DENPASAR, BALI EXPRESS - Konsep Hindu Bali menekankan pentingnya Pelangkiran di atas tempat tidur untuk memuja Tuhan dalam bentuk Dewa-Dewi, Bhatara-Bhatari yang mengendalikan hidup siang malam, dan leluhur yang Phunarbawa atau numitis (terlahir) kembali.
Setiap manusia memiliki jiwa dan roh yang memberikan hidup, menjaga hidup, dan mengendalikan hidup, sesuai dengan ajaran Hindu Bali.
Oleh karena itu, Pasraman Sastra Kencana sangat mendukung keberadaan Pelangkiran untuk menghormati sang pengendali hidup.
Dalam konteks ini, Atma, sebagai percikan suci Tuhan, dianggap sebagai sumber kehidupan dan pemeliharaan kehidupan.
Roh yang menjelma atau numitis dalam diri adalah sang pengendali hidup.
"Roh ini merupakan penguasa atas pengendali hidup kita dan merupakan bagian dari sinar Tuhan. Oleh karena itu, roh ini disebut sebagai Raja Dewata dan Raja Dewati," kata Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana, Jro Nabe Budiarsa.
Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana menjelaskan konsep menghadap ke Barat dalam Pelangkiran.
Ia menyebutkan bahwa umat Hindu Bali memuja Dewa yang berasal dari kata 'Div', yang berarti sinar.
Sinar ini menerangi jiwa dan raga, menciptakan Bhuana Agung dan Bhuana Alit, dan melambangkan kesucian.
"Kesucian identik dengan warna putih. Warna putih identik dengan keheningan dan kemurnian. Keheningan berarti kosong atau sunia,” katanya.
“Kosong sama dengan angin, dan unsur angin adalah Timur. Oleh karena itu, semua unsur Dewa atau 'Div' bersumber dari Timur,” tambahnya.
“Dengan membuat Pelangkiran menghadap ke Barat, kita secara otomatis menghadap ke Timur saat bersembahyang. Ini adalah cara untuk memuja Dewa-Dewi yang ada dalam diri kita, yang menerangi jiwa raga, mengendalikan hidup kita," jelasnya.
Lebih lanjut, Pelangkiran di atas tempat tidur dianggap sebagai tempat untuk memuja Raja Dewata dan Raja Dewati, serta penjaga jiwa, yakni Sanghyang Kemit Tuwuh, Sanghyang Semara Ratih, dan Hyang Raja Dewata Dewati.
Menurut Jro Nabe Budiarsa, Sanghyang Kemit Tuwuh berlaku bagi individu yang belum menikah atau sudah lanjut usia, termasuk janda atau duda.
Sementara Sanghyang Semara Ratih dan Hyang Raja Dewata Dewati berlaku bagi pasangan suami istri yang sah.
"Ini adalah perbedaan antara dua tahap kehidupan manusia, antara yang belum menikah dan yang sudah menikah, yang didasarkan pada prinsip tatwa, filsafat, dan sastra," tambahnya.
Jro Nabe Budiarsa juga menambahkan bahwa upakara yang dilakukan di Pelangkiran di atas tempat tidur melibatkan Punjung Rayunan atau Soda Rayunan, atau upakara lainnya sesuai dengan situasi dan kemampuan individu.
Secara keseluruhan, Pelangkiran dan ritualnya memiliki fungsi dan manfaat sebagai ungkapan rasa syukur manusia yang diberi hidup oleh Sang Atma dan pengendali hidup, serta sebagai tempat memohon pamatuh, pangasih, pangiket pangrumaket untuk menjalani kehidupan yang rukun dan damai bersama keluarga, baik saat siang maupun malam, saat tertidur maupun terjaga.
Editor : I Putu Suyatra