BALI, EXPRESS-Pura Dalem Tamblingan di Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Buleleng mungkin tidak asing bagi penekun spiritual. Pura yang berlokasi di tepi selatan Danau Tamblingan ini, merupakan simbol harmonisnya pemujaan Purusa-Pradana atau Siwa-Wisnu. Sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran. Di pura ini juga ditemukan batu besar sebagai simbol Lingga Yoni yang disebut Bhatara Celak Kontong-Lugeng Luwih.
Pura Dalem Tamblingan sebagai Pura Kahyangan Jagat diempon Catur Desa Tamblingan, yakni Desa Adat Munduk, Desa Adat Gobleg, Desa Adat Gesing, dan Desa Adat Ume Jero, memang kerap didatangi pamedek dari berbagai wilayah di Nusantara. Mulai dari Bali, Jawa, Papua, Sulawesi, Kalimantan hingga Sumatera. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang datang karena pawisik (bisikan gaib).
Untuk mengakses Pura Dalem Tamblingan, memang butuh perjuangan. Ada dua jalur yang bisa ditempuh. Yakni jalur darat dan danau. Bila melalui jalur darat, maka pamedek bisa menggunakan kendaraan mobil dan sepeda motor. Hanya saja, meski hati-hati, sebab jalannya belum diaspal dan cukup bergelombang. Apalagi di samping kanan-kiri masih dipenuhi semak belukar. Jaraknya dari pos penjagan dengan Pura Dalem Tamblingan kira-kira tiga kilometer.
Sedangkan, bila melalui jalur danau, maka bisa menyewa perahu yang dikelola masyarakat setempat. Bila perjalanan dimulai dari pos penjagaan tepi Danau Tamblingan yang terletak di Dusun Tamblingan, Desa Munduk, maka butuh waktu 45 menit untuk menjangkau Pura Dalem Tamblingan. Tentu, rasa lelah mengayuh akan terbayar dengan indahnya panorama Danau Tamblingan.
Koran Bali Express (Jawa Pos Group) yang tangkil bertepatan dengan Tumpek Wayang, Sabtu (13/6) pagi, melihat ada sejumlah palinggih di pura yang pujawalinya setiap Purnama Sasih Kapat tahun ganjil. Jero Mangku Putu Kastawa merinci, gugusan palinggih tersebut diantaranya Palinggih Meru Tumpang Solas, Bale Saka Nem, Piyasan, Gedong Kerthajati, Taksu, Dukuh Balian Sakti, Palinggih Lingga-Yoni yang disebut Bhatara Celak Kontong-Lugeng Luwih, serta sejumlah bebaturan (batu besar) yang dikeramatkan.
Menurut Mangku Kastawa, pendirian Meru Tumpang Solas dilakukan karena pertimbangan pemerintah, bahwa Pura Dalem Tamblingan merupakan Pura Kerajaan Dalem Tamblingan untuk memuja Ida Bhatara Dalem Bahem atau Ida Bhatara Siwa Murti.
Kemudian, Palinggih Gedong Kerthajati didirikan berdasarkan pawisik niskala, bahwa di Pura Dalem Tamblingan berstana Ida Bhatara yang memberi kesejahteraan krama Tamblingan. Sedangkan Bale Saka Nem, Piyasan, Taksu maupun Palinggih Pecalang didirikan mengikuti tradisi pura di Desa Adat Gobleg.
Dijelaskan Mangku Kastawa, Pura Dalem Tamblingan sebagai kahyangan jagat tertua. Sebab, tidak ditemukan Palinggih Padmasana. Bahkan, palinggih di Pura Dalem Tamblingan ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1927 silam.
“Memang mengarah ke Waisnawa atau Wisnu. Namun, palinggih Celak Kontong Lugeng Luwih juga sebagai simbol dari Siwa. Jadi, ini sebagai bentuk harmonisnya Purusa Pradana, Siwa-Wisnu,” ujarnya didampingi Jero Made Mangku Wiria.
Pemujaan Lingga Yoni di Pura Dalem Tamblingan sebagai personifikasi Siwa-Wisnu, disebutnya telah dimulai sejak abad XII, saat pemerintahan Raja Jayapangus. Selain itu, pemujaan Lingga Yoni di pura ini ditunjukkan dengan dipakainya batu alami yang dikenal dengan batu Salaghrama sebagai Lingga Yoni.
Batu Salaghrama dipandang sebagai personifikasi Wisnu, juga dipakai sebagai Lingga yang merupakan simbol Siwa. “Meskipun media utamanya yang dipakai adalah air, banten Sesayut yang mengisyaratkan sebagai pemujaan Wisnu. Tetapi, pemimpin spiritual dalam pemujaan Lingga Yoni di Pura Dalem Tamblingan disebut Siwa,” ungkapnya.
Dikatakannya, pamedek yang nangkil memang lebih banyak karena pawisik. “Ada yang datang untuk meminta kesembuhan karena sakit non medis berkepanjangan. Ada yang nunas keturunan, termasuk meminta kesuburan dan memohon hujan agar tanaman para petani tetap menghasilkan,” terangnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya