DENPASAR, BALI EXPRESS - Otonan atau perayaan hari lahir bagi masyarakat Hindu Bali, merupakan hari sangat sakral dan diupacarai dengan banten khusus. Namun, ada kalanya, Otonan itu jatuhnya bertepatan dengan hari Purnama dalam kalender Bali, dan biasanya wajib dilukat.
Ada makna khusus dibalik panglukatan untuk orang yang Otonannya bertepatan dengan hari Purnama. "Hari purnama itu hari yang bagus. Tapi wajib dilukat dengan menggunakan sarana tambahan. Dilukat disini bertujuan untuk yang positif. Contoh bantennya itu ada pageh tuwu dan banten pengenteg bayu. Banten tersebut wajib ada, saat seseorang otonannya bertepatan dengan hari purnama," ujar Ida Peranda Gede Ngurah Bun Keniten dari Griya Tegeh Kawan, Batuan, Gianyar kepada Bali Express (Jawa Pos Group), kemarin.
Kemudian sarana tambahannya juga disebutkan, seperti lis isa-isa jangkep, bungkak nyuh gading dan prastita dumenggala. "Nanti pada saat ngantebang banten, dewan Oton dari anak bersangkutan disebutkan. Tujuannya supaya anak tersebut sehat lahir batin, berumur panjang, tingkah laku baik dan sebagainya yang bersifat positif," ujarnya.
Disebutkan ratu peranda bahwa memang di sebagain desa di Bali, banten Otonan di Purnama tersebut berbeda-beda dengan kreasi sendiri. Hal itu tergantung dari Desa Kala Patra masing-masing. Namun, makna dan tujuannya tetap sama.
Nah, salah satu serati (tukang banten) di Desa Samsam, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Desak Made Rai Artini menyebutkan, jika banten Otonan di hari Purnama di desa setempat, terdiri dari tiga jenis, yakni banten suci, ayaban tumpeng pitu, dan panglukatan.
Kemudian, dari tiga jenis itu terdapat juga bagian-bagian di dalamnya. Sepeti banten suci terdiri dari daksina, panyeneng, pras, rakan suci limang tamas yang ditumpuk, duma, lampad, segehan serta lis. Lalu di ayaban tumpeng pitu terdiri dari jerimpen, pangambean, pras gede, dan sasayut. Serta banten pangklukatan isinya sayut pangklukatan pabersihan, dwi warna, toya warna serta kembang mawarna.
Prosesi Otonan di hari biasa dengan hari Purnama juga diakui berbeda. Biasanya upacara hanya berkisar 15-20 menit, jika di hari Purnama bisa memakan waktu kurang lebih satu jam. "Setiap warga Hindu Bali, pasti Otonannya itu bertepatan dengan hari Purnama selama hidupnya. Entah itu pada saat umur berapa," beber Desak Made Rai.
Pembuatan banten diakui Desak Made Rai rata-rata menghabiskan waktu selama tiga hari. Itupun jika dikerjakan oleh beberapa orang. Dia sendiri kebanyakan bantennya sudah jadi, dan tinggal ditetapkan saja bagian-bagiannya. "Hari Kamis lalu, kebetulan adik sepupu saya otonannya di Purnama. Dia sudah pesan seminggu sebelumnya. Kalau sendiri mengerjakan, bisa lima sampai enam hari, karena bantennya lumayan banyak," tandasnya.
Editor : I Putu Suyatra