacara secara Alit, Madya, dan Uttama itu, telah tertuang dalam Lontar Sarwa Bebantenan. “Banten pinake Awak ta twi. Maksudnya, upakara itu tak ubahnya sebagaimana wujud dirimu bermakna sesuai dengan kemampuan," paparnya.
Selanjutnya ada disebutkan sebagai berikut : “Sesantun pinake Sirah ta, Tulung pinake Kolongan ta, Pras pinaka Bahu Kiwa, Pengambean pinake Bahu Tengen, Sesayut pinake Atin ta, Ayaban pinake Weteng ta, Lelabaan pinake Sukun ta”. Lanjut ada disebutkan bahwa 'Banten pinake Ande Buana'. Maksudnya, banten itu merupakan keberadaan alam ini. 'Banten pinake Warna Rupaning Dewa'. Maksudnya, banten adalah sebagaimana wujudnya Dewa.
“Ada juga tertuang di Lonrar lainnya, semisal Dharma Kahuripan, Eka Pertama dan juga dalam Bhagawadgita. Sekali lagi tidak ada istilah penyederhanaan di dalam proses ber-upakara. Yang ada hanyalah pilihan dari tiga tingkatan tersebut dan di dalamnya juga ada tiga lagi, sehingga menjadi sembilan pilihan,” paparnya.
Pilihan dalam upacara itu yang dimaksudkan adalah Nista atau Alit, Madya, dan Uttama. "Dalam tingkatan Nista, ada Nista Ning Nista, Nista Ning Madya, dan Nista Ning Uttama. Begitu juga berlaku di Madya dan Uttama. Sehingga dalam beragama Hindu ketika melakukan upacara tergantung kemampuan seseorang yang akan beryadnya," tutupnya.