Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Poligami dalam Pandangan Hindu (1); Lebih pada Jasmani, Bukan Rohani

I Putu Suyatra • Jumat, 15 Mei 2020 | 03:32 WIB
Poligami dalam Pandangan Hindu (1); Lebih pada Jasmani, Bukan Rohani
Poligami dalam Pandangan Hindu (1); Lebih pada Jasmani, Bukan Rohani


DENPASAR, BALI EXPRESS - Sebagian besar wanita tak akan rela, ketika suaminya ingin menikah lagi? Beristri lebih dari satu atau  Poligami akan menyakiti hati istri, sehingga dianggap melakukan dosa. Lantas, bagaimana Hindu memandang Poligami?  



Poligami berasal dari Bahasa Yunani, yakni 'poly'  berarti banyak, dan  'gamos' berarti perkawinan. Jadi, Poligami berarti melakukan banyak perkawinan.



Secara umum,  Poligami masih banyak dilakukan di berbagai belahan dunia. Namun, bagi Hindu, Poligami bukanlah keputusan yang bagus. Dalam Manawa Dharmasastra buku ketiga (Tritiyodhayayah) pasal 5, disebutkan : Asapinda ca ya matura, sagotra ca yapituh, sa prasasta dwijatinam, dara karmani maithune. Pasal itu memiliki arti, perkawinan yang dianjurkan adalah antara satu gadis dengan satu lelaki, dimana keduanya tidak memilik hubungan darah yang dekat. Adapun pria yang memenuhi syarat itu adalah sudah menamatkan sekolahnya dan memiliki pekerjaan, sehingga sudah bisa hidup mandiri.
Menurut  Ida Pandita Mpu Daksa Acharya Manuaba,  pernikahan yang dianjurkan berdasarkan sastra Hindu adalah satu wanita dan satu pria. Pernikahan dinilai sakral karena mengikatkan tidak hanya jasmani, tapi rohani atau atmanya.




“Dalam sastra Hindu sendiri tidak ada yang menjelaskan syarat dan cara melaksanakan poligami,”
tambah sulinggih dari Griya Agung Siwa Gni Manuaba, Denpasar kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) kemarin.



Selama ini dalm Hindu, lanjutnya, posisi yang dimuliakan itu adalah Sukla Brahmacari alias tidak menikah seumur hidup. Namun menurut sulinggih yang pensiunan dosen ini, seseorang yang hendak melakukan Sukla Brahmacari harus dari hatinya, bukan paksaan.




Selain Sukla Brahmacari,  ada Sewala Brahmacari, dan Tresna Brahamacari. Menurut Ida Pandita Mpu Daksa Acharya Manuaba, jika Sewala Brahmacari (menikah dengan satu orang saja) memang paling dianjurkan. Berbeda dengan Tresna Brahamacari (menikah sampai empat kali) tidak bisa dibenarkan jika umat melakukan itu, sebab dalam sastra Hindu tidak ada membahas Poligami.



“Melakukan Poligami itu lebih kepada pemuasan indriya alias kesadaran jasmani saja. Bukan untuk kesadaran atmannya,” ungkapnya.




“Sama dengan namanya selingkuh, demi kepuasan jasmani seseorang melakukannya, walau hati kecilnya tidak mau,” tambahnya.




Meskipun tidak mempunya keturunan, lanjutnya,  bahwa itu adalah 'drama' yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam kehidupan pasangan tersebut. Hal ini berkaitan dengan karma masa lalu si suami dan istri, sehingga bisa timbul kejadian itu di masa kehidupannya yang sekarang. “Semua kejadian yang dialami pasangan itu bisa terkait dengan karma masa lalunya. Ketika posisi itu dialami, dan jika memang bisa meberima,  tidak dianjurkan untuk Poligami,” paparnya.




Terkait dengan  menikah lagi alias poligami, karena  tidak punya keturunan,  Ida Pandita Mpu Daksa Acharya Manuaba menjelaskan akan ada hati yang tersakiti, yakni  istri pertama. Berbeda posisi  ketika si istri meninggal, maka si suami bisa menikah lagi. “ Kasus model tersebut  kan tidak Poligami  jadinya,” ucapnya.




Ida Pandita Mpu Daksa Acharya Manuaba menekankan, praktik Poligami adalah lebih menuruti keinginan indriya atau jasmani, sebab dalam sastra tidak ada cara melakukan poligami. "Akibat dari adanya si pria menuruti keinginan keasadaran jasmani, maka pengaruh dari kesadaran jiwa atau atman dalam dirinya akan berkurang. Inilah yang terjadi pada masa sekarang, orang lebih menonjolkan ke kesadaran jasmani. Sesungguhnya atman seseorang tidak menginginkan Poligami, sebab itu akan menyiksanya,” terang sulinggih yang pernah  mengajar di Fakultas Pertanian Unud, sebelum pensiun awal tahun 2020 ini.




Akibat dari Poligami yang dilakukan oleh seseoang, lanjutnya, atman dalam tubuhnya  akan menjadi kacau. Akibat dari kacaunya atman dalam diri manusia akan memengaruhi kehidupannya dan jasmaninya sendiri. Pikiran si manusia itu jadi mudah bingung,  kehidupannya pun jadi kacau balau juga. Banyak muncul efek ikutan lainnya,  pikiran kacau akan mudah sakit-sakitan. Mudah bingung ketika melakukan pekerjaan, efeknya rezeki menjadi berkurang dan akhirnya memengaruhi ekonomi keluarganya. “Begitulah dampaknya karena sudah melakukan dosa karena menyakiti hati istrinya, kehidupannya pun menjadi kacau,” terang sulinggih dengan nama welaka Prof Dr  Nyoman Sutjipta tersebut.




Ditekankannya, pengaruh akibat kesadaran atma yang telah kotor , akan membuat kesadaran jasmani menjadi kotor pula. Meski demikian, lanjutnya, pengaruh akibat kesadaran atma yang telah kotor, bisa dihilangkan dengan membersihkan pikiran dari segala hal negatif, salah satunya dengan  meditasi, sehingga pikiran menjadi bersih dan tenang. Jika Poligami tidak dianjurkan dalam Hindu, lantas bagaimana cara mencegahnya? baca seri berikutnya. (bersambung)



Editor : I Putu Suyatra
#sulinggih #hindu